Sebuah Perjalanan

Selamat Tinggal Daratan
Tak pernah terbayangkan jika hari ini aku akan meninggalkan kota kelahiranku, tempat aku dibesarkan. Kota dimana segala kisah hidupku bersemayam. Meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan orang-orang yang kusayangi. Inilah keputusanku, pergi jauh. Memenuhi tawaran paman untuk menetap ditempatnya, di negeri kepulauan. Meski sesak di dada tapi perjalanan ini akan segera dimulai. Kira-kira 2 jam lagi saat sore berlabuh di sudut kota bengkuang
Tit…tit….klakson mobil dari sebuah travel agency yang baru tadi pagi kupesan menyuruhku bergegas menaikan barang ke bagasi. Berat langkah kurasakan. Aku berpamitan dengan uni dan dua keponakan kecilku; Yogi dan Cici. Seolah tahu aku akan pergi dan entah kapan akan bertemu dengan mereka kembali mereka tak peduli dan membiarkan aku berlalu sembari kedua tangannya menata gundukan tanah basah yang ditetesi gerimis sore. Ah, mereka mungkin tak mau mendramatisasi sore itu dengan tangis dan iba hati. Tapi lebih baik begitu, walau aku tahu dalam hati mereka bersedih..
Mobil melaju tanpa tahu kecamuk hatiku, mengajakku melihat kembali bangunan yang luluh lantak seusai gempa September yang lalu. Barang kali itulah kenangan terakhir yang disisakan kota ini untukku. Gerimis masih menghiasi, memasuki kelok sembilan gerimis itu telah berubah jadi titik-titik kasar yang mendera jalanan aspal nan terjal. Hujan mereda pukul 2 dini hari seketika kulihat di layar HPku Navigasi untuk petunjuk daerahnya berubah: Kandis, Pekan Baru. Artinya seperempat dari perjalanan ke tempat tujuanku telah tertempuh.
Perjalanan terus berlanjut. Menjelang subuh aku telah memasuki gerbang kota Dumai. Kota yang terkenal dengan PT. Caltex itu menandai daratanku akan berakhir disini. Aku akan segera berganti kendaraan. Kapal Ferry yang terbuat dari fiber akan mengantarkanku mengharungi laut biru dengan keseimbangan yang dimilikinya.
Riuh suasana pelabuhan tak lagi mengenal waktu. Masih pagi, namun oang-orang sudah beraktivitas luar biasa. Seorang lelaki yang telah bermunculan uban di kepalanya mengambil tas dan 2 dus berisi buku-buku yang kubawa. “dari mana?” “dari padang pak” mendengar jawabanku bapak itu lalu beralih bahasa dan berujar “ciek barang 10 ribu”. Ya..orang minang, meski kadang hidup di rantau tidaklah lebih baik dari hidup di kampung halaman tapi tipikal pekerja kerasnya dan tuntutan hidup yang ada telah mengalahkan semua itu. Sergahku dalam hati..
Cerobong kapal berbunyi panjang, aku manarik nafas dalam. Bismillah, selamat tinggal daratan. Di kapal ini aku lebih dulu diperkenalkan dengan rantau yang akan kutempati nanti, bumi melayu. TV samping kanan kiri memberi arahan pada penumpang dengan bahasa melayu. Pun begitu dengan film yang diputar judulnya “bujang lapok”, film komedi melayu membuat penumpang terkekeh dan saling lontar guyonan tapi tidak denganku. Aku hanya memilih melayangkan pandang keluar jendela melihat gugusan pulau-pulau tak bernama, dan ini entah pulau yang keberapa dari yang berpenghuni sampai yang tak ada manusia.
Semakin jauh, jauh perasaanku makin terbawa, tenggelam dalamnya kegundahan. Yang terasa di jiwa. Baru pandangku tercuri ketika film yang dari prolognya sudah bisa kukenal “laskar pelangi”, film yang diangkat dari novel berjudul sama yang sering diceritakan dan dibahas oleh seorang teman. Kali ini menambah rintik air dari pelupuk mata yang sedari tadi coba kusembunyikan dengan mengedip-ngedipkannya agar jatuh ke dalam. Kubuka ranselku, kuraih mushaf coklat pemberian seorang teman itu. Kubaca lagi secarik kertas wangi hijau yang bertuliskan “kemanapun takdir Allah membawa kita, moga hanya syurganya yang akan menjadi muara perjalan itu yang akan mempertemukan kita kelak” Saat itu juga kukirim pesan singkat untuknya ‘bilolah awak kabasobok baliak, rantauku ini terlalu jauh..”

Ornamen-Ornamen Merah Menyambutku

Dari tadi kapal berhenti dan singgah dari dermaga ke dermaga, tapi belum jua sampai ke daerah tujuanku. Di salah satu dermaga ada yang menarik kulihat, penumpang yang berwajah berbeda dari orang-orang yang berada di kapal. Dari mata, waerna kulit dan perawakannya aku dapt simpulkan klau mereka adalh WNI keturunan Tionghoa. Aku lebarkan telinga saat mereka menggumamkan sesuatu, tapi bahsa apa yang mereka pakai. Tak salah lagi bahasa cina atau mandarin “Apa mereka benar-benar Chinese atau mungkin juga Singaporean, kan Singapore dekat dari sini pikirku. Belakangan baru kutahu setelah aku bertanya pada kak Reza, kakak tingkatku di kampus dulu kalau itu memang WNI tapi mereka selalu memakai bahasa China dan Mandarin dengan komunitasnya dan kupun berikutnya tahu kalau bahasa China itu juga beda.
Mentari siang menyinari laut dan membuatnya berkilauan. Akhirnya kapal merapat juga di dermaga tujuanku, Tanjung Balai Karimun. Kelura dari kapal aku oleng, landasan besi terapung tempat kapal bersandar menari-nari dipermainkan riak-riak kecil ombak. Maklumlah orang darat, seumur-umur baru menyeberangi lautan. Perjalanan sekitar 20 jam darat-laut ini adalah perjalanan terjauhku sejak 23 tahun hadir di bumi.
Keluar dari pelabuhan, bangunan-bangunan tinggi yang didominasi oleh hotel, wisma restoran, ruko, rumah money changer, dan bangunan lain yang dihiasi ornamen-ornamen merah menyambut dan mengucapkan selamat datang padaku. Dari lampion-lampion merah, tulisan china, patung-patung yang yak kumengerti apa menunjukan kalau itu milik warga Tionghoa. Memanglah darah Cina selalu menguasai lini strategis di setiap tempat.
Di perjalanan menuju rumah paman lagi-lagi aku disuguhkan pada pemandangan yang membuat aku penasaran. Mataku tertawan menyaksikan sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang bermata sipit. Mereka sedang ada konferensi. Dimasing-masing meja ada 4 atau 2 kursi yang bertelekan cangkir-cangkir kecil yang terbuat dari keramik putih. Hmm berisi minuman pastinya.. “Tempat apa itu mak?” tanyaku pada paman “itu kedai kopi” tukas pamanku.
Benar-benar aneh, jika di Padang ku juga sering menyaksikan tempat warga keturunan cina berkoloni di daerah Pondok sana. Tapi tidak menimbulkan ketertarikan seperti yang kualami kali ini. Ada-ada saja ya, tapi mungkin saja karena itulah yang pertama kali kulihat disini dan orang yang kuceritakan diatas kapal tadi, jadinya menimbulkan respek langsung dari otakku, begitu..
Apapun tapi aku salut, sebuah identitas yang diperlihatkan oleh mereka tanpa diusik oleh pribumi melayu. Sempat terbesit dalam imajiku untuk lebih mengenal dan dekat dengan komunitas itu. Apakah mungkin? Aku yang sama sekali asing bagi mereka. Lagian apa yang membuat aku bisa intens berinteraksi dengan mereka? Yang jelas keinginan itu ada. Wujud atau tidaknya, terserah pada waktu saja yang membuktikannya.

HOME SICK
Diluar hal-hal yang aku temukan sebenarnya aku masih saja dalam gundahku. Aku selalu rindu akan kota tempat kenanganku terukir. Membayangkan saat-saat sore menyusuri trotoar taman kota atu melihat mentari di zona pertukarannya di langit senja, kemudian memandangi bentangan luas langit malam yang berhias purnama, separuhnya, atu sabit dan juga kerlip kejora di atas singgasana sebuah wisma yang ditempati banyak mahasiswa.
Singgasana itu adalah atap tembok luas, seluas rumahnya. Tempat itu adalah tempat favoritku. Tempat yang menimbulkan kesejukan, ketenangan dan kedamaian. Jika bertandang ke sana setiap pagi maka kita akan disapa embunan segar beraroma semerbak yang melegakan rongga-ronga pernafasan. Aroma semerbak itu berasal dari sepetak kebun mawar yang kelopaknya mulai merekah dari kuncup-kuncupnya.
Rinduku meski hanya sebatas kerinduan berjalan sendiri tak tentu arah di sudut kota Padang. Lalu berlabuh pada sebuah tempat yang bernama mall, hanya untuk menikmati sekerucut ice cream kesukaanku. Rindu dengan wisata ilmiah yang tempatnya hanya di beberapa took buku; sekedar melihat judul buku terbaru, melihat gambaran isi dari kulit belakangnya. Jika ada uang, nantinya aku lebih suka membelinya di loakan karena harga yang lebih murah dan lebih terjangkau.
Dan rindu itu semakin menggila saat sibungsu ini teringat umi. Membayangkan diri bersamanya kini. Beliau yang rela tidak membuat kue-kue yang akan dijual demi menemaniku marathon ke taplau (pantai) setelah subuh. Kadang tak jarang pula mengikuti arah kakiku yang tak menentu. Ikut dengannya ke pasar, dan rindu saat-saat resah menunggunya yang terlambat pulang bekerja.
Puncaknya semua rindu itu menyiksaku. Tidur dihantui mimpi, bangun dibayang-bayangi perasaan takut dan perasan kehilangan yang tak tentu. Begitu kehidupan baruku bergulir di rantau. Ketika melihat lautpun aku enjadi takut, gmang dan semacam perasaan aneh yang menyiksa. Pada sahabatku di Padang kukabarkan hal itu “mu, home sick tuh..” begitulah komentarnya

Fresh Graduate pengangguran
Tak ada hal yang lebih membuat seseorang setelah sarjana mendadak stress melainkan statusnya yang tak jelas. Mahasiswa bukan lagi, dibilang pekerja juga bukan alias pengangguran. Inipun mengakibatkan seloroh konyol terlontar “ada orang yang sengaja mempertahankan statusnya sebagai mahasiswa dengan alas an takutsetelahnya tidak bekerja dan jadi pengangguran”. Benar atau tidaknya lontaran itu, yang jelas pengangguran itu sangat tidak menyenangkan dan membuntukan pikiran.
Hidup di rantau tidak selamanya menjanjikan seperti yang dibayangkan banyak orang dan itulah yang aku alami kini. Fresh graduate pengangguran itulah titelku sekarang. Bermodal ijazah keguruan, tiada lain yang bisa kukerjakan selain mencoba untuk menjadi guru. Skill yang minim, belum kenal banyak orang membuat hidupku terkatung-katung di rantau orang. Tapi terkatug-katung bukan karena tidak punya tempat tinggal, tapi terkatung-katung karena statusku sekarang.
Kenalan yang tak pernah kujumpai kuminta bantuannya untuk menginformasikan lowongan pekerjaaan. Koran-koran kulirik kolom bursa kerjanya diam-diam agar keluarga disini tak tahu kalau aku mencari pekerjaan, sebab keluargaku memang telah mengajukan lowongan di SMA kecamatan seberang. Namun secara sadar aku tahu tak mungkin hanya mengandalkan keluargaku untuk urusan ini. Satu persatu lamaran ku masukkan, seperti nekat mau melamar ke salah satu pusat bimbingan belajar yang lebih membutuhkan tenaga pengajar khusus, berpengalaman. Sedangkan diri ini apalah..
Masa-masa ini membuat aku berkecil hati. “mengapa harus meranatau jika hanya jadi pengangguran”. Aktivitas di rumah yang berkutat di kamar tidur, dapur, ruang santai keluarga, beranda membuat jenuhku mendidih. Hingga diri ini sering menghilang dari rumah dengan berbagi alasan. Berjalan tak tentu arah di daerah yang baru aku lakoni. Sampai aku singgah di perpustakaan daerahnya. Meski perpustakaan itu tak sebesar dan seluas perpustakaan kota kelahiranku, namun tempatnya cukup asri dengan buku-buku yang kulitnya masih baru-baru. Membunuh waktu dengan cuci mata ke pusat perbelanjaan. Dan yang paling sering dan aku senangi adalah berdiam di Mesjid yang terletak di pinggir jalan, komplek pertokoan. Rasanya tenang dan menentramkan. Baru setelah agak sore aku pulang. “Engkau kemana saja? “ke rumah kawan” setengah terpakasa kujawab pertanyaan itu dengan berbohong pada paman.

