Tertawalah Jika…

Banyak alasan yang membuat orang tertawa, melihat dan mendengar hal-hal lucu, tertawa karena merasa bahagia, atau mengingat kejadian-kejadin konyol yang barang kali ada. Tapi pernahkah kita mengingat kembali disebabkan apa kita pernah tertawa? Adakah diantara sebab itu karena kesalahan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Dalam sebuah diskusi kemahasiswaan di sebuah universitas seorang mahasiswa yang mengambil andil untuk tampil dalam acara tersebut, dengan nada terburu-buru serta kelihatan sekali salah tingkahnya dari gerak-gerik dan sikapnya dalam memaparkan makalahnya. Demi melihat kejadian yang tak lucu itu sontak audience tertawa. Hanya beberapa orang saja yang diam, dan mungkin merasa priharin terhadap sang pembicara. “kasihan ya” sela diantara mahasiswa yang ada.

Mahasiswa -yang sesungguhnya apa yang akan dijelaskannya itu- adalah hal yang luar biasa, itu terlihat dalam diktat yang dibagikannya, hanya saja perasaan grogi dihadapan ratusan intelektual muda, serta beberapa dosen yang tutut serta membuatnya tak terkendali. Akhirnya dia mengakhiri saja penjelasannya. Bertambahlah mata-mata yang kasihan terhadapnya. Padahal kalau dipikir-pikir siapa yang harus mengasihi siapa.

Ya siapa mengasihi siapa. Apakah yang tertawa itu tahu apa yang ditertawakannya? Adakah kelucuan dalam keterbatasan yang dipunya orang lain? Adakah manfaatnya kita tertawa atau barang kali kita yang tertawa menyaksikan kesalahan orang lain itu lebih bisa berdiri dan menjelaskannya dengan baik, sempurna hingga mengundang decak kagum, tepuk tangan meriah seluruh mahasiswa. Kalau begitu kenapa tidak kita saja yang bicara, kenapa hanya jadi audience penikmat penampilan orang lain lantas menertawakannya. Bukankah kita yang tertawa yang harusnya dikasihani; tak bisa berbuat apa-apa. Maka tertawalah jika kita yakin bisa melakukan hal lebih baik dari yang ada semula.

Kawan, menertawakan kesalahan sadar ataupun tidak telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Entah bermula dari mana namun yang pasti banyak orang yang mati karena ditertawakan ketika berbuat salah. Seorang anak mislanya, menjadi tak mau melakukan sesuatu, dan mencoba melakukannya hanya gara-gara perasaan takut nanti ditertawakan jika dalam pelaksanaanya terdapat kesalahan-kesalahan.

Masalah kesalahan itu hal yang wajar sebagai manusia yang tak sempurna. Ia hanya perlu proses pembelajaran dan pembiasaan untuk keapikan perfoma. Bayangkan jutaan potensi lebih dahulu mati, tak menemukan muaranya hanya gara-gara sikap kita. Cobalah tanyakan pada diri kita, kitapun kalau ditertawakan ketika berbuat salah pasti merasa gimana, atau jangan-jangan kita juga adalah korban tertawaan yang tak patut itu? Hingga kitapun tanpa sengaja melakukan hal yang serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s