Pemimpin dan Komunikasi

Pemimpin dan komunikasi adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Pemimpin tak akan bisa mengkoordinir yang dipimpinnya tanpa ada kemampuan untuk berkomunikasi secara baik dengan yang dipimpinnya. Maka tak salah jika orang yang akan dipilih jadi pemimpin adalah orang yang mempunyai bakat untuk berkomuniksi dengan khalayak secara baik.
Pemimpin karena tugasnya sebagai pimpinan maka komunikasinya sering kali berbentuk vertikal; dari atasan ke bawahan. Pemimpin mempunyai wewenang untuk memerintah, melaksana, membebankan tugas kepada bawahanya. Bawahan sebagi orang yang dipimpin dan memiliki pemimpin berkewajiban untuk memenuhi perintah atasannya.
Namun kadang kala ada komunikasi yang terjadi antara pimpinan dan bawahan tidaklah berjalan mulus sebagaimana mestinya. Ada perintah yang tidak terlaksana, bahkan sengaja tidak laksana, asal dikerjakan oleh bawahannya. Hal ini terjadi lantaran cara pemimpin mengkomunikasikan perintahnya tidak berkenan dihati yang dipimpinnya. Pemimpin tidak berkomunikasi dulu dengan bawahannya ketika memutuskan sesuatu, tidak memberikan pemahaman, memutuskan sesuatu tanpa perhitungan dan berbicara seenaknya adalah beberpa contoh dari style ketidak beresan komunikasi seorang pemimpin yang berujung pada hal seperti itu tadi.
Dalam sebuah rapat di salah satu perusahaan produksi seorang pemimpin mengemukakan idenya. Idenya itu berupa pemberlakuan tidak diperbolehkannya karyawan makan siang di luar saat jam istirahat, karyawan hanya diperbolehkan untuk makan siang di sekitar lokasi produksi –kantin yang juga dikelola oleh perusahaan-. Dengan alasan untuk menghemat waktu sekitar 30 menit bagi karyawan untuk berjalan keluar, waktu 30 menit ini dapat digunakan karyawan untuk mengoperasikan kembali mesin-mesin produksi. Salah seorang jajaran direksi sempat memberi masukan agar karyawan jangan terlalu dikekang kebebasannya “toh jam istirahat juga” takut nanti menurunkan vitalitas kerja karyawan. Sebenarnya usulan itu juga didukung oleh yang lain namun karena sang pemimpin telah ketuk palu, mengabaikan saran dan meganggap keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik makanya semuanya terpaksa diam.
Lalu setelahnya apa yang terjadi? 30 menit penghematan waktu untuk meningkakatkan kualitas produksi adalah 30 persen omset perusahaan menurun karena turunnya hasil produksi. Para karyawan yang biasanya bisa rileks dengan sekedar jalan keluar, ngobrol ringan sambil jalan menjadi tidak punya vitalitas kerja karena pembatasan ruang untuk istirahat sehingga performa kerjanya menurun. Lalu siapakah yang harus disalahkan sang pemimpin?
Ilustrasi diatas hanyalah sekedar contoh, bayangkanlah kalau itu memang benar-benar terjadi hanya karena etika komunikasi pemimpin yang bermasalah, rapat tapi mengambil dan memutuskan keputusan sendiri. Pemimpin apapun kita, pemimpin perusahaan, yayasan, sekolah, pemimpin rumah tangga, ataupun hanya sekedar ketua kelas di kelas saja haruslah memerhatikan etika komunikasi ini. Jangan seenaknya berbicara dengan kuasa kita, pikirkan orang yang kita pimpin adalah manusia. Atau jangan-jangan kita termasuk orang yang serakah, walaupun bukan dalam hal mengumpulkan harta seperti kata seorang filusuf “orang yang serakah adalah orang yang tak mau mendengarkan orang bicara”.
Akhirnya, memang benar pemimpin memiliki kekuasaan untuk memaksa namun pemaksaan tidaklah cocok dijadikan sebagai cara. Pemimpin yang baik bukanlah memerintah akan tetapi membuat pekerjanya merasa bertanggung jawab akan kerjanya yang sudah barang tentu dengan adanya komunikasi harmonis yang lebih dulu tercipta.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s