MORO AKU DATANG

Siang ini halilintar bersahutan di langit Karimun. Disusul hujan yang tak kunjung mereda. Tapi aku tetap akan pergi ke kecamatan seberang, kecamatan yang namanya sama dengan daerah yang disebut dan digembar gemborkan media sebagai sarang pemberontak di Filipina selatan, Moro. Ternyata lamaranku di sekolah menengah disana diterima. Meski waktunya berjarak 15 hari lagi untuk mengajar, namun aku lebih duluan ke sana untuk akselerasi lingkungan, tempat tinggal yang baru.
Perjalananku ke Moro dimulai dengan menaiki sampan, untuk dapat menaiki kapal yang bersandar kira-kira lima meter dari tepian. Aneh sekali. Jarak yang harusnya tak perlu ditempuh jika saja kapal yang akan bersauh ke Moro itu merapatkan tubuhnya ke tepi. Tapi inilah mungkin yang dinamakan simbiosis yang sengaja diciptakan para penarik sampan dengan nahkoda kapal. Jika tidak begitu, para penarik sampan tak punya penghasilan untuk mengisi lumbung-lumbung mesin hidupnya.
Kapal bertolak ke selatan, memecah gelombang laut yang agak garang. Entah akan sampai atau tidak ke tempat tujuan, yang jelas aku hanya diinstruksikan untuk menaiki kapal ini dan turun di pelabuhan Moro. Satu jam lebih, akhirnya kapal merapat. Berkali-kali kutanyakan pada ABK apakah ini daerah yang bernama Moro itu, untuk meyakinkan. Segera saja kupencet tombol ponselku minta kakak sepupu untuk menjemput.
# # #
Benar-benar mencengangkan! Aku telah sampai di kecamatan seberang. Jika di darat desa-desa ditandai dengan sawah, bukit, pegunungan, lereng-lereng rumah di tepi lembah maka Moro tidak bisa kusimpulkan seperti itu. Moro adalah wilayah perairan, yang menandakannya desa adalah ketiadaan angkutan seperti angkot, taksi seperti yang kita kenal di kota, yang ada hanya becak, sepeda motor, beberapa mobil pick up pengangkut air, 1 mobil baheula seperti yang aku lihat untuk mengantar para Tionghoa ke Vihara di Balai, 1 mobil raja Bone yang digunakan untuk mengangkut barang dagangan ke pasar.
Beberapa fasilitas umum yang bisa dihitung dan dideskripsikan langsung. Puskesmas, gedung pertemuan, kantor camat, kantor lurah, stadion, gedung olah raga, sebuah pasar kecil, mesjid tua yang berdiri sejak tahun 1910, mesjid besar, dan 3 surau, 7 gedung sekolah; yang terdiri dari 1 SMA, 1 SMK, 1 SMP, 1 MTs, 3 gedung SD yang satunya juga digunakan sebagai universitas terbuka yang dikelola oleh salah satu universitas di Batam. Tiga bangunan gereja dan ada tiga Vihara, yang satu dekat pelabuhan, satu lagi di jalan menuju ke daerah pantai, terakhir yang paling jauh namun paling besar dan mewah terletak dekat ketinggian di penghujung daerah ini dengan pemandangan laut yang indah. Konon, banyak pelancong Singapore berdoa disana dengan alasan doanya makbul alias langsung dikabulkan.
Aku tak tahu akan seperti apa aku menjalani hidup di sini Apakah ini yang akan dinamakan culture shock yang dulu aku pelajari dalam mata kuliah Cross Cultural Understanding? Entahlah……

Ekspresi Rindu

Sore, untuk yang kesekian kalinya aku duduk d beranda rumah. Tanpa aktivitas yang jelas hidup memang menjadi serba salah. Duduk susah, berdiri susah. Mondar-mandir depan belakang. Seperti biasa mataku hanya tertumpu pada arah yang sama, utara. Karena kursi yang dibuat seadanya dari sisa kayu pembuatan mimbar MTQ itu memang menghadap ke utara. Bagiku tak ada alasan untuk memindahkannya, jika dihadapkan ke timur hanya bertemu dengan jalan dan rumah orang, jika ke selatan bertemu tembok penyekat rumah dengan rumah tetangga, apalagi bila ke barat, hanya akan berhadapan dengan dinding kaca rumah sendiri. Kursi kayu yang bagaimanapun posisi kita duduk tidak akan merasakan nyaman mendudukinya. Karena lebar dan sandarannya tidak pas ukurannya..
Meskipun begitu tetap saja itu tempat yang paling sering aku duduki. Di sana setidaknya, tidak membuat mataku yang sering lelah bertambah parah kelelahannya. Rerumput hijau padang (lapangan) bola, pohon-pohon yang jumlahnya tak seberapa, lantas masuk ke area jauh di ujung sana; diamana langit kelihatan rendah dan kuyakin di sana pasti ada laut, sebuah pulau berpenghuni entah bernama apa. Kemudian menjalar, memutar kembali episode-episode perjalananku kemari, ke rantau ini.
Tiga puluh menit duduk di beranda, aku putuskan masuk ke ruang tamu merebahkan diri di sofa, menerawang pada langit-langit rumah. Samara-samar terdengar irama, kutegakkan 2 daun telinga, makin jelas semakin jelas motorik syarafku segra menangkap “lagu minang”! meski aku tak menyukai lagu minang (hanya beberapa saja yang aku suka) dengan berbagai alasan namun irama itu mengajakku melangkahkan kaki untuk kembali ke beranda untuk mendengar dengan seksama lagu itu.
Sumber suara lagu itu berasal dari tetangga depan rumah. “Wah, berarti keras sekali loud speaker nya” hingga samapi terdengar ke rumah. Tak dinyana lagi memang benar, lagu itu diputar oleh tentangga depan, perantau dari daerah pesisir Sumatera Barat, Pesisir Selatan. Maka bagiku mendengar irama khas minang dari lagu itu membawa seluruh rasa terbang jauh meninggalkan pelosok negeri kepulauan ini. Terbang mengharungi samudera biru, menyusur lika-liku daratan nan berkelok-kelok. Sampai akhirnya menemui penghujung jalan tempatku bernaung dulu.
Ah, begitu besar efek sesuatu yang berhubungan dengan kampong halaman dengan dalamnya perasaan. Sesuatu yang jika di daerah sendiri tidak akan pernah dirasa, sesuatu yang menyita seluruh adrenal rindu untuk menjenguk tanah kelahiran, lalu menyayat-nyayat di jiwa sebab raga di sinilah berada. Barangkali itlah ekspresi rindu orang-orang di perantauan.
Berdasarkan pengalaman, dan yang aku saksikan sendiri orang-orang di rantau manapun kerap menyanyikan lagu asal daerah asal masing-masing karena itulah sarana yang mengajak mereka kembali merasakan hidup di kampung halaman. Dengan hal itu mereka mengingat negeri asal mereka, dan merasa berada di sana. Juga sama denganku yang selalu terpantik rindu oleh sesuatu yang berhubungan dengan asalku. Tetangga depanku itupun sama sebab ketika ditanya “Lah lamo uda di siko da? Lai acok uda pulang?” laki-laki yang telah 7 tahun meninggalkan kampung halaman ini menjawab dengan sorot mata yang tak biasa, meski tak nampak jelas namun kutahu dibalik retina itu berkilatan bulir-bulir kaca. Sambil tersenyum lalu aku menimpali “Bilo-bilo pasti katajalang juo kampuang nak da?

Meski Hanya dari Layar Televisi

Layar kubus dengan motion gerak manusia di dalamnya adalah dua sisi mata uang yang sangat berbahaya. Berbahaya karena banyak hal-hal negative dan efek buruk yang ditimbulkannya. Namun dilain sisi benda itu adalah jendela dunia yang sangat berguna
Warta di pagi menjelang siang dari layer TV 21 inch di ruang tengah rumah menggentarkan seluruh pori-pori. Wanita-wanita muda berpendidikan yang kebanyakan berstatus mahasiswa, ibu-ibu muda sambil tangan kanannya menggendong atau menuntun balita dan sisi kirinya memegang spanduk bertuliskan sesuatu, perempuan paruh baya, bahkan mendekati usia senja, kaula muda Adam, bapak-bapak serta generasinya tumpah ruah di bundaran HI Jakarta.
Mereka seperti semut berjejer rapi, dikomandoi oleh beberapa orang yang amenyandang TOA dengan satu pundaknya. Dari samping- ke samping ada barikade dari tali panjangnya puluhan meter. Dengan serempak mereka berjalan, sesekali berlari. Suara lantunan takbir bergemuruh, disertai kepalan tangan perlambang kekuatan arti takbir itu. Menggentarkan setiap mata dan jiwa yang mendengarnya. Disusul yel-yel yang juga tertulis di spanduk yang mereka genggam dan diacung-acungkan perlahan ke atas “freedom Palestine, save of Palestine” “Isarel terrorist” “one man one dollar to save Palestine” “Palestine bebaskan, yahudi hancurkan!”
Berkali-kali warta itu habis berkali itu pula jemari tangan ini memencet tombol remote control TV untuk menukar dan mencari breaking news TV lain yang menayangkan hal serupa. Tayangan itu bagiku tidak hanya sekedar aksi solidaritas namun juga panggilan rindu untuk turut serta di dalamnya seperti waktu-waktu dulu semasa kuliah di ranah minang. Sebuah aksi membumi, membelah langit angkasa.
Betapa aksi itu tidak hanya sekedar kata, namun juga dukungan kepada saudara-saudara sesama muslim yang terjajah, sekaligus pembuka mata dunia tentang orang-orang yang tempatnya bernaunng binasa dan porak poranda oleh kekejaman yahudi laknatullah! Mereka yang terenggut hak-hak hidupnya sebagai manusia merdeka. Mereka yang setiap detik di pekakakan oleh desingan peluru, dentuman bom-bom yang dijatuhkan dari udara. Setiap detik nyawa mereka menjadi mangsa tanpa aba-aba. Semua terjadi begitu saja, tanpa tekanan ntuk menghentikannya dari Negara-negara adi daya dunia. Namun dari sini, dari bumi ini sejuta cinta akan terus membahana untuk Palestina.
Perlahan mataku pejamkan, hatiku rindukan seraya mengikuti bait-bait doa yang dilantunkan pada Allah Maha Rahman usai mengumumkan jumlah pinjaman kepada Allah –sebab pinjaman yang diberikan di jalan Allah adalah pinjaman yang akan dijadikan Allah di akhirat kelak- pinjaman itu berupa uang, anting, liontin, jam tangan, Hand Phone, cincin pernikahan dan berbagai barangt berharga lainnya yang akan sepenuhnya diberikan untuk saudara-saudara kita, tidak hanya yang seiman namun siapapun yang jadi korban, rakyat Palestina.
Meski hanya dari layar televise, aku turut merasakan kedamaian yang meliputi bumi. Betapa doa dari hati-hati yang ikhlas mampu meneduhakan langit yang berjelaga karena tering sang penguasa siang, mentari. Keteduhan itu merambat ke sekujur aliran darah, tak tertandingi apa-apa. Segenap kuberucap Subhanallah dan mengaminkan doa yang teruntai indah itu sembari menyeka buliran-buliran yang mengalir dari pelupuk retina..

