Pemetik Teh dan Pelajaran Syukur

Hujan mengguyur sedari tadi. Membasahi lereng-lereng perkebunan teh di kawasan terdingin di daerah jawa barat. Di tengah-tengah kebun dalam guyuran hujan itu nampak seorang wanita yang telah beranjak senja, seperti orang-orangan sawah; tak peduli hujan, panas dan segala cuaca.
Bertopi jerami dan mantel plastic untuk menutupi kepala dan badannya, lengkap dengan sepatu boat yang membungkus kaki. Wanita itu terus berdiri menggerak-gerakan tanganya dengan lincah memetik dedaun teh untuk dimasukan ke dalam karung goni yang ada di sampingnya.
# # #
Baginya lelah adalah waktu yang disia-siakannya untuk dapat memetik teh lebih banyak lagi. Maka apapun hambatannya tak pernah dia mau menghentikan pekerjaan yang digawangi sejak puluhan tahun lamanya itu, terkecuali jika telah tiba jam istirahat makan siang barulah ia menepi, berkumpul dengan rekan-rekan pemetik teh yang lain. Dibukanya bungkusan berisi nasi tanpa lauk pauk, lalu dikeluarkanya kantong plastic hitam berisi garam, dengan itulah dia melahap santapan siangnya dan itulah yang sering dijadikanya lauk dari waktu ke waktu. Tak sedikitpun dia terhenti menyuapkan nasi ke mulutnya dengan keadaan seperti itu.
Setelah tulang-belulangnya terasa kuat kembali dengan segera ia melanjutkan aktivitasnya, sampai sore menyentuh di langit perkebunan diseretnya karung goni yang tak cukup verisi 20kg daun teh untuk ditimbang dan ditukarkan dengan uang di akhir pekan. Hasil kerja seharian penuh yang sebanding dengan keringat yang telah tertumpah. Sebelum pulang ke istana kediamannya disempatkannya diri untuk mencari tumbuhan yang dapat dijadikan sayur menyayur di pinggir perairan sekitar kebun teh atau kalau tidak dikumpulkannya kayu-kayu dari batang teh yang telah tua dan tidak menghasilkan lagi untuk dijadikan bahan bakar perapian dapur.
Begitu hidup dilaluinya tanpa keluh, tanpa sedikitpun terbesit keinginan untuk bertanya “wahai Rabb kenapa jalan hidupku seperti ini” bahkan kerja itupun harus bertambah dengan membantu tetangga mengerjakan pekerjaan rumah tangganya, demi kebutuhn hidup yang harus dipenuhi. Tapi tak sedikitpun menyurutkan semangat hidpnya, ditentangnya kesulitan dari hari ke hari hingga telah menjadi biasa. Pun masih sempat ia berharap kelak ingin bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sebuah harap yang tak mengenal duka, tak ada pesimisme disana. Kesulitan hidupnya adalah realita, tetapi harapannya adalah juga realita yang akan menuju wujudnya, setidaknya insya Allah apa yang ia niatkan sampai di sisi Tuhannya.
Bandingkan kawan apa yang kita perbuat untuk hidup kita. Pada kesulitan yang sedikit kita mengeluh, pada yang banyak kita tak merasa cukup, pada yang kurang kita umpati, pada yang tak dapat kita sesali. Kita tangisi apa yang kita miliki, kita kasihani diri dengan hiba hati. Telah lupa kita bahwa telah diingatkan Nya dalam wahyu ‘Barang siapa yang bersyukur akan nikmat Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat Ku padanya, tapi apabila mengingkari maka adzabku sangatlah pedih”
Maka kawan apakah patut kita terus meratapi hidup? Sedang di bawah sana masih ada lagi sekian kali perih yang dirasai orang-orang sepih. Maka bersyukur dan bersyukurlah dengan cara yang kita pahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s