Aku dan Kupu-Kupu Putih

Kupu-kupu putih menari indah, memamerkan eksotika sayap-sayap kecil nya dihadapan tamu bangsa yang sedang memperingati upacara kemerdekaan RI ke 65 pagi itu di ibu kota. Sebab apa mereka hadir dan bertebangan rendah di sana, di detik-detik peringatan hari bersejarah itu.. Ah, mungkin saja kupu-kupu itu mengenang kembali peristiwa berdarah-darah pada dekade dimana Indonesia di jarah dan di jajah oleh bangsa-bangsa serakah. Sampai sayap kecilnya pun terbatas geraknya ketika itu. Kupu-kupu hendak menyampaikan segenap penghargaan dan terimakasihnya kepada para pahlawan bangsa. Pahlawan yang telah menjaga bunga-bunga tetap tumbuh merekah di tengah sahara penjajah, bunga-bunga tempatnya meyelinap dan juga berbagi kehidupan.
Tahukah kau kupu-kupu putih, itulah yang membuat aku tertawan ketika menyaksikan acara kenegaraan yang dipersiapkan sedemikian rupa itu. Bukan melihat bagaimana elgannya pejabat-pejabat bedasi duduk di singgasana kehormatan istana negara ini. Juga bukan dengan sederetan parade yang dimainkan para perwira militer atau gerak rempak siswa-siswa pilihan dari seluruh penjuru negeri yang tergabung dalam tim 17, Sembilan ataupun 45. Apalagi dengan pidato yang dari tahun ke tahun disampaikan kepala negara.
Yang aku dan kau lihat ketika halaman masing-masing rumah, perkampungan nelayan, tempat mangkal para gelandagan atau di tempat lokalisasi penjaja harga diri meriah dengan warna sang saka pada 17 agustusan, refleks mereka mengibarkan bendera dan pernak perniknya, menghias pagar-pagar bambu dengan warna yang sama. Juga ramai lembar-lembar kain yang juga berwarna senada dijaja di lapak-lapak pinggir jalan oleh para pencari peruntungan hidup. Meski mereka tak tahu pasti untuk apa mereka melakukan itu semua. Apakah benar-benar utuk merayakan kemerdekaan sejati untuk hidup mereka atau hanya sekedar rutinitas untuk sebuah identitas kebangasaan yang ramai dikhianati oleh tuan, nyonya yang katanya negarawan.
Kupu-kupu putih masih bersilewaran, sampai akhirnya ia harus pamit terbang meninggalkan lapangan tempat tamu dijamu dan dipertuankan. Dia harus menyelinap kini ke balik barisan kuntum anggrek yang rapi perawatan. Ia harus terbang, saat orang-orang dengan latah bercengkrama, membahas investasi, proyek, devisa, mata uang, dan kabar remeh temeh tentang secangkir kopi yang tadi pagi lupa dikasih gula oleh pelayan. Sementara di sudut-sudut negeri, sana-sini menyeringai kesakitan. Ah, pembicaraan itu terlalu emosional untuk di dengarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s