Sekolah
Atap sekolah itu berbentuk segi lima. Di dinding luarnya terdapat ukiran-ukiran khas melayu yang dicat hijau, biru, dan merah. Di tiang-tiang penyangga atap bagian depan tergantung bunga-bunga. Bunga-bunga itu menjuntai dari potnya. Gedung itulah tempatku akan berkantor, ruang majelis guru. Tempat guru beristirahat menjelang, sesudah, dan di jeda jam pelajaran sekolah. Disini juga berpusat dapur sekolah; ruang tata usaha, dengan komputer membelakangi jendela kaca yang pada hari-hari sibuk staf-stafnya umpama pialang saham karena serius dengan kerjanya di depan komputer masing-masing. Berbelakangan dengan tata usaha, itulah ruang kepala sekolah. Ruang wakil humas, kurikulum , kesiswaan dipisahkan seperti petak kamar-kamar.
Tepat di gedung itu ada lapangan three in one alias lapangan yang dijadikan sebagai lapangan upacara, arena bola kaki, bola basket, takraw dan volley, ouh ternyata bukan three in one lagi tapi five in one. Di depan lapangan itu berderet tiga lokal belajar siswa, di samping ruang-ruang kelas itu terpisah ruang perpustakaan, terus ke ujung sampai ke sisi belakang raung komputer, laboratorium IPA, dan bahasa yang juga akan jadi tempat ngendonku. Di sisi kiri lapanagan juga terdapat tiga kelas berjejer, lalu secara terpisah tepat di kaki akasia ada 3 kantin. Berjarak satu meter dari kantin itulah mushalla, Nurul Ilmi namanya. Disamping dan depan mushalla terdapat dua gedung asrama, asrama yang belum berpenghuni itu sedianya dibangun untuk siswa-siswi yang berasal dari pulau-pulau luar kecamatan ini. Terus tiga deret kelas lagi ada disisi kanan lapangan dan dibelakang kelas itu ada lagi tiga ruang kelas parallel.
Setelah melihat-lihat ruangan-ruangan itu bel berbunyi. Hari senin 04 Januari 2010, Bismillah, hari pertamaku di sekolah ini dimulai dengan upacapenaikan bendera. Semua warga sekolah berbaris. Murid-murid sambil berbisik-bisik menoleh ke arahku. Aku tahu barangkali mereka membisikan ada guru baru. Tapi aku tetap agak grogi, maklum pertam kali jadi guru meskipun dulu saat kuliah pernah praktek mengajar di sekolah. Tapi ini real lho..! entah apa yang dibayangkan oleh calon murid-muridku itu. Aku yang tinggi hanya 155 cm tingginya, dan berbobot 43 kg tentunya posturku lebih kecil dari mereka. Aku gugup menantikan upacara ini selesai, membayangkan diri akan berdiri di hadapan kurang lebih 40 pasang mata di tiap-tipa kelas. Ah, apapun aku tetap meyakinkan diri bahwa aku ini adalah guru mereka.
Sebelum masuk ke kelas terlebih dahulu aku menyinggahi ruang kepala sekolah untuk mengahdap. Ruang kepala tentu saj beda dengan ruangan majelis guru. Ruang itu dilengkapi AC pendingin, berada disana terasaadem sekali. Sedikit basa-basi lalu kepala skolah memperkenlakan sekolah dan tentunya menuntut anak buahnya untuk professional dengan kerjanya “ini akan berat” sergahku dalam hati. Setelah berlalu ke luar lalu aku teringat dan berpikir“ pantas saja dosenku dulu rasanya sebegitu kerasnya menggembleng mahasiswanya, malah waktu bimbingan skripsi beliau sempat membilang aku bodoh, huhg… Ucapan yang sebenarnya tak santun itu, tapi bagiku itu sebuah motivasi.
Dengan sesimpul senyum aku ucapkan salam pada murid-murid “Assalaammu’alaikum, good morning every body” lalu bla-bla kuperkenalkan diri. Berbagai pertanyaan dilontarkan murid-murid bahkan memintaku menceritakan pengalaman semasa sekolah dan kuliah dulu. Dan yang paling membuat aku geli adalah pertanyaan lugas mereka “miss dah punya soulmate” “hmm punya kataku, orang tua dan keluarga tercinta”, “bukan itu miss” meski aku tahu apa yang mereka maksud tapi jawabanku itu adalah jawaban yang jujur bukankah orang tua, keluarga kita adalah soulmate sesungguhnya bagi kita? Lalu setelah bosan meningkahi mereka dengan jawaban-jawaban itu barulah kutanggapi “Pacaran setelah menikah” “so sweet….” Respon mereka dengan riang.

Rombongan Tionghoa
Paradigma negatif yang lebih dulu tercipta dalam frame berpikir kita sering kali membuat kita keliru dalam menyimpulkan sesuatu. Keliru karena hal itu adalah wilayah kita menduga-duga kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakalan ada, menyimpulkan tanpa data, dan fakta, tanpa dicoba, lantas membatasi diri begini dan begini.
Dulu saat menginjakan kaki di perairan ini sebuah keinginana telah terpancang; mengenal lebih ekat dan berinteraksi dengan warga Tionghoa. Kini keinginan itu ada di depan mata. Sebagai wilayah perairan yang penduduk mayoritasnya melayu dan Tionghoa maka adalah wajar ada wajah-wajah bermata sipit di sekolah ini. Mereka adalah anak-anak yang tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk bersekolah ke Batam, untuk mencari pendidikan yang lebih baik.
Mereka suka berkelompok, dan memakai bahasa china sesama mereka. Sulit bagi siswa-siswi lain untuk bergabung dengan mereka. Interaksi dengan siswa-siswa lain hanya sekedar saja. Pun jika ada yang akrab dengan yang lain itu karena tak ada lagi teman seketurunan di kelasnya, atau memang karena kepibadian luar biasa yang dipunya contohnya Arjunita, anak pemilik kedai kopi yang klop dengan budak melayu.
Aku sendiri heran kenapa bisa begitu. Tidak bisakah mereka berbaur? Sama seperti orang tua mereka yang ada di kompleks ruko kat (di) pasar. Barang kali karena bahasa, kepentingan, kesamaan yang membuatnya begitu. Namun aku tak akan diam saja tanpa mencari tahu apa penyebab sesunguhnya.
Kantin yang kalau mereka sampai duluan mereka blok mejanya untuk sesama mereka. Unikya satu orang di kantin yang satu maka sebagian dari mereka akan menuju ke sana. Dan inilah mungkin saat yang tepat bagiku untuk masuk dan bertanya selagi aku berada ditengah-tengah mereka di kantin ini. Ringkasnya aku menanyakan “Kenapa tak gabung dengan yang lain?” setelah mereka jelaskan, aku menyimpulkan ada trauma yang tersisa di benak mereka, sebab senior mereka dulu punya cases dengan anak-anak lain. Mungkin gara-gara cases itu mereka diwanti-wanti untuk tidak terlalu bergaul. Hm begitu rupa-rupanya. Lalu bisakah aku mengenal mereka secara dekat?
Semua kekhawatiran itu akhirnya patah. Untuk menyibukan diri, dan usulan dari kepala sekolah aku membuka kelas belajar bahasa Inggris sore setelah pulang sekolah. Informasi pendaftaran untuk kelas itu kubuat alakadarnya. Entah dapat inspirasi dari mana segera saja kelas ini kuberi nama English Corner. Aku tak muluk-muluk dengan program ini. Cukup 10 orang saja yang mendaftar akan kulaksanakan segera.
“Miss saya mau ikut daftar miss.. Begitu ucapan berlogat china terlontar dari mulut seorang siswi IPS 3, Voga namanya. “owh ya” aku meyambut gembira “ajak kawan-kawan ya” tambahku. Akhirnya English Corner Class itu di mulai juga, dengan 15 dari 18 pesertanya berwajah china. Alhamdulillah, aku tak nyangka mereka mau ikut.

