Jarak dan Kebersamaan

Lelaki yang lima tahun baru beranjak dari usia seperempat abad itu terus memandangi dermaga kayu tempat isteri dan anak kecilnya berdiri mengantarnya pergi. Sampai di batas pandang matanya tak bisa melihat lagi samar dua wajah yang amat dicintainya, barulah tegap badannya menatap lurus ke depan mengikuti kapal semi tradisional yang berbangku tanpa sandaran membelah lautan.
Riak-riak gelombang yang sempat mengganggu kesimbangan kapal adalah seperti riak-riak hatinya. Dia pergi dengan segala rasa yang dibawanya bersama. Dua orang yang dicintainya itu kemudian dilihatnya kembali dari layar telpon genggamnya. Ah, mengahru setiap rasa pada saat itu. Dua orang yang hanya bisa dilihatnya tiap pekan bahkan sampai beberapa pekan, karena jarak dan keterbatasan transportasi laut. Tak ada tambahan hari, dan waktu permisi, maka baginya menginap semalam saja itu sudah istimewa.
Meninggalkan isteri dan anak di pulau yang serba terbatas membuatnya selalu gamang untuk berlalu pergi. Balita yang bergelayut di pangkuannya merengek saat dilepaskan. Si ibu terlihat berusaha menguasai diri, dan mengalihkan perhatian buah hatinya itu. Ada rindu yang masih belum terobati, bahkan sebelum terobati, diapun telah datang lagi bertambah. Tuntutan dan pilihan hidup telah menjadikan jarak sebagai uji tertinggi. Terpisahlah raga dari orang-orang yang dikasihi.
Tapi si isteri bukanlah si manja yang selalu merengek meminta suami tidak pergi, si manja yang selalu menuntut harus berkumpul, dan simanja yang dengan permintaan-permintaan mengada-ngada lainnya. Si suami bukanlah si pengecut yang senantiasa harus dilayani setiap kebutuhannya, si pengecut yang selalu menuntut, tidak! Tugas diri dihadapan harus diemban di ranah yang berjauhan.
Kawan, berpisah jarak dengan orang-orang yang kita cintai tentu menimbulkan perasaan sedih. Namun suatu alasan harus mengalahkan rasa itu, suatu alasan yang kita pilih dan kita pahami resikonya. Meskipun selalu ada kerinduan yang terjaga dalam hari-hari, mungkin juga ada keinginan untuk bersama yang meronta untuk dipenuhi.
Tapi yakinlah betapa indahnya hari-hari yang dilalui lelaki tadi. Kasih sayangnya selalu terpupuk hari demi hari. Berjauhan membuat kedekatan semakin erat, berjauhan membuat kelamahan mnajdi kuat, berjauhan juga yang menambah arti kebrsamaan bagi dirinya bertambah dan tak tertandingi. Bukankah, betapa sering kita saksikan perkumpulan; keluarga, karib-kerabat, teman, rekan, dan lain sebagainya yang hampa rasa kebersamaan, mereka bersama tapi tak sejiwa, kebersamaannya menguap bersama kebosanan berkumpul dan menyebabkannya saling brbenturan satu sama lain.
Akhirnya.. bukankah dari kejauhan sesuatu itu akan lebih nampak indah? Sebagaimana Kahlil Gibran menukilkan “disaat berpisah dengan seorang teman kau tiada akan berduka cita, sebab apa yang paling engkau kasihi darinya amatlah mungkin legih agung dari kejauhan bagai sebuah gunung nampak lebih agung dari tanah ngarai daratan”

Perjalanan dari pulau “Dusun Niur ke Moro, 2 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s