Menangkanlah Hati Kita

Menang adalah kata-kata yang dipakai untuk menyatakan keberhasilan mengalahkan sesuatu. Untuk menang harus ada yang dikalahkan, memenangkan pertandingan harus dengan mengalahkan lawan, memenangkan kebenaran harus mengalahkan kebathilan, memenangkan diri sendiri harus mengalahkan keburukan. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa menang berarti mengalahkan sesuatu meski mungkin dengan rendah hati seseorang yang berkompetisi, lalu menang mengatakan “tak ada kalah dan menang, ini soal waktu saja” tapi tetap saja kan ada yang dikalahkannya, walau yang kalahpun sebenarnya juga menang jika saja yang kalah dapat mengalahkan keterpurukan dan memenangakan kepercayaan dirinya.
Secara kasat mata kemenangan dapat kita lihat misalnya kemenangan dalam sebuah pertandingan. Apalagi jika pertandingan itu berskala dunia. Ada banyak dukungan untuk pemain dari supporter negara masing-masing, ada euforia nasionalisme yang hadir meski di hari-hari biasanya rapuh dan acuh kepada bangsa. Semuanya demi kemenangan. Berlomba-lomba media memanduk sorak sorai penonton di seluruh penjuru negeri, ada komentator yang puji memuji dalam mengomentari pemain bangsanya yang baik dan bisa mengalahkan lawan. Euphoria itupun makin terasa saat kemenangan benar-benar menjadi milik negaranya
Namun sebaliknya jika telah kalah, maka keluh lidah menyesalkan peforma pemainnya yang dianggap buruk hingga timnya kalah. Ramai-ramai komentator memelas menyayangkan tindakan pemain yang tek segesit biasanya. Ramai-ramai pula kita mengatakan tak ada yang bisa diandalakan “masa gitu aja tak bisa” kekalahan menjadikan semua keadaan berputar balik. Pemain yang dielu-elukan jadi bulan-bulanan penyesalan “gara-gara si ini si itu tak maksimal”
Diawal pertandingan piala AFF 2010 indonesia adalh negara yang patut berbangga sebab kemenangan demi kemenangan dapat diraih hingga kita dapat lolos ke babak penyisihan. Betapa supporter menyanjung pemain kesayangannya. Komentator memuji langkah 4-2-2 yang diterapkan sang pelatih kepada pemainnya “dulu-dulu komentator itu kemana sih, kok baru berkomentar sekarang?” kata seorang kawan yang kebetulan sama-sama menonton pertandingan tersebut. Namun situasi berubah ketika di detik-detik akhir penentuan jawara, Indonesia dikalahkan oleh Hariamau Malaya. Semuanya jadi terbalik; penonton menyesalkan pemainnya yang kehabisan stamina, komentataor menyalahkan pelatih yang tak mau merubah strategi dan sebagainya.
Kekalahan memang mengundang kecewa, kalau ditanya pemain tersebut pasti ingin mnag, pasti ingin melakukan yang terbaik agar kemenagan tetap bersama kita. Kecewa wajar, namun yang disayangkan adalah sikap kita menang dipuji, kalah dicaci. Apapun keadaanya kalau kita sudah memberikan suatu dukungan, jangan pernah berubah. Yang terpenting adalah yang kita dukung telah melakukan yang terbaik dari yang mereka bisa. Jikapun ada kesalahan jangan menjadikannya ucapan dan tindakan yang menohok perasaan orang lain.
Kawan dalam hidup keseharian kitapun mungkin pernah melakukan hal serupa menang dipuji kalah dicaci, cuman dalam konteks yang berbeda. Seorang ayah misalnya ketika usahanya bisa memanjakan keluarga istri dan anak-anaknya, semuanya menyanjung dan membanggakannya. Tapi kemudian ketika keadaan berbalik, sang ayah mengalami krisis dalam usahanya, keluarga yang harusnya menopang sang ayah dari keterpurukan malah berpaling meninggalkan. Kawan alangkah sedihnya jika kita mengalami hal tersebut. karenanya kawan menagkanlah hati kita di atas semua. Hati yang menanglah yang membuat apa yang dulunya kita rasa tak jadi berubah hanya karena sesuatu yang tak berdasar itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s