Miss Oi..
Dengan menggaris bawahi bahwa itu adalah kelas non formal, alias bukan kelas pada saat jam sekolah, maka kelas ini harus diciptakan serileks mungkin. Penggaris bawahan itu tanpa sadar membuat aku terbawa pada ekspresi malu-malu ku ketika grogi. Semua itu refleks, dan kontan membuat mereka tertawa “Miss lucu”. Astaga, aku tak sengaja.
Intetitas pertemuan di English Corner itu membuat interaksi kami jadi lebih fleksibel. Tentunya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Kan miss ajarkan mike (kamu) bahasa Inggirs, miss maulah diajarkan bahasa china” basa-basiku retoris. “Newa, apa itu senghu, perasaan tadi miss dengarlah” “senghu, tak ada miss, itu bukan bahasa china” “miss salah dengar kali ya” lalu tidak puas dengan jawabannya sendiri atau karena melihat sorot mataku yang seolah masih berusaha mencari apa maksud dari kata-kata itu maka dia menjelaskan padaku “bahasa china itu juga terbagi miss, sama seperti bahasa daerah gitu. Kalau yang kami pakai sehari-hai ini bahasa china thewcou. “Lalu apa bedanya dengan bahasa mandarin? Sergahku memburu “Mandarin itu bahasa resmi, samalah kayak Indonesia bahasa resminyakan bahasa Idonesia, dan ada juga bahasa daerahnya”
Bagai mana caranya belajar dengan mereka. Secara lisan, nanti kalau aku salah karena tak tau persis apa tulisannya, aku kan malu. Yup, aku tau! Mulailah aku punya block note bahasa china. Aku minta Newa dan Arjunita mencatatkan bahasa china yang biasa digunakan sehari-hari beserta arti bahasa Indonesianya. Terkadang aku buat bahasa Indonesianya dulu (yang kira-kira kubutuhkan) baru meminta mereka menuliskan thewcounya untukku. Dan itu lebih seseuai dengan apa yang ingin kuucapkan.
Pagi-pagi sebelum masuk saat mengunjungi kelas, untuk mengontrol piket, aku dicegat oleh beradik kakak Olif dan Mayko. “Miss ciak pa boe?” aku bingung harus menjawab apa, walau aku tahu apa yang mereka tanyakan bahwa aku sudah makan belum? Tapi aku ragu yang mana satu harus digunakan, akhirnya aku jawab”Boe, sudah” Mereka cekikan mendengar jawababn itu. “Boe itu belum miss” begitulah pelajaran bahasaku berlangsung, walau kedengaran aneh cara aku mengungkapakannya tapi aku senang.
“Miss oiii…” kompak mereka yang tengah duduk di kanti meyapaku yang lewat menuju mushalla sekolah, karena Dzuhur telah menyapa. “Miss le ai khe dikho?” jujur aku tak tahu apa maksud mereka karena kata-kata itu belum ada dalam notes ku, tapi karena berpikir akan konteks dan situasi aku jawab mau shalat. “100 untuk miss” anggapanku mereka menanyakan bahaa aku mau pergi kemana ternyata betul. “o ya, tapi oi setelah kata-kata miss itu apa ya?” Tambahan ramah untuk menyapa saja miss” inilah salah satu obat laraku di rantau.
4 Gadis
Dulu waktu baru kesini hanya ada satu guru muda dan masih single. Cocoklah buat jadi temanku apalagi mengetahui kalau dia urang awak, Pariaman. Hanya saja seperti pamanku dan anak-anaknya beliau telah lama menetap di Karimun. “Tamatan mana kak?” “UNP 03 Basindo tapi SD-SMA di Karimun. O ya tak usah panggil kakak, panggil uni saja dan bahasa minang ok” tukas ni nopi lengkap. Begitu aku memanggilnya waktu itu sebelum panggilan itu berubah jadi nona, karena bahasa Inggris dipanggil miss, bahas Indonesi dipanggil nona donk, he meranyah (ngawur) bahkan sampai beliau telah menuikahpun aku tetap memanggilnya nona bukan nyonya.
Tak jauh berselang, dua bulan setelah itu kami kedatangan teman baru; 1 urang awak juga, Painan namanya Ismaleni sebelum berubah nama menjadi ni Mayang, 1 lagi Nita asal Kuala Enok, Tembilahan. Sebagai orang yang seranah sepernaungan bahasa minang adalah bahasa pengantar komunikasi kami. Apalagi setelah tau Nita bisa bahasa minang karena kuliah di Pekan Baru, yang setanah dengan sumbar. Tapi bukankah bahasa minang itu adalah bahasa daerah yang paling mudah? Lama aku telah berpikir begitu. Tinggal mengganti A dengan O atau sebaliknya misalnya pada kata Apa menjadi apo, pening menjadi paniang. Tak seprti bahasa daerah lainlah kira-kira misal mulak untuk pulang, manuk untu masak (Medan). Bahasa melayu dan Idonesia hanya kami gunakan suka-suka kami.
######
Suatu hari setelah maghrib usai kami duduk-duduk di taman telkom. Taman telkom ini disediakan oleh telko untuk duduk-duduk. Ada empat tempat duduk dari batu sekaligus mejanya di situ. Karena letaknya yang di ketinggian maka dari tempat ini kami dapat melihat laut dari kejauhan, dan jika saja tak ada penghalang yang menghalangi pandang kami, maka samping kanan-kiri, depan belakang akan nampaklah laut. “wah kita dikelilingi laut ya?” tukasku lugu “Ya iyalah neng kita aja tinggal di pulau.” “he he he” sambil tertawa aku menyadari kebodohan diri sendiri.
“sekarang miss” tukas mereka memaksaku mengungkapkan sesuatu Karena dari tadi aku hanya sebagai pendengar cerita mereka. “Saya bosan di sini, saya rindu pulang” begitu curhatku pada mereka, itu saja yang aku ungakapkan. Lalu ketika lucu aku ikut tertawa, ketika sedih ikut berempati, dan kalau ngegosip ikut menimpali. Astagfirullah, begitulah kalau perempuan sudah berkumpul, tapi syukurlah kami dapat mengontrol diri “Sukah kalian memakan bangkai saudara sendiri?” “Andai saja kita lebih bisa melihat kekurangan dan aib diri sendiri, kita tentu tak akan disibukkan oleh kekurangan dan aib orang lain” kata-kata itu terpaku dihati.
Saat berada disitu kami pernah melakukan sebuah simulasi untuk menguatkan diri. “coba miss rentangkan tangan miss. Saya akan ukur jarak miss merentangkan tangan. Lihat ya semua dari sini sampai ke sini. Nah sekarang miss dengarkan instruksi saya, coba miss rentangkan tangan sambil membayangkan hal yang indah-indah yang ada dalam pikiran miss. Coba rentangkan tangan sejauh-jauhnya.” “nah sekarang mari kita ukur lebih panjang mana rentangan tangan miss yang pertama dengan setelah dikasih sugesti” Dengan soknya Nita bak motivator handal, padahal saat pertama bicara lebih mirip pesulap “tatap mata saya” membuat ni Mayang dan nona tertawa cekikan dan tidak jadi mencoba simulasi itu, hingga akulah kelinci percobaan malam itu. Dan benar saja berhasil, dengan kesimpulan kalau kita melakukan sesuatu dengan hati bahagia, ngajar misalnya pasti akan lebih bermakan rasanya dan tidak akan jadi beban. Aku manggut-manggut tapi kemudian tak satupun diantara kami yang konsisten dengan hal itu.
Angin malam berhembus menusuk tulang. Sudah berjarak 1 jam dari tadi. Orang-orang yang telah membelokan moncong motornya ke gerbang telkom ini mungkin ngedumel melihat kami belum juga beranjak dari tadi, padahal ini adalah tempat mangakal mereka, muda-mudi. Dibatasi malam yang merangkak cepat maka serunya obrolan kami harus diakhiri. Di luaran, malam itu ‘jahat’. Di rumah aku menyempatkan mengirim sepenggal pesan pada Nita “kita berempat ini bermasalah semua ya, bisa tuh dibuatkan bukunya” candaku mengada-ada. “Iya, kita adalah 4 gadis. Bisa saja kok kita lakukan hal itu seperti 4 gadis Arab yang senasib, mereka selalu menceritakan kisah-kisahnya di dunia maya” “hmm 4 gadis, keren juga tuh kedengarannya”.

Tamu Bule dan Hunting Tourist
PAgi menjelang siang, kepala sekolah menginnstruksikan guru-guru untuk berkumpul. Naga-naganya akan ada rapat dadakan. Rapat apakah gerangan? Tak biasanya rapat diadakan tanpa undangan yang ditanda tangani di buku besar dan tanpa konfirmasi sebelumnya. Rapat untuk ujina tidak mungkin, pengawas akan datang juga tidak, karena baru semingu yang lalu pengawas nangkring untuk mengecek sekolah. Masalah murid-muridkah? Tap perasaan kalau masalah murid-murid hanya dibahas setelah rapat-rapat peting sekolah, tak pernah mengambil waktu khusus.
Meja dan kursi guru yang letaknya berhadap-hadapan terisi penuh. Semua guru hadir tak terkecuali staf tata usaha sekolah. Kepala sekolah dengan sigap mengambil posisi di bagian tengah, paling ujung dekat dinding hingga posisi duduk kami akhirnya berbentuk leter U. “bapak, ibu akan datang tamu asing yang ingin berkunjung ke sekolah kita. Jadi diharapkan pada kia semua dapat menyambut dan menerima kehadiran mereka dengan baik. Mereka akan membantu menyediakan fasilitas parker di sekolah ini, disamping itu juga ingin bersosialisasi dengan kita semua terutama dengan murid-murid”
Tamu-tamu yang akan datang itu adalah tamu dari The America International School yang terletak di Dakha, Bangladesh. Mereka melakukan kunjungan semacam field trip tahunan ke negara-negara lain. Kali ini mereka dari Singapore lalu datang ke Telunas, salah satu pantai indah milik turis di pulau sugie yang termasuk juga kecamatan ini. Mungkin karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Singapore maka merekapun tak melewatkan promosi yang ditawarkan oleh pengelola resort ini untuk berkunjung.
Lalu kenapa bisa salah satu pantai cantik di pulau terpencil di pedalaman pulau ini dimilliki oleh asing? Pantai dengan andalan pasir putih, air laut yang jernih, oleh pengelolanya dibangun penginanpan yang semuanya terbuat dari kayu, dan beratap pohon nipah. Bangunan itu berbentuk pondokan-pondokan indah yang berderet deret di laut. Untuk menghubungkannya ke tepi pantai ada jembatan kayu tersusun rapi yang tersambung dengan bangunan itu. Jika malam bangunan itu tampak anggun dengan penerangan lampu yang bercahaya, sehingga mereka seperti kunang-kunang di laut malam.
Seperti pulau-pulau lain yang ada di Indonesia yang dijual oleh orang-orang ak bertanggung jawb begiulah adanya dengan pulau ini. Kabarnya pantai di pulau ini perjalanannya melibatkan orang berkuasa di provinsi ini. “kenapa harus dijual kepada pihak asing untuk mengembangkan dan memperoleh devisa dari sana, kenapa tak diberdayakan dan dikelola sendiri. Toh, sebenarnya kita mempunyai sumber daya untuk itu. Hanya saja mungkin untuk kesana prosesnya agak lama”. Sudahlah jadi melibatkan emosi jika membahasnya. Lagian tadi kepala sekolah tak ada membahas masalah itu, melainkan masalah penyambutan tamu.
Tamu-tamu itu akan datang besok pagi. Aku sebagi salah satu guru bahasa Inggris diminta untuk mempersiapkan anak-anak agar dapat berinteraksi dengan mereka. Jadilah pada hari itu aku dan guru lain sibuk memanggil anak satu oersatu untuk dikumpulkan dan diberikan arahan. “kalian tak perlu takut untuk berkomunikasi, bersikpalah wajar. Sebenarnya tak perlu bahasa Inggris yang sempurna untuk dapat beekomunikasi yang penting apa yang kamu sampaikan dapat dimengerti mereka” ha ha ha percaya diri banget gurunya., padahal dulu aku pernah punya trauma dengan bule karena masalah komunikasi inilah.
Waktu itu saat masih menempuh pendidikan di angku kuliah tepatnya pada semester lima, kami ada program khusus dari jurusan namanya hunting Tourist. Kegiatan ini adalah kegiatan untuk mengaplikasikan bahasa Inggris kami secara real dengan nativenya. Maka saat itu kami serombongan kelas menuju kota wisata yang terkenal dengan jam gadangnya, Bukit Tinggi. Aturan main untuk kegiatan ini adalah kami dibekali lima lembar kertas yang berisi biodata turis, pandangan serta komentar mereka terhadap kami setelah kami berinteraksi dengan mereka, plus tanda tangan mereka. Berarti kami harus berhasil menggaet lima turis di kota ini, bahkan jika bisa memboyongnya untuk datang ke kampus kami di Padang.
Sampai di Bukit Tinggi kami ditransitkan ke wisma, penginanpan untuk meletakan barang-barang bawaan sebab rencananya kami akan disini selama 2 hari. Kami bergegas dan bersemangat tanpa ampun. Aku dan kawan-kawan diturunkan di lokasi sekitar jam gadang untuk mengincar para turis sampai ke kampong Cina, Zoolical Graden, dll. Aku dan dua orang teman lainnya yang sekelomppok menghabiskan siang tanpa ada satupun turis yang kami gaet. Maklum saja jarang turis yang keluar pada waktu itu, palingan nanti sore atau di saat magrib akan menjelang. Tapi kami tak pernah menyerah, seperti pemburu berita yang mengincar kemanapun dan dimanapun mangsanya, meski raga telah lelah, hanya kekuatan hati saja mengalahkan itu semua. Kami tak mau ambil resiko jika tak mendapatkan turis hari ini artinya kami tak akan bisa melancong ke sana ke mari keesokan harinya sebab masih disibukan dengan kegiatan ini, atau paling parah jika tak juga, maka bersiap-siaplah untuk mencari dan melanjutkan kegiatan ini di Padang.
Petang menjelang kami seperti gelandang yang lalu lalang di jalan yang sama. Apalagi ketika melewati sebauh restoran yang menggiurkan, melihat orang berkecipak menikmati makanan yang terhidang di meja. Tapi kami harus tetpa focus, tak peduli dengan apapun bahkankalaupun orang-orang yang tempatnya sedari tadi kami lalui ngomong “wajah kalian aja yang nampak dari tadi” tak akan membuat perhatian kami tersita.
“Bule……kejar!” Hh hh hh setengah terperangah kami mengejar bule yang sedang berdiri di depan took souvenir di daerah Kampung Cina. Tanpa Babibu kami meyerobot mereka. Dengan gaya sok manis, sokakrab, sok lah pokoknya, lalu kami mulai” Hello Sir, May us disturb you,” mendapat respon positif semakin bersemangatlah kami. Tapi kami baru mendapatkan 3 turis, masih ada dua lagi. Maka kami siaga memperhatikan orang-orang berperawakan tinggi, rambut pirang, bola mata hijau, biru, coklat, berkulit putih kemerah-merahan. Bahkan kami sampai salah orang, disangka orang barat eh ternyata orang Sumatera Barat.
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke lokasi Jam Gadang.sembari duduk-duduk melepas penat mata kami tetap awas. Dan ada satu target lagi, seorang lelkai yang berusia lebih 50 tahunan. “yuk kita hampiri!’ kata seorang teman. Entah kenapa hatiku berat. Dan disinilah malapetaka itu terajdi. Aku lebih dulu mneyapa bule itu. Dia melihatku dari jilbab sampai ke kaus kaki dengan sorot mata berkilatan benci. Tanpa diduga lalu dia langsung berkomentar “don’t distub me, I don’t care about your’s project” lalu seperti petir menyambar dia berujar “Islam is terrorist’ aku lanngsung shock dan terperanjat mendengar kata-kata itu dari mulutnya. Mimic wajhaku seketika berubah tapi bodohnya aku tak bisa langsung berkata-kata untuk membela agamaku atas kekeliruannya –memang saat itu lagi booming-boomingnya isu teroris yang diidentikan pada Islam-. Sebab tanpa sempat menjawab dia berkomentar lagi dia lebih suak pada anak-anak kecil yang berkeliaran di sekitara sana. Entah akan diapakannya anak-anak itu. Lalu berlalu pergi
Jantungku tak berhenti berdegup, aku emosi sekaligus benci dengan diri sendiri. Ketidak mampuan beragumen dan berkonunikasi membuat aku kalah lebih dulu, apalagi setelah dipukul mental habis-habisan. “Ya Roobb, bahkan berucap sepatah katapun untuk membela Izzah din summul ini aku tak bisa..” padahal sesudah itu aku berpikir bisa saja aku langsung menanyakan “why do you say like that?” lalu meluruskan kesalah pahamannya atau setidaknya menjelaskan bukan begitu sebenarnya.
Ah, jadi membuka cerita lama, namun itulah pelajarn yang paling berharga. Tepat pukul delapan tamu-tamu itu datang, kami bersiap-siap menyambutnya di depan gerbang. Dari kejauhan tampak wajah-wajah mereka; ada yang American, Malaysian, Korean, Japanese, Korean, Bangladesh, Nepal, dan negara lainnya. Mereka remaja setingkat SMA kelas tiga yang akan menamatkan sekolahnya sebentar lagi. Kami menyambut mereka ramah dan wajah merekapun cerah menerima sambutan kami. Aku dan guru-guru menggiring mereka ke aula untuk perkenalan diri secar formal, perkenalan sekolah masing-masing, dan job description yang akan dilakukan setelah ini. Dan karean guru bahsa Inggris senior lagi tak di tempat, maka akulah yang jadi sasaran untuk menyampaikan gambaran tentang sekolah dan memandu mereka sekalipun mereka juga datang dengan pemandu dari Telunas resort.
Sekonyong-konyong aku hantam saj berbicara. Salah benar, tepat tidaknya pronounciationku itu soal nomor dua. Aku meyakinkan diri sendiri dengan kata-kata yang dulu pernah disampaikan seorang dosen “wajar kita salah, karena itu bukan bahasa ibu kita” meski pendapt itu harus diralat lagi, tapi untuk motivasi kata-kata itu luar biasa. Lagian akuk takmau trauma itu terulang kembali. Aku yang berbusana berbeda dari mereka, tentunya mereka tahu kalau aku adalah seorang muslim, dan aku harus membuktikan sesuatu dengan itu.

