Indonesia Silam

Indonesia, di masa silam banyak memiliki tokoh-tokoh yang luar biasa. Tokoh yang mempunyai kedalaman ilmu, yang analisa-analisanya sampai sekarang tak lekang oleh majunya ilmu pengetahuan dan dijadikan rujukan. Diantara mereka banyak juga yang menjadi negarawan besar yang di segani di kancah perpolitikan baik dalam maupun luar negeri. Di bidang lain, sekaligus juga berperan sebagai agamawan yang tak kurang amaliah dan kontribusinya untuk agama, ditambah mereka juga penulis bahkan ada yang sastrawan. Hal itu terlihat dari pemikiran-pemikiran dan karya-karya mereka yang tertuang ke dalam sejumlah tulisan yang dirampungkan pada masa-masa itu. Uniknya tokoh-tokoh itu mulitlinguis, menguasai banyak bahasa setidaknya Inggris, Arab, Belanda.
Sebut saja misalnya Tan Malaka, negarawan yang lahir di ranah minang, desa Pandan Gadang Payakumbuh, Sumatera Barat tahun 1879. Pada usai 23 tahun, semuda itu beliau telah aktif dalam kegiatan politik internasional; Belanda, Rusia, Jerman, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Salah satu tokoh yang telah membawa Indonesia menikmati kemerdekaannya ini adalah seorang yang menguasai lima bahasa sekaligus; Belanda, Inggris, Jerman, Tagalog, Cina. Beliau juga seorang yang aktif menulis, salah satu karya besarya MADILOG berisi gerbrakan-gebrakan mengajak masyarakat Indonesia berpikir secara ilmiah, bukan dogmmatis dan sejenisnya. Ada banyak nama lain yang lebih fenomenal dan tak kalah ketokohannya; M. Natsir, seorang negarawan dan agamawan, Agus Salim yang menguasai 7 bahasa, Soedjatmoko, cendekiawan yang diakui dalam dan luar negeri dan sederetan nama lain yang tak cukup dimuat dalam bagian ini.
Bagi diri peribadi, sempat berpikir kenapa bisa tokoh-tokoh itu memilki keilmuan yang mumpuni seperi itu? Padahal jika dikaji dulu, zaman dimana pendidikan itu adalah sesuatu yang susah untuk dikecapi, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dengan bebas mengenyamnya. Saat tekanan demi tekanan memadamkan pelita pengetahuan. Jika dibandingkan zaman kita sekarang yang dapat dengan bebas menikmati penididikan dengan pilihan yang beragam, namun pengetahuan itu seolah mati, dan tidak melahirkan tokoh adiluhung lainnya.
Saya tidak menafikan tokoh-tokoh itu ada, sebab barang kali mereka banyak yang tidak terlihat dalam pandangan kita. Namun jika dipakai korelasi, keterkaitan antara kemudahan mendapatkan pendidikan dengan outputnya maka selayaknya harus lebih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang lahir pada zaman ini.
Kenapa hal tersebut bisa terjadi hari ini? Apa yang telah salah dengan dunia pendidikan kita? Kepada beberapa orang teman saya sempat menanyakan hal ini untuk dijadikan bahan pembuka wacana. Ada beberapa pendapat yang mengemuka pada saat itu, dari segi mental, kemajuan teknologi, dan cara memperlakukan pendidikan (ilmu) itu sendiri.
Pertama mental. Seorang pembelajar sejati ketika melihat ilmu pasti bergelora jiwanya, dan akan memperjuangkan bagaimana agar ilmu itu bisa di dapatkannya, sedangkan kita? Saat orang-orang dulu berpeluh-peluh mencari ilmu, mengembara dari daerah ke daerah lainnya tanpa transportasi yang memadai, kita malah berleha-leha di jalan dengan kendaraan yang kita punya. Dan betapa sering kita memanjakan kelemahan yang ada untuk menyerah, dan berhenti berusaha sebelum usaha itu sampai ke penghujungnya.
Kedua, salah guna teknologi. Teknologi memang diakui mempermudah segalanya termasuk mendapatkan referensi-referensi keilmuan namun jika teknologi tidak tepat guna; teknologi lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang tidak terlalu berkontribusi untuk kesehatan akal, pikiran dan ruhani kita maka teknologi akan jadi sangat berbahaya dan berbagagi kemerosotan bisa bermula dari sana.
Berikutnya cara memperlakukan ilmu. Antara yang memberi ilmu dan menerima ilmu. Di zaman, saat materi menjadi suatu yang mutlak masih adakah tersisa ketulusan disana. Adakah yang memberi ilmu dengan ketulusannya? Menyampaikan dengan segenap jiwa tanpa ada ilmu yang harus menjadi rahasia. Dan bagiamana pula dengan penerimanya adakah juga dengan ketulusan menerima, menengadahkan cawan hati dan pikiran dengan ikhlas untuk diisi oleh penyampai ilmu. Agaknya cara memperlakukan ilmu itu tak berhenti sampai di situ. Contoh kecil saja untuk melihat cara kita memperlakukan ilmu adalah pernahkah kita menjadikan kertas-kertas yang berisi ilmu di dalamnya sebagai alat untuk berkipas-kipas saat kepanasan, kalau pernah kita pasti bisa menyimpulkannya kan?.
Akhirnya adakah ilmu itu kita niatkan semata-mata karena Allah memerintahkan kita untuk mencari dan mempelajarinya, Karena Allah akan meninggikan kita karena pemenuhan akan perintahNya dan karena Allah menilai ilmu kita berdasarkan realisasi amaliahnya. Wallahu ‘alam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s