Semangat Melayani

Tugas terberat kehidupan memang ada pada kata melayani. Tugas itu memang tak dapat dihindari lagi keberadaanya, meski sekeras apapun kita berusaha menghindar darinya. Pemerintah melayani rakyat, dokter melayani pasien, guru melayani murid, penjual melayani pembeli, supir melayani penumpang, ustadz melayani jama’ah, lawyer melayani klien, dan sebagainya. meski sudah barang tentu pekerjaan masing-masingnya berbeda.
Pelayanan juga yang sering dikeluhkan orang-orang ketika berhadapan dengan orang-orang yang seharusnya melayani. Entah kenapa hal ini selalu susah meski itu sudah jadi bagian dari tugas yang harus diilaksanaka. Seolah ada yang ganjil ketika melayani dengan senang hati; hingga melayani dengan berat hati, terlebih dahulu dimulai dengan omelan-omelan kasar yang tak bertempat.
Di sebuah kantor yang mengurus kependudukan dan sipil seorang bapak paruh baya bertanya dengan kebingungannya, kemana harus dia mengurus surat-menyurat yang dibutuhkannya. Petugas yang ditanya tanpa menghiraukan sang bapak sibuk menulisi kertas-kertas tugasnya pagi itu, setelah dipanggil oleh sang bapak “buk, buk” dan ditanya lagi, eh bukannya menjawab malah menyemprot si bapak dengan makian-makian menyakitkan, padahal tak ada yang salah dengan si bapak.
Kawan, rumitnya hidup jika seperti ini. Manusia seperti apa kita berlaku seperti itu dengan orang-orang. Apa ruginya melayani orang dengan kesopanan. Apa salah orang-orang jika bertanya, atau apa salahnya kalaupun orang-orang yang nota bene tak ada pengetahuan tentang hal yang akan diurusinya melakukan kekeliruan, toh bukan bidangnya, bidang kita.
Kenapa harus berbangga dengan diri kita, hingga tak melayakkan orang lain untuk dilayani sebaiknya. Mungkin ketika kita adalah pegawai pemerintah (maaf) hingga tak ada hubungannya dengan hak-hak yang akan kita terima, jika swasta yang selalu bergantung pada orang yang dilayani bagaimana?!
Kawan, melayani bukanlah jadi merendahkan nilai diri kita. Melayani malah akan semakin meninggikan kita. Senangkanlah hati orang-orang dengan melayani mereka, kitapun juga tanpa sadar akan terbawa senang. Kawan betapapun peliknya urusan yang diurus orang-orang tapi karena itu telah menjadi bagin dari tugas kita kenapa harus pakai marah-maah sebelum melayani. Jangan menganggap remeh orang-orang untuk dilayani, sebab untuk merekalah kita ditunjuk, dan sebenarnya karena merekalah kita ada. Jangan membuat standar pelayanan ganda, prima untuk beberapa orang yang kita anggap penting tapi remeh untuk mereka yang tak ada apa-apanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s