Teman Seperti Apakah Kita

Friend is not every think but every think without friend is nothing. Begitu kata sebuah ungkapan yang mengungkakan akan pentingnya teman dalam kehidupan. Teman dalam segala; kala senang, gembira, susah, pahit, manis, dan dalam setiap keadaannya. Teman yang mengingatkan, siap menghulurkan tangan, dan memberi sokongan. Teman penyemangat, penebar suka, pelnyap derita.
Namun adakah teman-teman yang benar-benar seperti itu, seideal yang kita mau, seindah yang kita damba. Sebab banyak sekali teman-teman palsu yang pada akhirnya kita jumpai. Palsu sikapnya, palsu yang ada padanya, palsu pula pertemanannya. Teman makan teman, menusuk dari belakang, menggunting dalam lipatan, teman yang mau untung saja, dan berbagai kepalsuan lainnya meski namanya masih tetap teman.
Teman seharusnya adalah teman. Tak selamnya harus dekat, harus bersama kemana pergi, atau harus saling memberi; memberi perhatian, semangat dan sebagainya. tak usah jauh-jauh untuk menyebut-nyebut hal itu. Cukuplah untuk mengukur seperti apa kita, orang yang menyandang atau disandangkan sebutan teman dengan seberapa jauh kita memperlaukan teman kita saat dia menyabangi, bertandang mengunjungi, seperti apa kita melayani –bukan melayani dalm hal-hal menyuguhkan minuman, makanan, dan tetek bengeknya- tapi melayani dalam lingkup komunikasi; lisan dan gerak-gerik, sikap kita terhadapnya yang datang berkunjung.
Dari hal kecil itu dapat dinilai seperti apa pertemanan kita sebenarnya. Semua tentang pertemanan kita seseungguhnya ada di dalam sana. Meski pada hari-hari lain, diluaran kita sering bermesra, bermanis-manis, tertawa bersama, bercerita bersama, namun dihari yang satu ini kebenaran tentang semuanya terrefleksikan sudah.
Di suatu kesempatan seorang teman menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediaman temannya. Bersilaturrahim, mengunjungi sang teman yang memang telah berbeda teritori itu. Dengan menumpangi boat terbuka di tengah mentari panas menyengat, 2 jam menyeberangi laut untuk berkunjung ke rumah sang teman yang berbeda pulau. “Pasti yang akan banyak yang akan diceritakan (meski kadang kala ada orang yang tak bisa mengungkapkan secara lisan namun dengan sikap, ekspresi wajah, sorot mata, cerita juga kan?)” itulah yang ada dalam benak sang teman yang kan berkunjung, sebab biasanya selalu ada yang diceritakan, dibagi atupun ditertawakan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, teman yang dikunjungi sibuk dengan urusan sendiri, entah apa yang dilakukan kemudian hanya ada basa-basi.
Kawan sebelum lebih jauh menyebut macam ragam pertemanan seperti di awal tadi. Lihatlah dulu seperti apa hal yang telah kita lakukan atau seperti apa kita memperlakukan teman yang datang mengunjungi kita. Terlalu sepele mungkin, tapi itulah yang kita lupakan. Tak akan mungkin seorang teman, memperlakukan teman yang berkunjung dengan sekenanya tanpa memedulikan perasaannya kan? Bukankah ini juga kepalsuan kawan, berteman baik, tapi tak sepenuh perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s