Lelaki Keriting Penjaja Gelang Mainan

Mendekati senja adalah saat orang-orang ramai harus pulang dan mengakhiri pekerjaan. Senja sibuk yang mebuat lalu lalang orang tak beraturan. Di suatu senja beberapa tahun yang lalu di kotaku dulu, saat langkah kaki harus dipergegas menuju pulang. Aku berpapasan dengan lelaki keriting penjaja gelang-gelang mainan.
“Sesenja itu masih berharap ada yang akan membeli dagangannya” tukasku pada seorang teman yang bersamaku pada waktu itu “iya, itulah harapan, perjuangan” komentarnya balik. Lalu pandangan kami beradu dan melihat kilatan di mata kami –aku melihat kilatan di matanya, diapun melihat kilatan di mataku- kilatan akan sebuah perasaan yang dalam atas hal yang baru saja kami saksikan, lalu kami menunduk dengan perasaan masing-masing.
Barangkali belum mencukupi kebutuhan hasil dagangannya dari pagi, hingga di pelabuhan senja, masih terbentang harap Allah masih memberikannya kecukupan rezeki hari itu. Atau sama sekali dia belum mengantongi pundi-pundi utnuk menghidup anak isteri. Dengan tangan hampa berpantang untuk pulang, sebab telah bergelayut wajah anak-isteri yang penuh harap di mata batinnya.
# # #
Meski tak butuh kami ingin membeli, tapi urung niat setelah menyadari tak sepeserpun uang yang ada di kantong kami. Kalau ada uang, pasti. Sebab saat itu tak lagi berlaku prinsip ekonomi atau management belanja ala ekonomi –membeli apa yang dibutuhkan- yang berlaku pada saat itu hanya perasaan ingin memberinya rezeki melalui pembelian kami. Tapi apa boleh buat, semoga saja Allah memberikan kepadanya dengan lain cara.
Hidup ini memang keras kawan, tak sedikit badai yang harus dihadang. Banyak cara untuk memperjuangkanya, mempertahankan, dan mempertahankan keberlangsungannya, namun cara itu haruslah cara yang terhormat dihadapan bumi. Lelaki keriting telah memilih caranya, sampai senja ia tetap mengharungi lika-liku usahanya. Tak ada niatan untuk berbuat yang tidak terhormat, dia lebih memilih berkotor-kotor dengan cara yang bersih, bukan bersih-bersih dengan cara yang kotor.
Kawan sekeras apapun kehidupan yang kita jalani hari ini, jangan sampai kita gadaikan kebaikan diri. Allah barangkali menguji setangguh apa keyakinan kita, seteguh apa keteguhan kita memegang kebenaran ajaran dan janji-jani Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s