Rasa Itu Alamiah

Teknologi telah terbukti memberikan kemudahan bagi para penggunanya. Kemudahan menyelesaikan kerja-kerja, membuat terobosan-terobosan, melahirkan berbagai karya. Juga yang mengungkai jarak, ruang, serta waktu, menjadikan batas tidak lagi jadi penghalang untuk orang-orang bertemu. Semua, dengan teknologi membuat segala kemungkinan menjadi ada.

Andanya teknologisedikit banyaknya membuat ada yang berubah pada penggunanya, lihatlah betapa sering seorang bekerja seringkas-ringkasnya, jarang mau bersusah-susah untuk mengerjakan seseuatu, dan sedikit saja yang ingin berlelah-lelah untk mendapatkannya. Hal itu tidak salah, sebab memang untuk itu semua dicipta; memberi efisiensi kerja. Namunmarilah kita lihat. Jika sedang bertatap muka dengan kubus ajaib, komputer menyelesaikan kerja-kerja apalagi jika sedang ngendon meng update satatus di jejaring social dunia maya, lagi chatting ataupun kegiatan lainnya lalau apa yang kita lakukan jika tiba-tiba ada suara aneh?. Paling-paling sejenak kita menghentikan jari-jemari dari tuts-tuts keyboard, tidak untuk memeriksa itu suara apa melainkan untuk melanjutkan kembali pekerjaan kita. Lalau apa pula yang kita lakukan ketika ada seseorang yang berbicara lalau menghampiri kita? Paling kita menoleh kesamping sebentar, lalu focus lagi dengan kegiatan kita atau menjawab sekenanya saja dengan sikap membelakangi.

Sadar ataupun tidak hal itulah yang telah sering terjadi dalam hidup kita. Tanpa sengaja kita telah membangun komunikasi ala baru belakang-membelakangi, tidak acuh terhadap sekitar, tidak lagi peka akan etika. Kita sibyk dengan dunia maya yang wujudnya entah seperti apa dan meningglakan relaita yang ada di depan mata. Kita lupa menghargai dan memedulikan lingkungan real kita.

Seorang mahasiswa waktu itu lagi gandrung-gandrungnya online di dunia maya. Menjadikan aktivitas itu sebagai menu wajib hariannya, malah mengalahkan aktivitas yang bersentuhan dengan realita. Beliau memang beralasan dari dunia maya memperoleh banyak pergaulan dan juga banyak teman.

Suatu ketika saat takdir membawanya ke dunia realita –jaringan error karena gempa-, betapa dia terkejut mengetahui bahwa seorang temannya, teman satu kos tapi tak sekamar dengannya, tempatnya bertanya seputar kuliahan, tempat berkeluh kesah jika sedang ada masalah ternyata telah pindah untuk selamanya, tak lagi ada di kos, juga tak lagi ada di kampus, dia telah pindah ke daerah asalnya. Demi mengetahui hal tersebut maka dicarilah nomor yang bisa dihubungi agar dia bisa bicara dengan sang kawan, dan menanyakan kenapa pindah tak bilang-bilang. Si mahasiswa cyber lupa kalau waktu itu sang kawan mengetuk pintu, dan masuk ke kamarnya. Si kawan memanggil namanya dan mengucapkan seseuatu, tapi karena asyik dengan aktivitasnya si mahasiswa tak menangkap apa yang disampaikan kawannya meski dia menjawab iya untuk mmeberikan respon pada sang kawan.

Kawan meski duia berubah, namun pasti rasa itu tetap sama. Tak ada orang yang ingin dibelakangi saat berkomunikasi atau tak diacuhkan saat bicara, tak ada. Bahkan kita sendiripun ketika ada hal penting yang harus diungkapkan dan ternyata laan bicara kita menjawab sekenanya pasti kita akan kecewa. Padahal kita bisa kok menghentikan kegiatan kita sebentar saja untuk menanggapi yang sedang bicara atau memintanya menunggu dengan cara yang manis tentunya untuk menunggu kita mnyelesaiakn pekerjaan kita sebentar saja dan baru nanti bicara. Tappi tidak, lebih sering kita memilih hal-hal tersebut berlalu begitu saja.

Kawan, teknologi beleh saja menggantikan fungsi-fungsi benda, boleh saja berguna untuk melakukan apa saja tapi dia tidak bisa menggantikan rasa, karena rasa itu alamiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s