Bacaan Al Qur’an

Alangkah anehnya seorang Qoriy (pembaca Al quran), dengan suara mendayu-dayu melepaskan bacaannya dari kerongkongan, mengutamakan eloknya irama dari pada mengahyati isi yang dibaca. Berusaha menaikan suara agar terdengar indah padahal yang sedang dibaca saat itu adalah ayat-ayat tentang adzab… yang pada saat itu suara harus merendah, bahkan tercekat karena ketidak sanggupan membayangkannya.
Duhai, bagai mana bisa kita membaca ayat-ayat yang di dalamnya menerangkan tentang adzab dengan ‘pemaksaan’ suara, sedangkan yang dikabarkannya tentang bagai mana akhir kita kelak kawan. Membaca Al Quran dengan suara yang indah bukanlah salah, malah dianjurkan, namun alangkah lebih baiknya jika penghayatan kita dalam membacanya yang lebih dipertajam. Barang kali, tak usah lagi kita perbanyak acara Qur’anic recitation festival alias MTQ tapi lebih pada acara yang memotivasi umat untuk menghayati isi Al Quran.
Kawan, dengarlah salah satu Murattal terbaik oleh Abu Bakr Ash Shatri, salah satunya pada surat Qaf ayat 21 sampai ayat terakhir ketika beliau mulai menangis membacanya: setiap orang akan datang bersama malaikat penggiring dan malaikat saksi. Sungguh kamu lalai tentang peristiwa ini, maka kami singkapkan tutup yang menutupi matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam, dan malaikat yang menyertainya berkata “inilah catatan perbuatan yang ada padaku”. Allah berfirman “lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka jahanam, semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. Yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu. Yang mempersekutukan Allah dengan tuhan lain, “maka lemparkanlah ia dengan azab yang keras”. Setan yang menyertainya berkata pula “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh. Allah berfirman “janganlah kamu bertengkar dihadapan Ku, dan sungguh dahulu Aku telah memberikan ancaman kepadamu. Ingatlah pada hari ketika Kami bertanya pada jahanam “Apakah kamu sudah penuh?” Ia menjawab “Masih adakah tambahan?”, dst.
Sungguh kawan ayat-ayat yang seperti ini jika kita baca dengan suara yang melengking-lengking apa jadinya? Dimana hati kita? Sudah mati rasakah kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s