Bocah Besi

Banyak orang yang kemudian memilih pilihan hidup yang berbeda, lebih karena kebutuhan dan desakan hidup yang memaksa. Kadang pilihan hidup itu sangat aneh, sangat jarang dilakoni orang-orang, dan kadang terlalu beresiko. Jikalah pilihan hidup itu ditujukan pada orang dewasa saja yang telah memilki pengalaman mengecap pahit manis kehidupan mungkin itu tak terlalu bermasalah. Namun jika yang harus melakoni pilihan yang un common itu adalah bocah yang mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, itu yang jadi soal dalam kaca mata kita.
Bocah besi, bocah yang menghabiskan jeda-jeda waktu sepulang sekolah dengan memulung besi dengan cara yang mungkin tak terbayangkan dibenak kita selama ini, bahkan mungkin orang dewasa saja tak sanggup menjalaninya. Di bilangan kota Batam, bocah besi beraksi, menyelinap di pinggir jalan untuk mengintai targetnya; yaitu truk yang membawa sisa-sisa besi pabrikan yang akan dikumpul dan diolah di tempat penampungan.
Jika truk-truk itu sudah lewat, dengan gesit ia membelah jalanan beraspal, mengabaikan alur lalu lintas kendaraan yang siap mengintai nyawa mereka. Menaiki bak belakang truk , dan mengutip besi-besi yang dapat diambil lalu di berikan kepada temannya yang berada di bawah untuk kemudian di sembunyikan di parit jalan sebelum dijual kepada pengumpul.
Entah apa yang ada dibenak bocah besi, yang jelas pekerjaan itu dilakukan demi membantu ekonomi keluarga. Seolah mereka tahu benar kalau itu adalah kewajiban yang harus mereka emban layaknya orang dewasa yang mencari nafkah untuk anggota keluarganya. Dari besi yang berhasil didapatkannya, bocah besi mendapatkan sekitar 50 ribuan jika melakukan kegiatan itu siang sepulang sekolah, jika dari pagi biasanya bisa sampai 100 ribuan. Hasil jerih payah bertaruh maut itu diberikan kepada orang tua sesampai di rumah.
Kita yang tak biasa dengan hal seperti itu tentunya tak bisa membayangkan bagaimana bisa orang tua sampai tega menerima uang hasil jerih payah bertaruh nyawa anak yang menurut usia seharusnya ada dalam tanggungan dan lindungan orang tua. Apakah jeratan terpaksa telah sangat kuat menjerat leher orang tua? Tak perlu dibahas itu sebab masing-masing orang punya alasan tersendiri yang privasi tapi lebih banyak basi. Tapi alangkah lebih bijak, apapun alasannya seharusnya orang tua selagi masih mampu bertumpu di kedua kaki tak seharusnya membiarkan anak seperti itu.
*********
Bocah besi masih mengintai truk-truk yang lewat, agar tak ketahuan oleh sopir, bocah besi harus main kucing-kucingan dulu dengan keadaan, kemudian dengan cepat melesat bergelantungan di penghujung bak truk. Tanpa ragu menghadapi kemungkinan jatuh lalu diserempet kendaraan, atau resiko lainnya. Bocah besi, perlahan benar-benar menjelma menjadi judul yang dipakai “bocah besi”, kebal akan kerasnya hidup dijalanan dan kebal terhadap keadaan.
Bocah besi haruskah terus bergelantungan di bak truk-truk yang bersilewaran di jalanan? Sampai kapan masa kanakmu terserabut oleh pilihan hidup yang sebenarnya pahit itu? akankah kita menjadi relawan yang mengembalikan keceriaan kanak mereka atau kita memang sama-sama merasa selesa (nyaman) dengan keadaan itu dan terus mengabaikannya. Padahal banyak yang bisa kita lakukan sebenarnya, sebisa dan semampu kita dan dengan cara kita. Sekedar memberi tahu dan membaginya kepada sesamapun itu sudah cukup karena akan ada orang yang mendengar dan jika mereka mampu serta terpanggil jiwanya pasti juga akan mereka bantu tentunya dengan cara mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s