Penghargaan yang Belum Sempurna

Menghargai adalah bagian dari kepribadian/sikap kita sebagai manusia. Ia akan hadir hanya pada orang-orang yang mengerti, memahami dan memiliki kehalusan budi. Ia tak diperoleh begitu saja, melainkan melalui pembiasaan-pembiasaan. Pembiasaan-pembiasaan yang sebenarnya dari lingkup keluarga. Meski secara tak sadar, keluargalah yang lebih berperan dalam menentukannya. Keluarga yang memilki kesantunan, memberi bahan dasar ajar kepada keturunannya, tak perlu dikatakan harus begini dan begini, tapi cukup ditampilakn , dan itu yang lebih berpengaruh dalam membentuknya.
Awalnya mungkin kita tak pernah diberi tahu oleh orang-orang terdekat (keluarga) untuk mendengarkan orang lain bicara, namun kenapa pada akhirnya kita tahu dan melaksanakannya? Bukankah itu karena apa yang kita lihat dan kita alami sehari-hari di rumah. Saya membayangkan bagaimana dengan anak-anak kecil yang terbaisa tak didengar kata-katanya; rengekan bayi misalnya (walaupun belum bisa bicara) namun rengekan adalah bahasanya untuk menyampaikan sesuatu. Bocah yang duduk di bangku kanak-kanak sibuk bercerita tentang permainannya tanpa tanggapan apa-apa dari kedua orang tuanya lalu menyurutkannya untuk bercerita dengan ucapan “bising saja, diamlah”. Jika tak ada yang menetralisirnya diapun akan menjadi serupa; tak mendengarkan orang lain bicara.
Namun menghargai bukanlah sebatas pada hal lumrah nan besar skopnya, ia pun juga punya detail-detail kecil yang kadang kal tak terpikir oleh kita. Detail kecil, ibarat jarum yang bisa meledakkan balon besar penghargaan kita sebagi seseorang. Seorang anak bagi orang tua, seorang adik bagi kakak atau sebaliknya, seorang isteri bagi suami, seorang teman bagi kawan dan yang lainnya.
Pasangan suami isteri yang sedang santai menonton TV tiba-tiba gaduh karena sseuatu; sang suami (maaf) buang angina yang bunyi dan baunya lumayan. Mungkin sang suami berpikir saat itu, buang angina kan depan isteri yang sehari-hari bersamanya. Tapi tak pernahkah kita bertanay sanggupkah kita melakukan hal tersebut di depan tamu yang kita sendiri ‘tak kenal itu siap’, tak ada hubungan kekerabatan atupun bathiniah. Jiak tak sanggup, kenapa bisa bisa kita melakukannya di depan orang yang kita ‘kenal’ dan kita sayangi, kenapa memberinya ketidak nyamanan itu. Jika pada orang lain kita berdalih segan tapi tak pantaskah rasa segan itu juga teruntuk yang terdekat dengan kita. Bukankah rasa segan terkadang lahir dari penghormatan, dan penghargaan. Kita segan untuk berbuat negatif dengan pemimpin kita misalnya, itu karena penghormatan dan penghargaan sebenarnya. Lah ini? Apa pula jadinya nanti kalau anak-anak kita melakukan hal yang sama dan beralasan “ayah fimana?”
Kawan, hal-hal kecil namun itulah yang sering kali membuat suatu hal jadi tidak purna. Menghargai detail-detail kecil inilah awal kita mempersembahkan penghargaan lebih tinggi sebab mana kala detail-detail kecil itu dikumpulkan, pasti dia akan terlihat indah dan lrbih bermakna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s