Katanya Cinta

Cinta katanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dia hanya bisa di rasa dalam hati yang saling memiliki cinta. Cinta membuat segala seperti taman penuh dengan bunga-bunga, menjadiakan derita tidak ada apa-apanya. Menjadikan hari-hari seperti tak ada rongga ubtuk sebuah duka, semuanya hanya suka cita, hingga terkadang lapar perutpun tak terasa karena setiap aliran darahnya telah dipenuhi cinta. Mendaki Himalaya, menyeberangi samudera demi cinta. Begitulah kata-kata yang dipakai oleh para pecinta saking tak bisanya cinta itu dideskripsikan dengan kata.

Namun benarkah? Meski semua orang mengaku cinta tapi jika semua itu tak nampak pada realita, apakah itu yang dinamakan cinta. Seorang yang punya cinta pasti terefleksikan dalam setiap kesehariannya, bahkan pada hal-hal yang kecil. Cinta anak pada orang tua misalnya tak akan mungkin dikatakan cinta jika sehari-hari melakukan apa yang tidak orang tua sukai. Seorang pecinta tentunya tak akan berlawanan dengan yang dicintanya kan? Cinta, cintalah yang membuat orang tua selalu memindai anak-anaknya dengan rasa kasih yang menjadikan cintanya tak terputus, tak terbalas, tak terperi. Dan rasa inilah yang yang harusnya ada pada setiap pecinta. Dengan rasa ini ada jaga, menjaga, ada tulus, ada pengorbanan, ada kebaikan-kebaikan lainnya. Barangkali inilah sebabnya kenapa sering kali banyak cinta itu yang hanya setengan jalan. Karena tak ada kasih di dalamnya, jika pun ada hanya sedikit.

Di usia yang masih kepala tiga seoarng isteri telah nampak kerut-kerut lelah di wajahnya. Cerah wajahnya meredup dalam lelah. Setiap hari harus mengurus anak yang masih kecil, usianya masih terhitung bulan. Sampai malampun harus berkali-kali terjaga dengan tangisan momongannya, begitu selalu dari hari ke hari. Membuatkan susu isteri terjaga, mengganti popok, menidurkan, mengawasi buah hati dari nyamuk yang tiba musimnyapun isteri harus terjaga. Apalagi jika isteri juga menyempatkan diri tengah-tengah malam masak agar untuk menjaga nanti pagi bisa mengurus bayi yang lebih duluan bangun.

Lalu si suami dimana? Lelap tidur dengan kepenatan yang dirasa setelah seharian bekerja, bahkan sengaja membangunkan isteri jika isteri tertidur pulas hingga tak mendengar rengekan bayinya. Tak ada penggantian peran yang dilaksanakan suami, merasa lelah sendiri tapi tak ada kasih melihat isteri berjaga sepanjang malam mengurus buah hati.

Kawan sekedar mengaku cinta itu bisa tapi bisakah kita merasa, merasa cinta itu dengan rasa kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s