Indahnya Kerjasama
Rombongan tamu yang datang itu ada sekitar 30 lebih, 30 lagi merupakn rombongan kedua yang akan datang di Sabtu berikutnya. Sebelum melakukan misi utam mereka yaitu membuatkan parkiran untuk siswa, lebih dahulu kami mengajak meeka melihat-lihat keadaan sekoalh, dan fasilitas-fasilitas yang ada. Ruang kelas, laboratorium IPA, bahasa dan perpustakaan. Kami menjaelaskan semampu kami tentang segala yang afa dan hambatan-hambatannya seperti kekurangang daya listrik untuk menyalakan semua peralatannya. Lantas dengan rendah hati mereka berkata “kami pikir itu masalah semua negara, bukan disini saja.
Di perpustakaan aku tertarik untuk mendekati seorang siswa yang sedang meliaht buku di rak-rak. Namanya Rumana, asli Bangladesh. Gadis cantik berwajah lembutt itu sedang memegang buku Habis Gelap Terbitlah Terangnya RA Kartini. Aku sempat menjelaskan tentang apa buku yang ada digenggamannya itu dan diapun langsung merespon kalau di negaranya juga memilki cerita yang sama. Alhamdulillah, siswa-siswapun bersemangat untuk berinteraksi dengan tamu-tamu, mungkin karena mereka sebaya.
Percakapan berlangsung dengan gadis itu dan beberapa lainnya. Sambil berjalan menuju halaman depan sekolah –area yang akan kami garap untuk dibuat parkir- kami salung bertukar informasi dengan negara masing-masing. “Rumana Rumana Rumana” aku bergumam, terus terang aku suka dengan nama itu, kalau ditilik dari kata dasarnya Rum aku jadi ingat dengan salah satu surat di dalam Al Quran Ar Rum yang disana terdapat kata Rumanun, banyak buah delima. “Tapi apa arti namanya itu, apakah gadis ini seorang muslimah?” agar tak penasaran aku langsung bertanya “what the meaning of your name, Rumana?” “Rumana is Arab name, means love, romantic” “owh, sweet” tapi aku tak bertanya soa kepercayaanya, sebab itu kode etik yang dengan orang baru. kuat dugaanku dia seorang muslimah. Belakangan dugaan itu terbukti setelah melihat statusnya di jejaring sosial “But I’am a Moslem” di bawah promo bibble yang tertera di lamannya.
Semua dalam posisi siap bekerja. Guru, tamu-tamu, siswa, kepala sekolah, anak buah memegang cangkul, mencabut rumput-rumput yang tumbuh. Sebgaian lagi mengangkut pasir dari depan asrama. Semua siswa bahu-membahu mengangkut pasir ke gerobak dorong, atau ke ember bekas tempat cat kemuian mereka jinjing bersama. Kami membolak-balik tanah agar tekstur bangunan parkir ini nantinya seimbang; tidak berongga, dan lantainya tidak cepat retak. Betapa indahnya, semuanya berbaur; tua muda, kepaal, anak buah. Tak ada lagi batas negara, yang ada hanya kerjasama.
Setelah lelah kami mengambil jeda, menikmati es timun dicampur selasih yang terletak di atas meja, di bawah pokok –pohon- mempelam, pudding aloevera, serta cak brownies yang manis semanis orang yang membuatnya isteri pak kurikulum, juga ada rambutan sebagai makanan khas karena mereka bilang buah ini tak tumbuh di negara mereka. Kami berbincang untuk melepas ketegangan otot-otot yang sedari tadi bekerja. Waw, ternyata mereka ada yang bisa berbahasa Indonesia ST yang Korean, dan Minerva yang American, mereka dulu pernah beberapa tahun tinggal di Jakarta.
Tak satupun diantara kami yang menyerah walau telah lelah. Bagi mereka yang sangat lelah dapat istirahat, dan masuk ke aula untuk mengikuti game yang juga dipersiapkan untuk menjalin keakraban bersama. “DOSA” begitu salah seorang dari peserta yang berwajah India mengatakan nama untuk kelompok makanan yang ditulis secara cepat oleh perwakilan kelompoknya di papan tulis. Pemandu terpana dan bertanya “Apa itu DOSA? Dalam bahasa Indonesia dosa itu Sin” ternyata dosa itu memang sejenis makanan yang diolah dari bahan tepung –sayang aku lupa persisnya-.
Tidak berakhir sampai disitu, kami yang sempat bermain futsal (futsal khusus perempuan) bersama di lapangan. Tim mereka tediri dari tutornya dan siswa, siswa kamipun ada yang ikut membela tim mereka. Tim kami terdiri dari guru dan siswa juga, dan yang paling spektakuler akulah kipernya. Aku yang setiap sabtu meskipun berpakaian olah raga tapi tetap memakai rok sebagai bawahannya, bukan celana. Aku ingin membuktikan sesuatu bahwa walaupun dengan pakai rok, aku juga bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan meski dengan kadar yang berbeda. Aku tidak ingin orang memandang rok sebagai penghalang. Bahkan senam setiap sabtupun kuikuti meski dengan gerakan alkadarnya, atau hanya tegak-tegak aja. Yang penting berpartisipasi, ya nggak dink..
Yup dengan rok model A lebar aku bisa leluasa bergerak menangkapa bola. Murid-murid memberi semangat buat kami para guru. Itu membuatku agak grogi dan sedikit melambung ke udara, akhirnya aku hilang konsentrasi sehingga bola menerjang gawangku. Pertarungan yang main-main ini ternyata dianggap serius oleh mereka. Mereka begitu bersemnagat, tak tekecuali dengan siswaku yang ikut gabung dengan tim mereka. Jujurnya siswaku, tidak mengkhianati timnya meskipun yang dilawan adalah tim sekolahnya sendiri. Berakhirlah pertandingan itu dengan skor 3-1, tak mengecawakanlah. Kami bersalaman. Salah seorang tutornya berkata dengan nada memuji “You are very good, and different” “You too, thanks”
Siang telah agak condong , tiba saatnya mereka berpamitan untuk pulang ke Telunas sana. Tapi sebelum itu photo-photo dulu untuk kenang-kenangan, jepret-jepret. Dimana-mana perpisahan memang menyisakan iba. Seperti kekosongan yang terisi, kemudian kosong kembali. Tapi keterisian itu meninggalkan makna, kalaupun isinya habis tetap ada bekasnya.
Inilah hari-hari bahagaiaku di sisni, di sekolah ini. Adakah kebahagiaan itu akan juga untuk hari-hari berikutnya? Ku yakin murid-murid pun ikut bahagia sebab sekolahnya yang jauh dikunjungi orang-orang dari manca Negara, lebih penting lagi dari itu semua mereka bisa belajar langsung dengan realita, tidak hanya dari gurunya ini yang sangat mungkin banyak bias-bias salahnya.

