Ayah Aku Mohon Maaf

Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu
Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan
Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu
Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana
Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku
Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal
Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta

Aku diperkenankan mendengar lagu itu di akhir 2009. Mendengar lagu itu menerbitkan rasa rindu, haru. Barang kali karena lagu itu lebih dekat dengan peribadiku, meskipun yang dikisahkan adalah seorang yang sudah dewasa yang ditinggal pergi selamanya oleh sang ayah, namun tetap saja sangat terasa mengaduk-aduk jiwaku.
Ayahku, dulu meninggal saat aku masih kelas dua sekolah dasar. Selalu, ketika baru-baru mendengarkan dan mendendangkan lagu itu, aku akan kembali ke masa-masa tahun 1994. Aku ingat, dihari waktu beliau akan dipanggil, seperti di lagu itu, aku, kami tak ada yang melihat beliau melepas ruh dari jasad. Yang ditemukan ibuku hanya jasad yang telah dingin setelah baru saja beberapa saat mereka masih bercakap-cakap.
Lalu aku kemana saat itu? Sepulang sekolah, ayah menanyakan apakah aku tau dengan ayat kursi, kalau tau bacakanlah, tukas almarhum waktu itu. Aku yang belum kenal apa itu ayat kursi, tak tau harus apa dan cuma bilang kalau aku halnya tahu ayat-ayat pendek yang dimulai dengan kata ‘Qul’. Aku menawarkan untuk membacakan itu saja, untuk memuaskan beliau aku lalu meraih buku paket agamaku, karena di dalamnya terdapat surat-surat pendek lain.
Setelah itu jiwa kanak-kanak mengajakku lebih memilih bermain. Aku dan teman-teman main gundu di halaman rumah tetangga yang tak jauh dari rumah. Saat mengambil gundu, aku tak sengaja melihat ke arah rumah, aku melihat beliau memantauku bermain dari jendela. Begitulah yang beliau lakukan, karena tak dapat bergerak banyak sebab penyakit yang dideritanya. Setelah bermain aku pulang, ‘melihat-lihatkan’ diri, agar orang tua tak khawatir akan keberadaanku, atau kalau aku merasa haus, minum ke rumah lalu pergi lagi untuk bermain. Sampai permainanku berganti dengan main alek-alek. Saat bermain alek-alek itu ada yang mencariku, dan mengabarkan sesuatu. Segera saja aku pulang ke rumah, tak tau entah apa yang aku rasa, karena pada saat itu aku betul-betuk tak mengerti apa itu kematian, tak terpikir dibenakku saat itu kalau aku pasti tak bisa melihat beliau lagi setelah berlalu, malah aku sempat menuju rumah keluarga memberitahu kabar duka itu. Agak lama, saat lawatan duka telah tergelar di rumahku, barulah aku terpikir dan menangis saat itu.
Ah, itulah. Sekarang ketika mendengar atau mendendangkan lagu itu, aku tak mengingat masa kanak itu lagi, barang kali lebih karena sedikit saja kenangan yang aku punya dengan almarhum ayah sebab seringnya ayahku bolak-balik masuk rumah sakit. Pernah dulu sakit beliau sangat lama, aku terpaksa di ‘selundup’kan ibuku untuk melihatnya (anak-anak kan tidak diizinkan masuk ke ruang perawatan rumah sakit bagian penyakit dalam karena riskan tertular). Aku, kini hanya memposisikan diriku yang telah dewasa, sedikit menyesali kenapa saat itu aku tak di rumah saja bersama dengannya, menyayangkan kenapa aku masih belum tau apa itu ayat kursi walaupun telah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, mengingat apa saja perjalanan hidup yang aku lalui, dan berbagai kenyataaan rumit yang kami alami sepeninggal beliau. Kadang ingin merangkum kisah-kisah itu ke dalam sebuah judul yang sudah sangat lama ada di kepala “perempuan yatim” namun wujudnya tak pernah ada.
I want to meet you, even just in my dream. Moro, 21 April 2011

3 thoughts on “Ayah Aku Mohon Maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s