Mau Bong atau Dong

Awalnya saya tertawa sewaktu kakak sepupu saya bercerita tentang seorang guru yang telah pindah, beliau suatu hari pernah berkata pada murid-muridnya, saat menerangkan sesuatu muridnya tak paham-paham juga, pun ketika ditanya. Lantas beliau berkata “Ini kalian tak tau, mau bong atau mau dong?” dengan semangat murid-murid menjawab serempak walaupun tak tau apa maksud dari kata-kata itu. Kata-kata itu memang keren kedengarannya. Maka mereka menjawab “mau bong buk…..” “Hmm bagus” “Apa itu bong buk?” tukas mereka serempak “Bongak alias bodoh” mendengar kata-kata dan ekspresi guru itu murid-murid jadi terdiam, mereka juga tak tau dan tak mau menanayakan kalau dong itu apa artinya, dong itu adalah akronim dari dongok yang artinya juga sama.

Ya, awalnya saya tertawa, bukan karena kata-kata itu tapi karena mendengar murid-murid yang dengan menjawab pertanyaan yang tak pantas untuk mereka dengan semangat dan ekspresi kakak saya bercerita. Namun sesaat saya menyesal kenapa bisa tertawa, tak ada hal yang harus saya tertawa di sana. Kasihan murid-murid dengan semangatnya, dan amat tak pantas kata-kata itu buat mereka, apapun keadaannya.

Bagaimana jika kata-kata dan sikap seperti itu memperngaruhi perkembangan kepribadian mereka. Membekas di dalam ambang sadar dan memperngaruhi mentalitasnya. Jika mereka bisa untuk bersikap positif dan ada yang ‘menarik’ mereka, mungkin itu kan jadi pembuktian bagi mereka suatu saat. Seperti yang juga pernah diceritakan seorang pengawas pendidikan, ketika beliau jadi guru pernah mengatakan kepada salah seorang siswa bahwa dia bodoh. Ketika sukses, siswa itu datang menemui beliau ke sekolah “Ibuk masih ingat saya?” kebetulan memang ibuk itu tak ingat lagi “Ini saya buk, anak yang pernah ibuk bilang bodoh, inilah saya sekarang buk” lalu katanya lagi sebelum berlalu meninggalkan sang guru “Lain kali jangan bilang lagi kata-kata bodoh pada murid buk, itu sangat menyakitkan dan membuatnya malu”, begitulah. Namun jika itu negatif (dan inilah yang sering terjadi) itu akan menghancurkan potensi yang sesungguhnya mereka miliki. Mungkin ketika menganggapnya seperti tadi hanya karena tak tau beberapa hal dalam mata pelajaran tapi itu tidaklah berarti mereka tak bisa diandalkan, barang kali jika diperhatikan mereka punya banyak kelebihan di bidang yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s