Kedai Kopi
Dari dulu banyak keinginan-keinginan asing yang terpendam dalam diriku. Aku sangat tertarik untuk melakukan hal-hal asing yang menyita perhatianku. Dan hal yang asing itu saat ini adalah kedai kopi. Bagiku selama hal-hal itu tidak memuat pertentangan terhadap ajaran Allah maka akan aku lakukan, meski terkadang membuat orang-orang heran. Asal tidak menimbulkan fitnah ajalah, dan selagi belum ada yang melarang.
Maka kuajaklah ni Mayang bertandang ke kedai kopi Ahok, ayah muridku Arjunita. Waktu itu sore, belum ramai kaum adam, hanya ada beberapa saja. Kami mengambil tempat duduk di belalang, menghadap ke laut. Segera saja kami pesan minuman, ups jangan salah ternyata walaupun namanya kedai kopi namun tak hanya menawarkan kopi saja, tapi kita juga bisa mesan susu es, teh obeng (teh es), jeruk es dll.
Beberapa menit kami duduk disana kami disapa oleh orang yang duduk di meja paling belakang. Seorang lelaki 40 tahunan. Banyak hal yang ditanyakannya; dari mana kami berasal, dimana kami tinggal, kenal dengan ini-orang itu, pembualnya minta ampun. Sampai kami menyimpulkan bahwa ini adalah orang mabuk.
Setelah kami seksama melihat ke mejanya, maka benar dia sedang mabuk. Ada kaleng minuman berakohol yang tergelatak di atas mejanya. Karena kadar alkoholnya rendah maka mabuknya tak parah. Kami berdua berbisik “tidak aman ini”. Kami putuskan untuk beranjak dari sana, saat kami kan beranjak dia malah memanggil pelayan dan mencegat kami tak usah membayar minuman yang kami pesan, biar dia saja.
Hah yang benar saja ini. Tapi kami tidak memikirkannya. Yang kami pikirkan adalah bagaimana kami cepat-cepat beranjak dari sana saja. Kami tak mau sampai terjadi apa-apa, apalagi sampai berurusan dengan orang mabuk segala. Hmm beberapa lam kuperhatikan bahwa tak sedikit opium alkohol disini. Sore-sore mereka merapat di pelabuhan, bergitar-gitar sambil menenggak minuman haram tersebut. Penat mereka seusai bekerja biasa dihilangkan dengan minuma jahat itu.

Jenuh
Agaknya perasaan telah berkumpul menjadi satu, perasaan itu seperti ini; lebih sering didera oleh perasaan yang mengaduk-aduk jiwa. Semua yang kurasa di perantauan ini, susah senangnya, bahagia-dukanya terkumpulkan lewat satu kata. Satu kata yang menyeret diri masuk ke dalam hari-hari monoton, dia berlalu tapi tak bertemu ujungnya. Berpikir sampai kapan hdup seperti ini. Di perantauan tanpa ruang untuk melihta dunia luar seperti apa bentuknya. Aneh, meski tak ketinggalan berita dari TV, media cetak, dan informasi dari dunia maya tapi tetap tak bisa menggantka posisi ruang itu. Sedari kecil tinggla di ranah yang bisa mengakses segala, berdekat-dekat dengan keluarga ujung-unjungnya tercanpak di negeri jauh. Negeri yang terpisah-pisah oleh lautan yang membatasi langkah. Maka tersebutlah kata itu, JENUH.
“Sebaiknya aku embali aja, tapi aku tak bisa. Aku tak ingin keluargaku kecewa, itu saja” begitu pengakuanku pada teman-teman “Jika kita sudah memilih harus ada yang dikorbankan” dan jawaban itu sebenarnya telah ada pada diri sendiri, tak perlu untuk dipertanyakan lagi. “Memang tak mikir dulu apa, sebelum memutuskan kesini” begitu dialog itu berlanjut.
Namun pertanyaan di akhir itu ynag terasa menohok-nohk. Keputusanku memang tak matang. Mengiyakan tawaran keluarga untuk mencarihidup di negeri ini tak lebih karena mengingat susahnya pekerjaan di daerah sendiri. Selian itu faktor yang lebih dominant adalah bujuk rayu daeah baru, daerah yang belum pernah tertempuh selama ini. Dari dulu aku memang puya ambisi untuk bisa menginjakaa kaki di tempat-tempat yang belum pernah aku tempuhi. Namn ambisi saja tanpa perhitungan jelas adalah keputusa yang mengawang-awang. Ambisi itu untuk sekedar rekreasi dan petualangan memang menyenangkan tapi tidak untuk menetap.
Jenuh itu menggurita rupanya. Kalau sudah begitu laut adalah tempat yang paling nyaman untuk mengurainya,. Pergi saja aku ke laut, duduk memandanginya dengan seksama. Saat itu aku mendapatkan informasi, intinya dari informasi itu aku memutuskan untuk menyeberangi laut ini pada pekan pertama Februari, mengkaji ilmu hidup ke daerha tetangga, Tanjung Batu.
Sebaga pendatang baru di sana tentunya harus memperkenlakan diri sedetail-detailnya. Sebab bisa saja aku adalah penyusup yang datang mengacau kedamaiana yang telah tercipta sebagai mana yang sering terjdi di lakonan-lakonan sandiwara layer kaca, atau mata-mata yang oura-pura menjelama rupa padahal adalah serigla yang siap menerkam dan memangsa kawanan domba-domba. Ah telrlalu tinggi aku mengada-ada, padahal tujuan intinya agra semua yang ada di sana mengenal baik satu sama lainnya.
Dalam episode perkenalan itu aku bertemu jawaban yang tepta dan paling bisa aku diterima. “Kenapa umi bisa sampai di sini?” ajuku menyelidik alasan kenapa bisa seorang ibu muda, tempat saya berguru yang berasal dari Jakarta itu bisa terdampar di sini. “Ikut suami” simple saja jawabnya, lalu seperti membalikan pertanyan “Dirimu sendiri nak?” dengan nada lembut, menggelitik tapi kontan membuatku terperangah. “Hah, kenapa ya. Ya itulah umi…” pasrahku sebenarnya bernada mengadu. “Takdir Allah nak..” sejak saat itu aku berusaha untuk menghibur diri dengan kata-kata Takdi Allah.
Tapi setiap perjalanan ada kata-kata tap di tengah perjalanannya. Kata-kata tapi itulah yang menjdai ending kegiatan baruku itu. Baru saja kau rasanya menemukan tempat untuk melipur lara, pengingat-ingat hati yang sering lupa tapi sayang hanya dua kali saja dapat kakiku melangkah, karena sesudahnya jarak, waktu, biaya memupuskan semuanya. Di kali ke dua itu aku ketinggalan kapal untuk berangkat ke rumah. Berharap siapa tahu ada kapal barang yang bongkar muat tujuan temat tinggalku. Maka sampai soere aku duduk di pinggir pelabuhan sendiri ditemani kilat langit dan hujan, karena cuaca tak bersahabat ketika itu. Tapi nihil, sempat terpikir untuk meenggelandang –back packer- alternatifnya kan ada mesjid, tapi untung akal sehatku bisa mencegh “kamu ini perempuan”. Dengan segera ku hubungi seseorang yang berdomisili di sini, menanyakan penginapan yang aman. Basa-basi, sebab aku tak punya keberanian untuk bermalam di hotel ataupun di wisam sendirian sbenarnya. :”Kenapa tak bilang dari tadi, kan tak perlu nngkrong di sini” “tadi masih berharapa ada kapal yang datang kak” aku ku sembari memasang helm yang diberikan kakak itu. Hingga seterusny auntuk ke sana lagi aku harus berpikir dua kali.
Jenuh itu sedikit menguap, tak menguap lagi dengan satu kata yang coba ku pahami betul-betul maknannya “Takdir Allah” pemaknaan yang tidak boleh diartikan secara sempit dengan konotasi meyerah, tapi dengan pemakanaan berlapang daad menerima dan diserti usaha. Mataku sudah lima watt saat menuliskan keeping-keping perasaan pada sebuah buku berjilid spiral, berwarna biru muda yang di atasnya huruf S, awal abjad namaku berwarna merah. Buku pemberian Voga, murid ku, ku , tutup, kuletakan di bawah bantal, tandanya dia juga ikut beristirahat dengan tuannya ini setlah habis ditulisi.

Pulang dan Sekelumit Kisah
Bukit yang berbaris-baris, kabut-kabut seperti asap keluar dari puncak gunung adalah pertanda jalan kampungku Batu Sangkar sudah dekat. Sejak aku pergi maka ibu dan keponakanku pindah ke kampung. Gunung merapi yang gagah, aku sedang di perjalanan melewati kakinya. Menembus batas pagi dalam bahagia yang tak terkira.
###
Satu hari jika dinantikan sama dengan 1 tahun telah menunggu. Begitulah rasanya tak terperikan. Betapa aku ingin siang mrangkak petang, petang menjelma malam, dan malam berganti pagi. Hingga karena perasaan itu aku sampai salah menuliskan huruf di samping jumlah nilai yang tertera dengan sangat jelas di laporan hasil belajar salah satu murid. “Pikirannya sudah di kampung tuh” ledek kak Evi dengan guru-guru lain ketika mendengar keluhku “uh salah lagi”
Setelah menghitung pas atau tidaknya kocek untuk pulang maka meliburkan diri lebih dulu adalah tindakan yang disarankan rekan-rekan, guru senior, dan berpengalaman tapi dengan syarat laporan hasil belajar harus kejar tayang. Nanti tinggal minta bantuan guru-guru lain yang tidak liburan, atau memang berdomisili di sini untuk membagikan dan mengurus tetik bengiknya pada hari H.
###
“Badan ndak naiak-naiak do nak?” itu kata-kata pertama yang kudengar dari mulut sang bunda. Hal inilah kemudain yang aku bahas dengan kawanku ketika melepas kerinduan makan sate madura di Andaleh, Padang. “Sama aku juga, kalau aku pulang juga dibilang begitu” “Agaknya kesejahteraan kita, sukses atau tidaknya kita diukur dari perkembangan tubuh kita; kalau gemuk suskses lah berarti, begitu juga sebaliknya” sambil menyikat sate dari tusukannya kami lalu tersenyum dengan kesimpulan kami itu.
Suhu tubuhku panas, mataku merah, aku muntah-muntah. Perjalanan ini ternyata membuat imunitasku menurun. Digempur AC sepanjang jalan dari pagi hingga malam, hingga pula pagi, dari perjalanan laut, samapi perjalanan darat membuka simpul-simpul persendian. Awalnya masuk angin biasa hingga sampai ketahap ini. Tapi karena memang dasar pemalas minum obat maka aku tak menurut saja memium obat yang diberikan umi. Berdekat-dekat dengan orang tua membuat kita bermanja-manja, padahal waktu di rantau sana, saat diserang demam karena kelelahan bela-belain menenggak obat-obat pahit itu agar jangan sampai merepotkan.
#####
Dinginnya daratan tinggi Batu Sangkar menggigit tulang. Untuk mengahangatkannya kami minum kawa, minum yang hangat, dan sarapan. Kawa itu sendiri bermakna kopi, tapi yang sedang kami minum ini bukanlah kopi, tapi karena telah terlanjur memakai kata-kata itu dalam kehidupan sehari-hari maka kegiatan itu namanya tetap minum kawa. Pada orang-orang yang misalnya lewat jika kami sedang minum maka kami akan menyeru “Naiaklah dulu, minum kawa wak”
“Capek Ci, Gi abihan minum” perintah umi pada 2 keponakanku. Karena pagi ini kami akan ke parak, kebun untuk menanami coklat yang kebetulan sebelum aku datang telah ditanam umi sekitar 7 batangan dan rencananya akan ditanami 8 batang lagi. Jumlahnya hanya 15 saja, pekerjaan iseng mungkin bagi banyak orang. Tapi bagi umi itu adalah harapan “4 atau 5 tahun lagi kan ada hasilnya” begitu jawab umi ketika ku tanyakan kenapa harus berlelah-lelah menanamnya.
Mendengar perintah umi dengan sigap mereka mengambil terompah “Capeklah nek, nte pai awak lai” “dasar anak-anak” ku belai kepala mereka. Bersejatakan parang, tas karung, kain sengugulung untuk membawa beban di kepala nanti kami berangkat. Ditemani gugug tetangga yang telah akrab dengan bau kami, hingga tanpa diajak pun binatang yang tak diizinkan dipelihara itu ikut mengikuti langkah kaki kami. Berempat beranak kami menuju parak yang berjarak 2 Km dari rumah.

