Aku dan Dia; Sebuah Pertemuan

Bismillah.. awalnya kita tak tahu seperti apa Allah mengatur pertemuan dengan seseorang. Seseorang yang mungkin kini adalah jadi bagian hidup kita; teman, saudara, suami, isteri, atau bahkan jadi musuh naudzubillah. Begitupun aku tak pernah membayangkan akan bertemu dengan seorang teman yang sangat berarti, dan mengesankan di hati..

Takdir Allah itu membawaku membaca sebuah blog yang dulu dimilikinya (waktu itu memang zamannya ngeblog) tak ada kutuliskan apa-apa, komentar tentang tulisannya ataupun sekedar nimbrung di guestbook sebagai datang berkunjung. Tapi -tara…- kemudian sebuah comment tertera di guestbookku, “sketsa bertepi arti sebenarnya apa, jadi menyempitkan misi yang kakak usung, salam kenal aja deh kak” begitu beliau mengomentari kekerdilan jiwaku saat mendeskripsikan blogku seperti itu.

Maka kubalaslah apa yang beliau tanyakan, meski dengan sedikit kecanggungan, sampai di salah satu space komentar di salah satu tulisanku dia menanyakan “kak kita pernah ketemuan tak kak?” siapa tahu kita pernah ketemu, mungkin karena satu domisili dia merasa siapa tahu pernah ketemu. Ternyata memang iya , suatu hari di sebuah toko buku di kota kami, kami pernah bertemu dan saling menyalami, karena waktu itu beliau bersama dengan seorang adik kampusku yang nota bene adalah kawan baiknya. Tapi sebagaimana perkenalan singkat umumnya yang hanya sekedar basa-basi maka perkenalan itu tak berkesan apa-apa, bahkan mungkin kalau berjumpa lagi disuatu waktu pasti tak akan ada tegur sapa.

Ada tiga nomor baru nimbrung di layar Hpku. Karena aku memang jarang memedulikan nomor yang tak dikenal maka kuanggap saja itu nomor orang nyasar, tapi demi melihat belakang angka yang sama 3-3 nya aku jadi berpikir kalau ini adalah nomor orang iseng. Menduga hal itu maka aku semakin tak memedulikannya. Keesokan malam ada pesan singkat masuk, ucapan tahun baru Islam dan perkenalan diri dari orang yang semalam mc ke nomorku itu. Diakhirnya dia buat namanya dan pertanyaan apakah aku masih ingat dengannya, sebab aku memang bilang bahwa pernah bertemu di toko buku.
Dilain hari tak tahu kenapa aku mengirim pesan untuknya, sebuah pertanyaan rumit yang menghantui pikiranku, sampai pesan itu berlanjut “ketemuan yuk!” begitu tawarannya karena memang dia memang tak tahu denganku. Antara sadar dan tidak aku hanya bilang suatu saat akan bertemu jua, insya Allah. Entah kenapa aku tak menanggapi ajakan itu, mungkin karena ada tanda seru, bagiku tanda seru itu seperti tanda apa gitu, aku juga tak bisa menjelaskannya. Mungkin juga karena tak biasanya aku diajak ketemuan oleh orang yang tak begitu kukenal, tapi dari kesemua itu ada jawaban yang lebih pasti bahwa aku takut memperkenalkan diriku yang tak ada apa-apanya ini, parah ya?. Walau dengan sedikit kecewa dia mengerti dengan jawabanku.
####
Kondisi fisik yang tidak sehat, karena terserang demam nervous akan menghadapi praktek lapangan di sekolah dan berhari-hari dijejali materi-materi micro teaching membuatku berpikir dua kali untuk mengahadiri sebuah acara, tapi entah kenapa seperti ada sebuah magnet yang menarik ku kesana. Tak dinyana pada paroh perjalanan acara itu berlangsung ada short message menyapaku “Kakak ikut acara di… (nama sebuah tempat) tak kak?” hah dag dig dug aku membalas pesannya “Iya, kakak ikut”

Dzuhur menjelang semua peserta bergegas untuk melaksanakan shalat. Aku dan kawan-kawan menuju mesjid di luar pekarangan gedung. Waktu menunggu giliran wudhu’ mataku tertuju pada sosok yang rasanya pernah kulihat, tak lepas tatapanku menatapnya untuk memastikan. Saat itu mungkin dirinya heran kenapa ada orang yang menatapnya seperti itu. Tapi sekali lagi karena ragu aku biarkan ia berlalu tanpa sapa. Tapi penasaranku tergelitik ketika tiba-tiba saat di dalam ruangan mesjid ku tak sengaja melihat gantungan di tasnya, FLP Sumbar. Apakah beliau orangnya, yang pernah kujumpai dulu, karena bagiku itu adalah identitas yang melekat pada dirinya. Pada seorang kakak kutanyakan ketika beliau telah berlalu “itu siapa kak?”. Oh, dialah orangnya ternyata yang kumaksud.
Akupun berlalu menuju aula tempat acara dilaksanakan. Aku dan kawan-kawan sibuk mencari tempat duduk karena banyaknya peserta yang datang, sampai aku dapat tempat duduk agak ke depan. Setelah mengambil posisi, dengan tenang akupun mengeluarkan buku yang sambil-sambilan kubaca -sambil mendengarkan pertanyaan dari audiences aku baca buku-. Saat mataku tertuju pada barisan depan aku melihatnya lagi. Aku meyakinkan feelingku. Tapi apa yang kau lakukan? Aku hanya diam sembari melihatnya dari samping belakang, memperhatikan jari jemarinya menggoreskan catatan-catatan di buku. Sampai akhirnya HPku bergetar lagi “posisi kakak dimana nih?” “Lihatlah ke belakang” walau aku menyuruhnya melihat ke belakang tapi aku tetap sibuk menekuri buku yang sedang aku baca. “Kakak yang mana nih” “kaca mata, jilbab coklat” saat dia menoleh ke belakang lagi baru aku menyapanya dan kami bersalaman. Entah apa yang ada dipikiran kami masing-masing waktu itu, yang jelas aku hanya merasa takut, takut aku bukan seperti yang ada dibenaknya selama ini, takut mengecewakan harapan yang mungkin dibangunnya sebelum kami bersua.
Saat acara usai aku masih saja sibuk menekuri bukuku sembari menunggu antrean mereda di depan pintu. “kakak tak pulang” “iya” jawabku membiarkannya lebih dulu berlalu. Di pintu kamipun bertemu lagi, dia menyalamiku lebih dulu sebagai tanda berpisah disitu. Ah, aku ini memang benar-benar tak ada ekspresi, benar-benar seolah tak ada rasa apa-apa padahal di hati aku merasa bahagia bisa berjumpa. Kami pulang ke rumah dengan perasaan masing-masing yang tertinggal, perasaan geli menghinggapi diriku yang tak pandai berekspresi, tak seperti orang-orang lain kalau bertemu, tapi begitulah aku. Namun dibalik itu semua ada rasa bahagia yang tak bisa tergambar dengan kata, ada kasih yang tercipta ketika mengenalnya.
Sampai perkenalan itu berlanjut lewat pesan-pesan di sms saja. Aku sangat bersyukur bisa mengenalnya. Diam-diam aku membaca kepribadiannya lewat tulisan-tulisannya, kata-katanya, pemikiran-pemikirannya. singkatnya walaupun dia tak pernah tahu bahwa sesungguhnya aku belajar banyak darinya, tentang keorisinilan, pendirian, ketulusan, tentang sikap, dan yang terpenting dari itu semua adalah tentang kesantunan.

Be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s