Ruang untuk Pejuang

Jalan ini selalu menyisakan ruang bagi pengikutnya. Ruang untuk dikenang bagi para pejuang, juga bagi orang selainnya. Keduanya sama-sama meninggalkan jejak meski jejak masing-masingnya berbeda. Diantara jejak-jejak itu ada yang terlupa atau memang sengaja dilupa tapi tetap saja dia ada, sebab waktu telah merekamnya dalam lensa sejarah. Setidaknya jejak itu ada dalam memori masing-masing kita, jika tidak mana mungkin ada kata-kata dulu “dulu pernah ada…” yang terlontar dari perbendaharaan lisan kita.
Ruang yang disisakan para pejuang adalah ruang keteladanan yang menjadikannya dipanuti karena kesehariannya. Sekalipun diantara pejuang itu ada yang tak pernah dikenal zaman namun kebenaran perjuangannya abadi. Sebab apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan darinya, anugerah yang kita peroleh dari tangan-tangannya. Bukankah diantara kita tak pernah tahu di back-up oleh tangan yang keberapa. Begitulah para pejuang menjaga keikhlasan dan kesabarannya dalam merintis kerja.
Selainnya, juga punya ruang yang disisakannya. Yaitu ruang untuk kita berkaca pada perjalanannya. Bahwa ternyata ada banyak karakter yang terkumpul disini, berbagai latar belakang, keadaan sosial dan keinginan. Ada yang bisa belajar dan menerima segala keadaan serta mengerti dengan apa yang harus dilakukan, dan mampu untuk bertahan -meski memang seharusnya begitu, sebab itulah yang dikehendaki dalam tarbiyahpada kita-. Namun tak bisa dinafikan bahwa ada hal-hal yang bertolak belakang, saat semua keinginan dan persoalam bergesekan dengan kondisi rill barangkali ada manusia-manusia kecewa, yang ujung dari kekecewaan itu bisa berbentuk macam-macam.
Dan disinilah kita berkaca kawan! Diantara yang kecewa ada yang lantas berpindah. Tapi tentu ini bukanlah suatu kesalahan, karena pada prinsipnya dakwah ini adalah jalan untuk merealisasikan kehendak yang Allah inginkan pada makhluk Nya. Maka diamanapun tempatnya asal tak lepas dari yang dikehendaki Allah sifatnya hanya masalah pilihan beserta yang terkait di dalamnya.
Yang jadi soalan adalah ketika ada yang kecewa, lalu kekecewaaan itu membuat diri dengan serta-merta apatis terhadap kebenaran. Bahkan ada yang sampai membenarkan diri melakukan hal-hal yang biasanya dihindari dengan alasan “kan ane gak disitu lagi” padahal itu adalah ajaran (syariat) bukan aturan jamaah. Astaghfirullah…
Maka saya, anda dan siapapun kita sudah sepantasnya memelihara dan merealisasi nilai-nilai yang telah diajarkan Allah melalui rasul Nya, bukan untuk menempatkan diri di ruang mana akan dikenang tapi karena memang itu yang Allah inginkan. Jika sudah begitu yang lainnya akan ikut besertanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s