Dua Nisan
Dua nisan terpancang di lereng tanah 2 meter persegi. Nisan itu tergeletak diatas timbunan tulang-belulang, tengkorak-tengkorak dari jasad lempung 2 pria gagah perkasa. 2 nisan itu adalah pusara ayah dan gaek ku (kakek). Aku tak segera mendekati pusara yang juga berlokasi di parak kami, melaiakan hanya memandang terus dari jauh. Bukan apa-apa, tapi takut terbawa perasaan saja.
Betapa tidak sedari tanah merah itu basah 16 tahun yang lalu barulah kali ini aku bisa menziarahi kubur ayah. Orang-orang di kampungku suka merantau, bujang-bujangnya tak ada yang menebas parak, hingga jalan ke sana sangat semak. Kami yang tak punya keluarga laki-laki di rumah dan waktu itu juga berdomisili di Padang tak kuasa untuk menempuhnya jika sesekali pulang, hingga salah satu akhlak terhadap orang tua yang telah meninggal tak tertunaikan oleh kami.
Umi yang menangkap sorot mata dan ekspresi wajahku berkata “Pergilah ke situ” Ku hadapkan diri pada pusara itu, kuusap nisan itu dalam-dalam, ku bersihkan dari guguran-guguran daun mati, ku cabuti rumput-rumpt gajah yang tumbuh liar satu persatu. Ku tata lagi bebatu yang yang tersusun sebagai penahan timbunan tanah agar tidak rata. Sebab pusara itu tak dibangunkan kerangka atau keramik di atasnya. Dengan segenap jiwa aku berdoa.
Puas, aku beranjak membantu umi menanam batang coklat muda yang berumur 2 bulan, mengukur kesejajaran letaknya agar posisinya sama, mengatur jarak masing-masingnya aga akar-akarnya tak berebut hara tanah yang bisa membuatnya tak mau tumbuh baik. Memilih ranting-ranting dan galangan kayu surian yang habis ditebang untuk dibawa pulang sebagai bahan perapian dapur.
###
Siang telah menggeliat, umi membuat senggulung. Ikatan ranting-ranting yang telah diikat ku naikkan ke kepala beliau, galangan kayu kusandang di pundaku, karena tak pandai menjujung, Cici dan Yogi juga membawa satu-satu. Kupersilahkan umi dan 2 keponakanku lebih duluan berlalu, menapaki setapak jalan melereng. Ku pandangi punggung renta yang sedang membelakangiku, ah, betapa aku sayang. Berderet-deret kami melewati perumahan penduduk. “Pulang urang rantau mah?” tukas tek Nurma yang melihat iringan nenek, anak dan cucu. Setengah perjalanan kayu yang tadi dipertengkarkan 2 murai kecil itu ditingglaknnya tergeletak di jalan, mereka tak mau membawanya, dan bertambahlah bebanku.
Aau ngos-ngosan sampai di rumah. Ku sandarkan di dinding belakang rumah kayu-kayu itu agar ia kering dan mudah dibakar. Ranting-ranting tadi langung disorongkan, dimasukan umi ke tungku, meniupnya dengan saluang yang terbuat dari batang bambu berdiameter kecil agar apinya nyala, segera saja beliau menjerangkan nasi untuk makan kami.

Malam menyelinap. Suara gemerick air dari aliran kali kecil di samping rumah kami yang berasal dari puncak gunung merapi mencipta romantika tersendiri dalam jiwa. Suara deburan air pancuran dari tabek, kolam, suara katak, lengkingan jangkrik, lambaian dedaun pepohonan berbisik mengucap mantera-mantera malam. Khidmat ku dengar segala pengaduan umi tentang apapun, tentang keponakanku itu yang nakalnya minta ampun, tentang Cici yang belum pandai membaca meskipun sudah kelas 1 SD, tentang orang kampung yang meninggal, tentang bako ku (anak saudara ayah) yang baralek dan berapa cupak padi yang diberikan padanya (bagian dari tradisi kami), tentang pasar kamis yang sangat ramai, tentang harga yang melangit, tentang masalah-masalah yang terjadi. Aku tercenung , mendengar bagian terakhir yang diungkapkan umi.
Aku mengemasi perlengkapan yang kan ku bawa ke Padang, sebab sebelum pergi lagi aku ingin bertemu 2 kakak ku yang masih di Padang, teman-teman, juga ingin melihat tempat permainanku dulu. “ndak batuka-tuka baju do nak” tanya umi lebih bernada kasihan ketika melihat baju-baju yang kumasukan ke dalam ransel adalah baju yang sama dengan baju-baju yang dulu. Barang kali bagi umi baju-baju adalah simbol kita sudah bekerja, maksudnya kalau sudah bekerja setidaknya baju bisa tertukar, tidak itu-itu saja.
#####
Sinar mentari menempa kaca jendela bus, badanku sudah gerah, dan keringat telah bercucuran dari sela-sela jilbab. Hawa-hawa kota bengkuang sudah mulai terasa. Hawa yang telah akrab sejak puluhan tahun yang lalu itu menyapa hatiku yang tak menentu, berdetak-detak aneh. Entalah aku tak tahu, barang kali karena bahagia bisa menginjakan kaki kembali di sini. Ku layangkan pandang ke luar jendela, Padang mulai mengeliat lagi. Bangunan-bangunan yang dulu runtuh oleh gempa sudah mulai dibangun kembali.
Hal pertam yang kulakukan setelah sampai adalah menghubungi teman-teman yang masih menetap di Padang. Syukurlah ada beberapa teman yang masih bisa ku jumpai, diantara amereka ada yang masih belum menamatkan studi, tak lebih karena beratnya tekanan untuk dapat lolos skripsi seperti juga yang aku alami. Namun aku salut, mereka masih terus bertahan dan berjuang.
“Apa kabar, gimana pengalaman belajar mengajar di sana?” ituah bunyi pertanyaan yang terlontar dari mulut teman-teman yang sengaja ngumpul di kos-kosan mereka sewaktu kuliah dulu. Aku senang, semuanya lepas menceritakan kisah masing-masing, sharing pengalaman mengajar dan bagi-bagi ilmu, serta bukuk-buku rujukan terbaru. “wah cepat ya akses ilmu disini” takjubku
#####
Kususuri kampusku yang dulu. Berjalan sepanjang bentangannya. Masjid kampus, jurusan, fakultas. Tak banyak yang berubah, malah dibilang mungkin tak ada. Rektorat yang sudah mau runtuh belum juga disentuh. Kususuri sepanjang jalan yang sering aku dan teman-teman lalui dulu, duduk di area parkir yang disebut blok M sendiri. “Kalau tidak malu berbuatlah sekehendakmu” begitu salah satu bunyi kata-kata yang tertera dalam papan besi yang terpampang di blok M. tepat di bawahnya mahasiswa-mahasiswi bergelut malu-malu. “ugh, ku beranjak dari situ”
Tak ada lain, tempat yang paling menjadi tujuan utamaku, base camp kami. Base camp itu masih tersudut, berposisi di situ. Tapi aku suka suasana depannya; ada padang rumput dan bunga-bunga. Kalau dulu aku suka melihat bunga-bunga yang kurus-kurus tinggi di tepi parit dekat padang rumput dari kaca jendela base camp. “Aku merasa sedang di negeri kincir, Belanda” ha ha ha pengakuan ku dulu pada beberapa teman karena aku menganggap bunga yang kurus tinggi itu seperti bunga tulip, tambah lagi aku melihatnya dengan mengambil posisi agar bunga-bunga itu saja yang terlihat. Ada-ada saja ya, memang tipikal imajiner.
Sore hadir memancarkan jinggga, lawatanku harus diputus di sini. Tapi satu hal lagi yang ingin kulakuakn adalah menyabangi atap tembok sebuah wisma. Luas langit dan luas bumi terasa menyatu di tempat ini. Walau sekejap saja dapat aku nikmati, kemudian mohon izin dan mengucapkan terimakasih pada empunya rumah, yang bukan orang yang dulu lagi.

Berlayar Malam
“Bilo ante baliak? Itu pertanyaan 2 beradik kecil sewaktu aku berangkat senja itu.
Ya berangkat senja, pilihan yang tak matang itu terpaksa kupilih karena setelah ku hubungi beberapa agen travel tak ada mobil yang mulai berangkat pukul 09 malam. Tanya punya tanya dengan sopir ternyata kami akan transit di Pekan Baru kira-kira pukul 01 dini hari, tidak subuh seperti yang ada dibenakku. Rencana kalau subuh aku minta diantarkan ke terminal Pekan Baru biar nunggu mobil ke Tanjung Buton di situ (Kali ini aku tidak lewat Dumai), kan tak lama paling 1,5 jam menunggu pagi.
“hah sampai jam 01’ aku hanya terperangah dalam hati. Dengan ragu-ragu aku bilang tujuanku ke terninal Pekan Baru. “Gawat ni, jam 01.00 wib, perempuan lagi” untung sopirnya baik hingga menawarkanku nginap di rumah saudaranya (aku sangat berterima kasih padanya, semoga Allah membalas kebaikannya).
Betapa lega perasaanku dapat tempat menginap yang aman sebelum berangkat besok paginya. Kalau di terminal entah macam mana nasibku, meski memang terminal Pekan Baru tergolong aman dan bagus tapi yang namanya terminal tetap saja terminal. Akupun tak terpikirkan kalau sebenanya aku punya saudara di Pekan Baru, makanya tujuannya hanya satu, terminal.
Pagi-pagi sekali, ku lanjutkan perjalananku. Saat Avanza yang aku tumpangi seperti sarden, berdempet-dempet tempat duduk karena ramai penumpang maka perasaan khawatir mulai timbul. Tiket kapal, ya tiket kapal. Musim liburan orang-orang banyak pulang, tambah lagi cerita salah seorang penumpang yang mengatakan tak punya tiket, beli tiket telah habis. Aku yang taunya beli tiket di pelabuhan jadi tak karuan.
Kami, penumpang terlonjak-lonjak di dalam mobil. Jalan menuju pelabuhan Buton adalah jalan yang amat parah, melewati Perawang dan Siak. Aku heran setelah lepas meleawti aspal nan licin dari kota Pekan Baru, dan baru saja masuk ke kabupaten Siak yang masih sepropinsi Riau ini sudah disuguhkan oleh jalan buruk berlubang-lubang. Apalagi saat telah memasuki perkebuanan sawit, jalan tanah berdebu-debu.
####
Penumpang berteriak, aku tersentak segera saja sadar dengan apa yang terjadi. Mobil kami oleng, terperosok tapi untung tak sampai berguling-guling karena terperososknya ke parit yang masih ada sandaran tanah tebing yang tinggi. Semua penumpang berebutan ke luar, aku khawatir tapi syukurlah mobilnya tak apa-apa dan bisa ditarik kembali setelah mobil yang lain lewat.
Gila, mobil berkejar-kejaran menuju Tanjung Buton, tujuannya tak lain adalah tiket kapal. “Bagai mana dengan nasibku?” keluar dari pintu mobil, langsung saja aku ke tempat pembelian tiket, nihil. “Macam mana ini” ku menuju ke sebelahnya, juga sama, padahal kapal standby khusus -khusus Batam, khusus Karimun- hari biasanya gabung, tapi tetap tak ada tiket yang tersisa. Dan tiba saja pandangku tercuri dengan plang papan penjualan tiket di sebelahnya, Tanjung Batu. Kalau ada kapal ke Tanjung Batu bisalah aku menyeberang dari Tanjung Buton ini meski tak sampai tujuan yang diinginkan setidaknya Tanjung batu dan Moro itu jaraknya 2 jam naik kapal kayu. “tapi ini sudah siang, sampai di sana menjelang magrib. Tak ada lagi kapal ke Moro” pikirku waktu itu. Tapi sudahlah dari pada terlunta-lunta di Tanjung Buton, tak ada penginapan, rumah penduduk, dan banyak preman.
Aku sendiri heran mengingat apa yang aku lami dalam perjalanan sedari tadi. Dalam keheranan itu pulalah aku berpikir-pikir, aku kan punya nomor cincui –pemilik kapal- kapal kayu yang biasa untuk membawa barang dan penumpang Moro-Tanjung Batu dan sebaliknya, siapa tahu kapalnya naik petang ini. “Pak ada kapal naik pak?” getar suaraku dari telpon selular “Oh ada tunggu aja di depan Halliday” melantai aku duduk di depan penginapan itu, sampai akhirnya kapal itu datang dan lama sekali menunggunya berangkat karena memuat barang dulu.
Magrib melepas, bunyi kapal kayu mendru. Ternyata tanpa sengaja cita-citaku tercapai, berlayar malam. Aku tak peduli berlayar malamnya dengan kapal seperti ini, dan dalam situasi perjalanan penat seperti ini. Laut gelap terlihat, pemandangan indah tampak dari lampu yang berdert-deret dari rumah penduduk di pulau-pulau yang kami lewati atau lampu badai nelayan yang melaut. Kendati kapal kami sempat dikejar Pol Airud dengan kesalahan minim penerangan perjalanan ku ini tetap tak terganggu. Aku merenungkan perjalanan ku dan menemukan betapa dari tadi Allah memberikan apa yang aku butuhkan, dan itu di saat yang tepat. Aku malu pada Nya sebab sempat menanyakan kenapa tak memberikan apa yang ‘kurasa’ ku butuhkan dalam banyak pinta keduniaanku. Inilah pelajaran yang sangat berarti buatku; Allah tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan dan kapan waktu yang tepat untuk mengabulkannya dan itu sangat indah, indah tak terperi.

