Cobalah Rasa

Upah dan kerja adalah bahagian yang kena mengena satu sam lainnya. Ada upah ada kerja, bukan ada kerja tak ada upah, juga bukan sebaliknya tak ada kerja ada upah.
Tak ada yang lebih menggembirakan jika seseorang menerima upah sari hasil keringatnya. Walau akhirnya upah itu jarang sekali mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Apapun, persembahan dari hasil keringat, itulah yang membuat upah seberapapun itu jadi bermakna.
Dibalik upah itu ada cerita. Ada upah yang tak pernah diterima, dibayar oleh majikan, seperti nasib tenaga kerja yang diperas tenaganya, jadikuda beban kemudian tapi kemudian dipenjarakan dengan berbagi alas an yang dibuat-buat. Ada pula yang sampai kerigat itu mongering upah masih juga belum bisa diterima.
Telah mendekati tanggal dua puluhan, artinya hamper 20 hari bulan muda berlalu-musimnya -gajian- seorang karyawan belum juga menerima upah dari hasil kerjanya. Sebenarnya betapa terjepit hidupnya di hari-hari itu tapi harus bagaimana. Dulu berulang kali dia meminta agar gajinya diperhatikan namun sampaik sekrang tak jua dipenuhi.
Bendahara yang mengurus gaji tanpa memberikan sepatah alasanpun seenaknya saja memberi gaji jauh dari tepat waktu itu. Padahal diantara orang-orang itu ada yang benar-benar butuh upah dari hasil keringatnya. Sang bendahara tak paham, entah tak punya hati, entah tak mau melihat orang senang, enggan mencicil kerja hingga mengumpulkan semua data keuangan dulu baru dibukukan. Selama keuangn belum dibukukan jangan harap upah karyawan dikeluarkan meski tanggal telah menyentuh penghujung bulan.
Kawan jangan dikira taka pa-apa yang kita lakukan, menahan upah kerja orang. Hanya gara-gara tak mau kerja dua kali, sensitivitas kita telah kalah untuk merasakan perasaan orang lain. Membiarkan keringat orang bersimbah tanpa memedulikan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Mungkin orang itu melilit kelaparan gara-gara yang kita laukan; efisiensikerja kita tapi celaka bagi banyak orang.
Akhirnya kawan cobalah rasakan. Posisikan diri untuk menjadi orang lain agar terasa. Atau kita ingin Tuhan campur tangan agar kita merasakannya juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s