Sore di Pulau Pedalaman

Sore di pedalaman pulau-pulau di Moro adalah saat-saat perempuan nelayan mengasapi dapur dengan kayu bakar. Ikan-ikan jaring dilumur dibumbui sebagai lauk pauk untuk hidangan makan malam. Lauk apa saja yang berhasil dijaring, aromanya masih amis alami dan terasa manis setelah bertemu minyak makan di wajan penggorengan. Hmm menggugah selera membauinya..
Kaki-kaki kecil beranjak merapat ke tepian, melepas tali ikatan sampan yang diikat di sandaran kayu. Lalu dengan gagah mendorong biduk kayu itu agar nanti dapat mengelana ke tengah samudera sebab sang ayah akan turun lagi menjaring sebelum petang datang menjelang. Kali ini pemilik kaki-kaki kecil tak dapat turut serta menjadi navigator lautan sebab liburan sekolah tlah usai, itu artinya sekolah akan dimulai kembali. Bersabarlah kaki-kaki kecil menunggu kedatangan sang ayah 2 atau tiga hari lagi.
Wanita-wanita tlah lewat usia paruh baya memperbaiki jala yang panjangnya melebihi net voly yang terbentang di padang (lapangan) hijau. Jala-jala yang rumpang karna tersangkut benda-benda di lautan rumit untuk memperbaikinya semula. Namun itulah yang bisa dilakukan untuk mengisi hari-hari di bilangan usia yang beranjak senja. Pekerjaan yang menguji kesabaran dan ketelatenan yang tak begitu cocok untuk mereka yang cepat bosan dan tak sabaran. Sebab jala-jala itu malah akan bertambah runyam di tangan mereka.
Pemuda-pemuda tanggung berkejaran di padang bola demi mengejar satu bola plastik untuk di giring ke gawang. “Oi oi oi sini cepat, oi oi” begitu gumam yang sering terdengar. Para penonton dag dig dug menunggu tendangan striker yang mencoba merobek pertahanan lawan. Spontan sorak-sorai terdengar, tak tahu entah siapa yang dari awal tadi mereka jagokan yang penting mereka bersorak. Ketika nasib agak sial bola menjulang dan melangkahi mistar gawang mereka pun serempak berseru uuuuuu…..padahal baru sebentar ini mereka bersorak, bertepuk tangan, membuat para pemain memegang tengkuk dan menggeleng-gelengkan kepala.
Perempuan baru seperempat abad, membuat lapak-lapak di pinggir padang. Menggelar aneka gorengan; jemput-jemput (bakwan udang), otak-otak (makanan khas dari ikan), pekdos (mpek mpek ikan), goreng udang yang dititi lidi atau sosis sate yang diiris tipis seperti potongan wortel. Itulah pekerjaan sampingan ibu muda seperempat abad itu untuk membantu ekonomi keluarga atau sekedar cari kegiatan.
Mudi-mudi mengemas peralatan yang berkecai (beserakan) di rumah. Membersihkan, menyapu rumah dan menyiram bunga-bunga dalam kaleng bekas yang terletak di pelantar (teras belakang yang menghadap ke laut). Seusai itu berselonjor disana menyaksikan kapal-kapal, perahu-perahu nelayan berlayar, melihat kemilau merah langit yang bercermin dengan muka laut.
Suasana itu berjalan apa adanya , hingga dengan berjalannya waktu kegiatan-kegiatan itu menjadi sesuatu yang berirama. Tak ada yang istimewa, semuanya mengalir tanpa rekayasa. Tanpa beban rutinitas itu berjalan seperti roda menggilas masa. Cerminan syukur atas karunia yang diberikan Nya, tanpa banyak bertanya “mengapa, ada apa, seperti apa” mereka menjalani hidup yang diberi dan menikmatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s