Apelah nak Jadi
Sudah 20 lembar, itulah jumlah surat lamaran yang sedari tadi ku buat dan kesemuanya salah. “Ape yang nak jadi ni dek, nih bulannya juga salah” kritik kak Evi setelah melihat kembali surat lamaran yang kubuat. Ada-ada saja salahnya, harusnya bulan November ku buat bulan Oktober, alamat pada suratnya, kode jabatan, penulisan syarat-syarat bahkan nama sendiripun sampai salah. “Aok (iya) kak, apelah nak jadi?” begitu kataku menanggapi. Akupun tak tahu kenapa sampai menghabiskan 20 lembar kertas HVS hanya untuk membuat satu surat lamaran saja.
Lamaran itu ku buat setelah membaca pengumuman penerimaaan CPNS di lingkungan pemko Batam. Ya, meski profesi guru masih kujalani setengah hati, namun peluang penrimaan CPNS itu adalah hal menggiurkan bagiku untuk keluar dari sini dan kurasa yang lain juga begitu. Sempat ku tanyakan pada Nita kenapa hanya mau jadi PNS saja “Habis mau kerja apalagi, mau jadi pengusaha?” komentarnya bernada emosi ketika ku goda dengan pertanyaan itu.
Rentang wkatu yang hitungannya tak beberapa hari, ku habiskan untuk belajar. Pulang sekolah ku buka buku pintar CPNS yang berisi contoh-contoh soal ujian PNS, mencerna pembahasan soal-soalnya dan mempelajari buku psikologi yang sengaja kupinjam dari pak kurikulum sekolah. Meski orang-orang tertawa melihatku belajar karena seperti saran mereka “Kalau ikut di kota jadi peserta penggembira saja, mendingan ikut di Lingga atau Natuna sana, tanggung-tanggung merantau”
Meski sedikit terganggu dengan kata-kata itu dan ucapan yang dilontarkan beberapa teman tentang konspirasi tak sehat dalam penerimaaan CPNS biasanya, aku tetap berbaik sangka saja, menyerahkan ketentuan rezeki pada Allah, kalau rezeki dapatlah. Lagian tak ada salahnya kok mencoba, juga tak ada salahnya belajar. Kalau sudah berusaha apapun hasilnya tak akan membuat rasa sesal sesudahnya, begitu prinsip yang coba ku tanamkan.
Pagi menghitam di langit Batam, sebentar saja pasti akan turun hujan. Sebagai orang yang diajarkan membaca pertanda alam Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh, semacam pertanda seperti prakiraan cuaca, maka benar saja dugaan kami benar. Baru saja ke luar dari kompleks perumahan Batu Aji titik-titik air telah menepis ke muka, hingga setengah perjalanan rintik itu berubah jadi bulir-bulir kasar yang mendera. Ni Mayang sempat menghentikan motor untuk berteduh di halte tapi karena mengingat waktu ujian semakin dekat maka hujan itu ditempuh juga.
Di pelataran parkir kami berpisah mencari ruang masing-masing. Aku dengan pakain lembab tak memedulikan dingin yang dirasa. Tujuanku satu, raung ujian. Dengan bantuan security yang ada di setiap sudut ruangan akhirnya aku menemukan lokal ujian yang tertera di kartu ujianku lantai 2 ruang 22 sekoloah harapan utama. Bergegas ku masuk dan mencari no urut meja ujianku.
Dengan tenang kuhadapi lembar-lembar soal yang memusingkan kepala itu. Sampai akhirnya waktu berakhir entah kenapa aku masih menekuri beberapa soal dan berusaha untuk menjawabnya. Aku tak tahu kalau ujian itu pakai sistem minus, hingga aku tetap memaksakan diri untuk menjawab meski diri sendiri tak yakin dengan kebenarannya.

Saatnya Beraksi
Telah lama berharap bisa ke Batam, penasaran dengan kota industri ini, seperti apa bentuknya, dan seperti apa pula kehidupan yang berduyun-duyun muda –mudi dari daerah untuk mengadu nasib di sini. Kini kesempatan itu terpampang di depan mata, dan alangkah rugi jika ku membuangnya percuma.
“Jalan yuk” aha, mataku berbinar mendengar tawaran itu. Sang kawan, ni Mayang tahu betul apa yang diinginkan kawannya ini. Segera saja ku raih baju yang tergantung di belakang pintu kamar –rumah kakak ni Mayang- “saatnya beraksi, yuk berangkat” “eh, semangat bananyo mah, tunggu siapkan bekal dulu” celoteh ni Mayang mengingatkan untuk mempersiapkan bekal yang akan kami bawa, teh dan cemilan. Ya, bagi kami yang berkantomg pas-pasan, membawa bekal adalah keputusan yang bijaksana dari pada belanja di tempat wisata yang harganya relatif mahal.
Hamparan laut biru, luas tak terbatas, gugusan pulau-pulau seperti istana di tengah-tengah laut. Aku terpesona menikmati pagi seindah ini. Meski hanya bisa melindungi diri seadanya dengan duduk di balik besi tiang penyanga jembatan yang menghubungkan Batam, Galang, Rempang BARELANG ini, tak sedikitpun kami beranjak. Siapapun yang datang dan berdiri di atas Barelang pasti akan bilang kalau ini Keren sekali.
Namun Barelang juga punya ceritanya sendiri. Tempat yang seindah ini jadi salah arti bagi sebagian orang yang sempit pikiran. Datang-datang bermasalah menerjunkan diri, datang-datang bertengkar mendorong, mencelakai. Tak banyak yang selamat, sebab jembatan ini tergolong cukup tinggi. Pastinya seberapa jauh jarak jembatan itu ke bawah sejauh itu pula kemungkinan tenggelamnya sebelum jasad itu mengapung dan ditemukan nelayan yang beraktivitas.
Dari duduk disini aku dapat cerita kalau ada daerah yang bernama Camap Vietnam, yang terdapat di jembatan lima Galang. Camp Vietnam merupakan tempat pengungsian orang-orang Vietnam pada peristiwa berdarah-darah tahun 1979 saat pecah perang saudara di negara tersebut. Warganya meninggalkan negeri itu dengan menggunakan perahu-perahu bermuatan 40 sampai 100 orang. Berlayar, teromabang ambing di laut China Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Di tengah kondisi itu ada yang meninggal di tengah lautan dan ada yang mencapai daratan termasuk daratan wilayah pulau Galang ini, desa Sijantung propinsi Kepulauan Riau.
Mereka berdiam antara 1979-1996 samapai akhirnya UNHCR, komisi PBB untuk pengungsi mengusahakan suaka untuk mereka dari negara-negara maju yang mau menerima atau dipulangkan kembali ke Vietnam. 20 tahun tentunya meninggalkan jejak kehidupan berupa monumen tempat tinggal, temapat ibadah, dan lainnya yang seruap dengan kampung mereka di Vietnam. Tempat ini kahirnya dijadikan objek wisata oleh otorita Batam. Semua keterangan itu aku peroleh dari paman Google, saking penasarannya karena belum bisa ke sana.
Lelah berlama-lama kami pun berlalu tapi tidak untuk pulang. Ada kerinduan yang dahaga menghampiri kami selama ini; wisata ilmiah ke toko buku. Bagai melihat sesuatu yang selama ini tak bisa aku lihat segera kami berhambur mendekati buku-buku yang berjejer di kompleks mall BCS, salah satu mall mewah ini. Ni Mayang dengan sigap menekuri judul-judul novel dari penulis kesayangannya Harlequin, Sandra Brown, dll yang belum dipunyanya, aku memasang mata melihat buku-buku baru, seperti biasa lihat judul, dan cover belakang.
Siang makin merekah hawa panas dan pengap debu-debu kota menguap meresahkan seluruh raga. Kami harus pulang dan mengakhiri aksi ini. Kamipun harus beristirahat karena esok akan balik ke Moro lagi, sebab tugas kami telah menanti.

4 thoughts on “Sebuah Perjalanan

  1. love it… sulit bercerita seperti sedetail ini kak…. amazing advanture… Aini tunggu kelanjutannya kak..

  2. [HANYA KOMENTAR CURHAT DARI SEORANG PENGEMBARA]

    Alhamdulillah…
    Pasukan iblis sukses menyesatkan masyarakat, Gembong FreeMason Yahudi dan anteknya berhasil menjajah lahir bathin negeri ini, krisis Inflasi harga kebutuhan pokok meningkat, Penyakit hubungan kelamin merajalela, Korupsi jamaah pejabat menanjak, Jual beli jabatan pemilu berlanjut, Pengurasan sumber daya alam berjalan, Kebodohan berbasis kemiskinan bertambah, dan masih banyak lagi yang semua itu berujung pada pemurtadan rakyat banyak.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat melihat dengan jelas kebobrokan sistem sekular jahiliyah yang selama ini telah kita terapkan dan kita tuhankan, karena kita telah membuang jauh-jauh sistem Islam kaffah ciptaan “Sang Maha Pencipta Sistem” dari kehidupan kita.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad berikut ini:
    Dari Abdullah bin Umar dia berkata,“Rasulullah SAW menghadapkan wajah ke kami dan bersabda:
    “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
    1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
    2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
    3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan.
    4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
    5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.””
    (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).
    Sekarang manakah diantaranya yang belum terjadi?
    Masih belum cukup?
    Alhamdulillah…
    Selama generasi kita tidak memurikan tauhid dan tidak menerapkan sistem Islam kaffah (dalam khilafah), maka insyaAllah generasi penerus kita juga dapat langsung membuktikannya juga.
    Alhamdulillah…
    ________________
    “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 4:147)
    “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. 40:61)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s