Galia

Menimbang tidak penuh, untung ingin besar, dan berpantang rugi. Begitu jika sifat galia (curang) telah melekat pada diri seseorang. Mulanya hanya dari hal-hal yang kecil “Ah biarlah hanya dikurangi seangin, tidak apa-apa sebab pasti pembeli tidak akan tahu” hingga kecurangan seperti ini telah menjadi suatu kebiasaan. Tidak itu saja, bentuk kecurangan yang lain adalah mengurangi timbangan dengan tujuan mengurangi harga dari harga pasaran. Dengan mengurangi 2 ons dari 1 kilogram maka harganya bisa ditekan dari harga penjual lain. Apalagi jika buah-buhan menemui musimnya. Cobalah pembaca membeli buah-buahan di pusat penjualan buah di pasar raya pasti akan ditemui hal seperti ini. Dalam praktek inilah muncul istilah plesetan sekilo menjadi sekila.
Tak pelak lagi, transaksi jual beli ini menimbulkan kekecewaan dari para pembeli. Keluh bernada kecewa sampai pada umpatan-umpatan serapah kerap terdengar dari pembeli yang mengetahui timbangannya dicurangi atau kalau barang yang dibelinya ternyata tidak dalam kondisi yang dikatakan oleh penjual sewaktu dia menjual. Sebagian pembeli yang tidak puas ada yang kembali mendatangi penjual dan meminta pertanggung jawaban. Tapi lagi-lagi penjual yang galia akan berkilah macam-macam.
Di zaman ini hampir dimana-mana akan ditemukan hal yang serupa meski dalam bentuk dan praktek yang berbeda. Tapi yang jelas perilaku galia ini dilatari oleh motif yang sama; mencari keuntungan yang besar dengan kerja yang mudah, ingin yang enaknya saja, dan ambisi-ambisi yang tak terkendali itulah sebabnya. Maka para elit yang bermain kotor juga termasuk kedalam kategori orang-orang yang bermental galia ini. Bedanya jika pedagang menjual dagangannya maka para elit menjual janji-janjinya, diobral lagi! Terkadang kita berpikir kepada siapa lagi kita akan percaya.
Ya begitulah mental galia menyeret pelakuanya dari perbuatan tercela ke perbuatan yang tercela lainnya. Dikira diri akan beruntung, alamat hidup tak akan tenang sebab bagaimana bisa tenang jika ada hati yang berkata-kata, ada was-was dalam dada kecuali memang bagi orang-orang yang telah dibutakan nuraninya. Ingatlah orang-orang yang tertipu oleh perbuatan kita tentunya akan terzalimi. Kata-kata dan doa orang yang terzalimi merupakan kontribusi yang akan membalasi perbuatan kita. Bukankah dalam kalam terbentang telah disampaikan “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orangyang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi”(83:1-3).
Kita orang minang (kalau yang minang) rata-rata mengadu peruntungan dengan berdagang, yang seantaro jagad tahu kalau darah minang adalah pedagang. Maka sudah sepantasnyalah kita menjaga kultur kita karena tentunya mereka (saudagar minang yang telah sukses) tidak akan mungkin berjaya seperti adanya mereka sekarang kalau mereka tidak jujur dengan perniagaannya. Tentunya mereka tidak akan pernah dipercaya sedang modal dari kepercayaan adalah kejujuran. Kita juga punya falsafah adat: Adat basandi syara’ syara’ basandi kitabullah itu adalah identitas yang jangan sampai kita lupakan. Terakhir, ada satu paradigma yang memang sudah sepantasnya dirubah agar bisa meminimalisir ambisi-ambisi yang mungkin tak terkendali dalam diri kita bahwa keuntungan sebenarnya bukan dilihat dari seberapa banyak hasil yang didapat tapi dari seberapa banyak berkah yang mengalir dari sana. Semoga kita dapat menghindari diri dari berbuat galia. Wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s