Dari Pulau Arezou Untuk Islam dan Hak Perempuan

Islam sering kali dijadikan objek atas isu-isu kontroversial di media dunia. Isu-isu kontroversial tersebut sering kali diangkat da ndilebih-lebihkan untuk menciptakan opini miring yang menggiring kesalah pahaman bahkan kebencian terhadapnya (Islam). Padahal sering kali hal-hal kontroversial yang diangkat terebut bukanlah ajaran Islam melainkan hanya kebiaasaan atau udaya masyarakat Islam pada satu tempat atau wilayah yang tak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam nan Syumul ini.
Isu kontroversial itu dominan berbicara masalah perempuan dan diskriminasi kaum Adam terhadap mereka. Hal-hal tersebut sering kali dibidik dari negara timur tengah, yang nota bene negra Islam. Istri tak boleh ke luar rumah untuk bekerja, menuntut ilmu, kedudukan perempuan lebih rendah dari kaum laki-laki, perempuan diperlakukan semaunya adalah hal-hal yang sering diperbincangkan dan digelindingkn ke tengah khalayak, hingga tercipta opini “Islam mendeskreditkan perempuan!” lalu berlomba-lomba media memberitakannya; talk show, seminar diadakan dengan nara sumber Gendernism tanpa pakar dari Islam sekedar untuk mengcross check dan mengklarifikasi hal tersebut.
Muslim di seluruh penjuru bumi apalagi muslimahnya tentulah tak sudi dituding diri dan agamanya seperti itu, sebab banyak sekali sebenarnya perempuan muslimah yang eksis di berbagai bidang dalam kancah kehidupan, baik itu di ranah politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, kesehatan dan ranah lainnya. Hanya saja yang disorot selalu hal-hal yang yang berbau kontroversial tersebut. Hal-hal itu dikemas seapik mungkin dengan detail-detailnya, ditayangkan potret-potret muslimah dengan ketinggian hijabnya hingga menggiring asumsi publik bahwa perempuan yang mengenakan pakaian demikian merupakan symbol atau mencirikan pengekangan Islam.
Namun kegusaran bukanlah cara yang tepat untuk menjawab semua propaganda. Tak harus menjawab dengan berkoar-koar di media yang selalu memancing di air keruh itu, tapi jawablah dengan bukti nyata. Dan salah satu negara Islam yang menjawabnya adalah Iran. Negara ini telah membuktikan bahwa mereka benar-benar membuktikan bahwasanya mereka menghormati privacy perempuan muslimah. Sebelum orang-orang menuding ini dan itu mereka telah lebih dulu berbuat.
Mereka menyediakan sebuah taman yang khusus bagi perempaun. Disini perempuan bisa dengan bebas melaukan aktivitasnya tanpa khawatir harus diusili pria yang matanya jelalatan, misalnya bebas melaukan kegiatan olah raga, aerobik dll. Taman yang dirancang khusus untuk kaum hawa ini dilengkapi dengan jalan kecil bertrotoar yang pada kedua sisinya terdapat kanopi-kanopi. Rancangan sangat anggun bagi sosok perempuan. Bahkan kabarnya ada pulau yang juga dikhususkan untuk kaum hawa ini, dengan pengkhususan ini dimaksudkan agar perempuan dapat menikmati alam bebas namun privacynya tetap terjaga, pulau itu bernama pulau Arezou (harapan).
Lalu dapatlah kita bertanya adakah dunia yang telah menuding tanpa bukti tersebut mempunyai sesuatu yang diperuntukan khusus untuk kaum wanitanya. Adakah mereka yang telah menuding tanpa bukti tersebut mempunyai sesuatu yang diperuntukan khusus untuk kaum wanitanya. Adakah mereka menjaga privacy kaum nan sensitive itu. Adakah mereka mengagungkannya dengan perlakuan khusus seperti yang diajarkan Islam terhadap pemeluknya. Maka siapa yang diskriminan sebenarnya?

Inspirasi sepulang dari Batam
Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s