Penghormatan Tanpa Bayaran

Manusia sebagai apapun pasti ingin dihormati; ayah ingin dihormati anak-anaknya , guru ingin dihormati murid-muridnya, bos ingin dihormati bawahannnya dan lain-lain. Hal itu tak lebih karena sifat kemanusiaannya begitu, dengan dihormati menimbulkan kepuasan dalam jiwa.
Ada banyak sebab yang menjadikan orang untuk dihormati, karena usia dan pengalaman hidup, karena sikap dan sebagainya. Diantara sebab-sebab itu ada pula yang pura-pura, penghormatan orang lain terhadap seseorang hanyalah penghormatan di depan saja bukan tulus dari lubuk hatinya. Penghormatan karena orang tersebut adalah orang yang memilliki pengaruh, hingga penghormatan orang-orang tersebut ‘menyembah’ ketika di depan dan bertolak belakang jika dibelakang orangnya.
Tahukah kawan, ternyata sebagian orang banyak yang menyoalkan masalah penghormatan ini. Rasanya ada perasaan gusar dengan penghormatan seseorang yang belum pasti ketulusan penghormatannya. Merasa tidak dihormati, maka orang yang merasa memiliki kuasa menjatuhkan siapa yang dianggap tak menghormatinya. Padahal bisa jadi orang yang kita anggap tak hormat itulah yang sebenarnya hormat, tak menjelekan di belakang, juga tidak membicarakannya, apa ada dirinyalah.
Seorang pemangku jabatan dalam suatu kedinasan merasa gusar
“ kenapa orang ini tak menyapa saya” itulah ucapannya dalam hati terhadap seorang pegawai honorer yang masih kait berkait dengan dinasnya. Sang pemangku jabatan lupa kalau dia menolehpun tidak pada pegawai honor tersebut. Hingga seletingan dia berkomentar pada jajarannya disana “sudah honor sombong lagi”. Diapaun lupa tak semua orang berkepribadian menyembah, yang tiba-tiba takzim, membungkuk-bungkuk, mencium tangannya hanya karena tahu kalau dia orang penting.
Jikalah mau jujur, kenapa harus gusar hanya karena tidak disapa? Apa yang hilang atau berubah jika disapa ataupun tidak. Memang penghormatan salah satunya dari hal kecil tersebut, tapi jika setiap saat kita harus memaksa orang lain menghormati kita dengan cara yang tidak disukainya, apakah itu namanya? Jangan-jangan kita telah terjangkit syndrome gila hormat kali.
Jika banyak yang menyembah-nyembah, menghormati kita lantaran kita adalah orang yang berkuasa, hati-hatilah sebab bias jadi penghormatana seperti itu adalah penghormatan yang menuntut bayar, apapaun bentuk cara membayarnya. Saat tak bisa membayarnya lagi siap-siaplah untuk kecewa. Maka akhirnya biarlah penghormatan itu mengalir apa adanya, sebuah penghormatan tanpa bayaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s