Kita Bisa Tidak

Kesalahan besar manusia adalah berasal dari tatapan. Betapa tidak, banyak kita yang melihat sesuatu secara kasat mata saja. Kemudian memandang sebelah mata dan meremehkan orang-orang yang terlanjur kita lihat dengan kaca mata kuda kita.

Melihat orang lain yang serba kekurangan, memiliki keterbatasan fisik, atau malah kita lebih melihat pada penampilan fisik semata dengan serta merta kita menyimpulkan orang tersebut tak meyakinkan, tak bisa berbuat apa-apa. Kita menyimpulkan apa yang baru saja kita lihat dengan menjudge tanpa pembuktian.

Dalam dongeng tentang serigala dan landak disebutkan tentang berbagai macam kepandaian dan trik-trik yang dimiliki serigala untuk membunuh dan memangsa landak. Landak yang tak bisa berbuat apa-apa hanya punya satu cara untuk bertahan yaitu dengan berdiam, lalu menggulung dirinya. Denagn cara seprti itulah duri-durinya berfungsi maksimal dan bisa bertahan dari serangan serigala. Hingga pada akhirnya landaklah yang menang. Seorang filusuf dan teolog Belanda Desiderius Teramus merumuskan kisah itu dalam satu kalimat bijak. Serigala punya banyak trik, landak punya satu. Tapi trik landaklah yang terbaik dari segala trik.

Serigala yang cerdik pasti beranggapan dapat mengalahkan landak yang dianggapnya tak berdaya dan tak ada apa-apanya itu. Serigala lupa dalam semua kelemahan landak itu ada satu kekuatan tersembunyi yang tidak diketahuinya. Dan kekuatan itulah yang mengalahkan sang serigala.

Begitulah dengan kita kawan, kita yang menilai orang-orang dengan kelemahan yang dimilikinya, merasa di atas angin atas segala kelebihan kita. Padahal kelebihan kita jika dibuktikan tak ada apa-apanya dari orang-orang yang kita anggap sebagai kekurangan, bahkan membuat kita tak bisa apa-apa dibandingkan orang-orang tersebut. Lihatlah Bethoven, sang composer musik kelas dunia, dalam bidang yang sangat membutuhkan indera pendengaran dia mampu menciptakan harmonisasi luar biasa meski pendengarannya tidak berfungsi. Dia telah mengalahkan orang-orang yang memiliki apa yang tidak ia miliki, yaitu pendengaran.

Ataukah kita lupa pada seorang pianis Korea Selatan, nona Lee yang jari jemarinya tidak sempurna dan kakinya yang hanya sampai lutut. Dia sanggup memainkan piano, alat musik yang tergolong rumit dalam menguasainya itu. Kita yang memilki jari-jemari, anggota tubuh yang sempurna bisa tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s