Suku Laut

Banyak kaum marginal yang terpinggir oleh keadaan. Kadang kala keadaan itu sendiri memaksa dan mengungkung mereka dalam keterasingan bertahun tahun lamanya. Keadaan itupun mencipta jarak, ruang, dan waktu. Juga menjadi benteng pemisah antara sesama atas apa yang disebut dengan nama klan, harta, tahta dan rupa.
Namun kadang kemarginalan itu tercipta karena ketidak mauan terbuka pada perubahan, takut kehilangan silsilah ataupun memelihara kewerwibawaan yang sengaja diciptakan sendiri dalam pandangan mereka padahal sebenarnya tak ada dalam kaca mata realita. Begitu bertahun lamanya memelihara ‘keaslian’ yang kasat mata. Bertahan dengan sesuatu yang semu yang alasan pastinya, hanya mereka yang tahu.
Seperti banyak kaum marginal yang ada di muka bumi, begitupun dengan suku laut; salah satu suku yang menempati daerah di negeri kepulauan ini. Mereka membangun hidup mereka di laut, berdiam di sampan dan sesekali turun kedaratan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Diantara mereka ada yang kemudian berpindah ke darat (nomad) dan kemudian kembali lagi ke habitat mereka di sampan, lalu ada juga yang kemudian memutuskan untuk menetap.
Mereka marginal bukan karena mereka sengaja dikucilkan masyarakat. Hanya saja karena pergaulan mereka yang terbatas; terbatas untuk bergaul dan bercengkerama dengan orang-orang sekitar, atau sekedar kumpul-kumpul untuk merintang hari, melenyapkan kejenuhan yang mungkin ditimbulkan oleh rutinitas hidup yang dilakoni.
Mayoritas mereka belum lagi memeluk agama, mereka adalah apa yang orang-orang sebut sebagai orang asli. Ya, orang asli. Begitu sebutan orang-orang terhadap mereka, sebutan itu mungkin dipakai karena mereka belum lagi beragama dan belum tersentuh kepercayaan akan ketuhanan. Tapi jangan membayangkan suku laut dengan orang yang masih memakai pakaian tradisional apa adanya. Tidak, orang-orang suku laut sama dengan kita kebanyakan, hanya saja ya itu tadi.
Menjadi suku laut, apakah masih menjadi pilihan; sebagai penjaga kesukuan atau apalah namanya atau memang belum sampai kabar ilmu kepada mereka. Kabarnya diantara mereka yang tlah menetap di darat telah memeluk suatu agama. Mereka didekati untuk kemudian diajak beragama. Begitu gencarnya orang lain mendakwahkan kepercayaan mereka. Sedang kita hanya berkutat pada ruang yang itu-itu saja. Ruang polemik, perdebatan, lagi sia-sia

2 thoughts on “Suku Laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s