Ota Lapau

Ota Lapau
Padang 15 Juni 2009
Berkumpul di lapau sambil menikmati secangkir kopi, gorengan, dan menghisap tembakau adalah rutinitas yang kerap dilakukan oleh kaum Adam. Rutinitas ini sering diselingi kelakar sentilan “Buruak bana manuang ang Din! Lah bakandak apo lo urang rumah ang lai?!” kemudian serentak mereka terkekeh. Tak berhenti sampai disitu, kelakar itupun terus berlanjut sampai pada ota-ota (Pembicaraan) nan serius; masalah pertandingan sepak bola, politik, dan persolan-persoalan yang mereka hadapi.
Semua orang yang berada di sana berhak untuk berbicara apapun. Tak peduli petani, pedagang, sampai pengangguranpun tetap unjuk gigi. Semangat kebersamaan mereka terjalin dengan seringnya mereka berinteraksi. Mereka membaur dan lebur dalam ota mereka. Itulah mungkin yang menjadi candu bagi mereka untuk duduk di lapau. Dengan itu mereka melepas penat setelah seharian bekerja, mengademkan pikiran, bahkan kalau cekcok dengan bini di rumah larinyapun ke lapau.
Uniknya, dari ota lapau ini sering keluar gagasan-gagasan yang menerobos, ide-ide kreatif serta analisa-analisa yang kadang tak terpikirkan dalam keadaan serius. Hingga seorang teman pernah berkomentar ”Di lapau itu ada yang kurang yaitu juru tulis untuk mencatat ota-ota yang mengesankan (ide). Benar adanya, sebab sering kali ide-ide itu menguap begitu saja tanpa relisasi alias sekedar wacana. Ya namanya saja ota!
Tapi itulah sayangnya. Kita hanya baru bisa berwacana, minim aplikasi. Misalnya dalam ota tentang pembuatan jembatan, mereka tahu persis ada yang kurang dalam pembangunan itu sebab mereka telah besar di daerah tersebut tapi usulan itu hanya ota yang tinggal di lapau. Tak ada diantara mereka yang mau menyampaikannya kepada pihak-pihak berwenang yang menangani masalah tersebut. Hal ini entah karena pimpinan otanya tak jelas; tidak tahu siapa yang memulai pembicaraan, dan tidak tahu pula berakhirnya hingga tak seorangpun yang bertanggung jawab untuk menyampaikannya atau mungkin saja karena keengganan berhadapan dengan pihak yang berwenang. Alih-alih memberikan masukan, eh malah ditanya dengan garang “Ang sia?/ Anda siapa?”
Agaknya inilah yang perlu diakomodir; merealisasi ota-ota dan menindak lanjuti ota bagi pihak yang merasa berwenang. Atau bisa saja pihak-pihak berwenang (pemerintah) duduk serta dengan mereka di lapau mendengarkan komentar mereka dan juga memberikan masukan buat mereka “Kalau sudah duduk di lapau jangan lupa anak bini di rumah, jangan berjudi, jangan minum minuman yang tidak-tidak dan lebarkan telinga ketika corong surau berbunyi (Adzan!..ke surau lagi.). Jadi bukan hanya sekedar himbauan dan edaran di kertas! Dengan ini ota lapau mungkin akan jadi kegiatan yang positif.

2 thoughts on “Ota Lapau

  1. Good idea kak. tapi Ota lapau kadang bergulir dari ide-de kreatif ke gunjingan ala kaum adam.🙂 seperti ibu-ibu yang berkumpul di gonjrengan tukang sayur lalu. Lebih banyak yang dibicarakan daripada yang dibeli. Lebih banyak waktu untuk ngobrol daripada memilih sayuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s