Standar Kebahagiaan

Kebiasaan kita manusia adalah mengukur orang lain dengan standar kita. Dalam satu sisi memang ada baiknya, sebagai sensitivitas rasa, namun di sisi lain dia malah mencipta persepsi keliru tentang diri orang lain di mata kita. Contohnya saja standar kebahagiaan, kita mengukur bahagia atau tidaknya orang lain dengan standar kebahgiaan kita. Padahal standar kebahagiaan kita itu materi oriented banget kemewahan, kekayaan, kecukupan, dan kesejahteraan, pekerjaan dan lain-lain.
Seseorang yang dari segi ma’isyah belumlah mapan, kuliah yang masih terbengkalai, berhajat menyempurnakan separuh diennya (menikah) dengan seseorang wanita yang juga masih berstatus mahasiswa. Akhirnya mereka melangsungkan pernikahan. Sang isteri yang dulu masih aktif kuliah sekarang tak bisa lagi kuliah karena harus bahu membahu dengan sang suami memikul hidup.
Setahun menjelang, mereka yang telah dikaruniai anak masih saja kocar-kacir membangun financial keluarga. Pada akhirnya sang isteri memang memutuskan berhenti kuliah. Suatu saat beliau datang ke kampus dengan usahanya ‘barang dagangan’, terdengarlah komentar “itulah ya keputusannya tak matang” komentar seseorang merasa pasangan ini kalah dengan kehidupan yang dijalaninya, dan tidak bahagia. Komentar pedih yang terdengar dan yang lebih menyakiti hati adalah ketika mendengar kata-kata orang itu kepada pasangan yang nota bene adalah juga kawan saya “berdua itu sama saja”
Astaghfirullah..bagaimana bisa kita ukur-ukur hidup orang lain dengan standar yang kita punya. Toh hal tersebut adalah bahagian dari proses hidup yang tak selamanya lurus saja, kadang kala jalannya harus berbelok-belok, menanjak, dan menurun tajam. Maka sebagai seseorang harusnya kita irih pada perjalanan mereka, yang memutuskan untuk berani menantang angin, dibanding kita yang hanya mau hidup dalam jalur nyaman saja. Tak ada ritme, tak ada fluktuasi, datar, bahkan hambar.
Kawan, kalaulah setiap orang memiliki standar yang sama dengan orang lain tentu hidup ini tak akan berdinamika. Janganlah menyibukan diri dengan mengukur-ngukur standar kebahagiaan orang lain, bahagia tidak hidupnya dengan situasi seperti ini. Semua tergantung bagai mana seseorang menyikapi jalan hidupnya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s