Cerita dan Luka

Manusia adalah homo narrans, makhluk penutur cerita kata ahli komunikasi Walter Fisher yang dikutip oleh sebuah majalah Islam. Yang mana cerita tak selamanya dalam bentuk tutur, tapi juga dalam rangakaian abjad-abjad tertulis, ataupun tergambar dalam pantomin hidup sehari-hari.
Seseorang jika suka bercerita lisan maka ditiap kesempatan dia selalu butuh akan orang-orang yang mendengar ceritanya. Kadang tak peduli apakah orang tempatnya bercerita telah lama ataupun baru dikenal.
Kemudian orang-orang yang menjadikan tulisan sebagai tempatnya bercerita selalu butuh menuangkannya ke dalam lembaran-lembaran kertas, atau apapun yang bisa menggantikan fungsi kertas tadi, diapun butuh pembaca walau tak semua yang menulis mengizinkan tulisannya ramai dibaca.
Bagi mereka yang tidak menganut kedua-duanya maka gerak, tindak-tanduk adalah ceritanya. Cerita kegembiraanya dituturkan lewat gerak-gerik lakunya yang bak bunga, semerbak, begitupun kegundahan yaitu dengan perilaku sebaliknya. Kemarahan lewat caranya memperlakukan benda di sekitarnya. Biasanya apaun yang digandrungi seseorang, apa yang menjadi pilihan, dan apa yang menjadi ketidak sukaanya itulah yang diceritakannya.
Disuatu kesempatan senggang, guru-guru yang berstatus ibu muda bercerita tentang perilaku si kecilnya, kebandelan mereka, kepandaiaan baru mereka, dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan si anak. Cintalah yang membuat guru-guru tersebut bercerita tentang anak-anak mereka. Asyik bercerita seorang guru yang mendengarkan cerita itu dengan air mata yang tak tertahan berlalu keluar, tak kuasa beliau mendengar cerita tentang anak-anak itu karena mengingatkannya pada buah hati satu-satunya yang telah tiada. Ingatan itu masih segar, sebab belum lama berlalu.
Kawan, bercerita tidaklah salah tapi lihat-lihat dulu situasi, suasana dan lawan bicara dan orang-orang yang terlibat dalam pembicaraan tersebut. Kita memang berhak bercerita apa saja, tapi orang lain juga punya hak untuk dijaga perasaannya. Hati-hatilah dalam bercerita, jangan menyinggung hal-hal ‘rawan’ yang akan menyentuh luka. Setelah orang bersangkutan susah menjahit luka itu, jangan sampai jahitannya menganga oleh kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s