Perbedaan Siswa SD dan Orang Dewasa

Apa yang membedakan anak SD dengan anak SMP, ataupun SMA ataupun mahasiswa? Tingkat usia dan pengalaman belajarnya, tentu saja iya. Tapi ada satu hal yang sangat mendasar dan ini penting sekali Kenapa begitu? Mari kita simak narasi nyata ini
2 Mai 2011, saat mengikuti upacara peringatan hari pendidikan nasional di lapangan kantor kecamatan di pulau kami, Moro aku menyadari sesuatu yang selama ini memang sudah pernah singgah di benak ku. Apel pagi itu, barisan siswa berbaris rapi; berseragam puith abu-abu, putih biru, dan putih merah, dan juga barisan berseragam PDH dan KOPRI, yang paling menarik dari semua itu adalah betapa mudahnya menginstruksikan siswa yang berseragam merah putih itu untuk mengikuti komando tanpa ba-bi-bu dibanding dengan yang lainnya. Maka applause untuk siswa SD.
Saat upacara berlangsung, di depan barisan ku, terlihat beberapa orang berseragam PDH dan KOPRI memain-mainkan jilbab peserta upacara yang ada di depannya, di belakang terdengar suara ibu-ibu guru berbual-bual tak tentu. Siswa berseragam SMA dan SMP tak jauh beda dengan apa yang dilakukan ibu-ibu. Di samping kiriku terlihat siswa SD khidmat mengikuti detail seremony yang berlangsung saat itu. Maka 100 untuk siswa SD.
Jika ada yang butuh semangat pagi itu, maka aku akan menjamin jika melihat dan mendengar anak SD mengikuti pembacaan panca sila yang dibacakan oleh pembina upacara niscaya akan tersengat oleh voltase dahsyat keseriusan dan semangat siswa sekolah dasar ketika melafadzkan kembali butir-butir sila itu. Two thumbs up masih untuk siswa berseragam putih-merah. Jangan ditanya dengan yang berseragam lainnya; sebab seperti orang berpuasa, enggan untuk mengeluarkan suara, dan seperti lebah, berdengung-dengung saja.
Maka pantas penghargaan sesungguhnya lebih layak diberi buat anak-anak itu. Sesungguhnya orang dewasalah yang harus mencontoh mereka. Mereka tak punya alasan untuk tidak mendengarkan instruksi, jika disuruh geser ke depan segera saja akan mereka langkahkan kaki, meski di depannya tergenang air, becek. Jika disuruh berdiri tegap, akan mereka ambil posisi sesuai instruksi itu. Bukankah mereka yang lebih mendengarkan dari guru yang mugkin mengajari mereka untuk mendengarkan?
Mengenai segala hal yang positif semisal semangat, siswa SD lah yang layak ditiru. Tak peduli apapun realita yang dihadapi, yang jelas mereka selalu melihat ke depan dengan tatapan penuh keyakinan. Baginya, harinya adalah hari ini, ketika hari itu diisinya dengan baik maka hari manakah lagi yang akan tersia-sia dan lepas dari sikap positif yang ditunjukannya.
Barang kali ketika kita SD kita juga bersikap seperti itu, namun sayangnya ketika sudah mulai beranjak remaja pikiran-pikiran kita menjadi realistis, realistis melihat apa yang ada di depan mata, karenanya lupa dan tak berani untuk mengimpikan sesuatu yang indah, cita-cita.
Syafni Andri Yanti, 3-5-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s