Bersegeralah Saudara

Kesulitan, salah satu yang membuat manusia digolongkan ke dalam dua sisi. Sisi pertama orang yang menjadi tertempa ketegarannya dengan berbagai kesulitan itu. Kedua, orang yang menjadi putus asa dengan kesulitan yang kerap melanda hidupnya, kesulitan jua yang menjadikannya berpaling dari Tuhannya, meyalahkan Tuhan atas takdir hidup yang belum lagi dijalani sampai ke penghujungnya. Padahal mungkin diujung bukan main indah takdirnya namun karena terlanjur berpaling maka merugilah.

Hidup dengan kesulitan memang tidaklah mudah. Ada yang tegar menghadapi keberadaannya diawal taoi kalah diakhirnya. Dibalik itu semua percayalah bahwa sebenarnya ia datang sia-sia belaka. Semuanya hadir untuk memisahkan hamba Nya, mana yang benar keteguhannya, dan mana yang tidak, layaknya penambang yang menempah emas dan tembaga agar terpisah keduanya. Dia juga hadir untuk memberi kesempatan berbuat bagi orang di sekelilingnya. Seberapa jauh kepedulian dan kesungguhan kita membantu meringankan beban saudara. Seberapa layak kita disebut sebagai hamba yang memilki iman sempurna dalam rangka cinta pada saudara.

Seorang kawan mengeluhkan betapa susahnya ia melanjutkan kuliah di detik-detik terakhir perjalanan kemahasiswaannya. Keterbatasan dana, sulitnya proses di kampus, masalah-masalah yang menimpa membuatnya selalu tak berada di dunia sepenuhnya, pikirannya terbang bersama kesulitan hidup yang dijalani. Berulang kali terlihat wajahnya memelas dan serta merta bercerita pada rekannya. Hingga pada akhirnya ketika tak satupun solusi yang ia temui, ia meyerah.
Kawan, menjadi pendengar atas kesulitan-kesulitan yang diceritakan orang lain adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk membantu saudara. Tapi jika dapat berbuat lebih kenapa kita tak segera melakukannya. Setidaknya menjadi jalan bagi terbukanya solusi atas kesulitan yang menghimpitnya, jangan ragu menghulurkan tangn tanpa dipinta.
Kawan, terlalu naïf rasanya berdekat-dekat dengan seseorang yang memiliki kesulitan hidup namun tak membuat kita tergugah karenanya. Jika mau mendengar cerita saja mungkin orang tersebut memang berterima kasih tapi apakah kita mau jadi penikmat cerita saja. Apalagi jika sebagai seorang saudara tak pernah mendoakannya, mendoakannya agar kuat menghadapi masalah, dan ujian-ujian hidupnya. Mendoakannya agar diberi jalan keluar.
Kawan bersegeralah menjadi pundak untuk saudara, saat itu masih bisa kita lakukan, saat orang tersebut masih merasa kita adalah saudara baginya. Jangan biarkan sang saudara terjerembab dan merasa berhutang budi pada orang yang salah, pada orang yang punya maskud atas pertolongannya. Bersegeralah sebelum saudara kita dalam hati berucap “kalian dimana ketika badai kesulitan hidupku menerpa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s