Tawadhu’ Kadzib

Kata-kata tawadhu’ sering dilekatkan untuk menyebutkan kerendah hatian yang dimilki oleh orang-orang. Orang-orang yang tidak merasa besar dengan kelebihan, juga tidak rendah diri dengan kekurangan yang dimiliki, namun sekaligus juga tidak mati-matian menutup-nutupi kekurangan tersebut.

Jika tawadhu’ seperti itu adalah sifat yang diajarkan, namun ada tawadhu’ yang namanya tawadhu’ kadzib, kerendah hatian bohong, palsu. Tawadhu’ yang dicitrakan, lahir dari kepura-puraan diri untuk dianggap begini dan begitu, suatu keinginan yang menyelinap dalam hati agar sengaja dinilai dengan melafazkan sesuatu yang berlainan di luar dengan dalamnya.

Tawadhu’ kadzib kalau dirunutkan lebih dalam bisa memasukan kita ke dalam kategori berbuat riya’. Sebab akan sama jatuhnya ketika kita memikirkannya secara seksama. Kalau riya’ berbuat sesuatu karena ingin dipuji manusia sedang tawadhu’ kadzib melakukan atau melafazkan sesuatu agar dianggap tawadhu’, ujungnya riya’ juga kan?

Kadang sulit bagi kita untuk membedakannya, pun juga sulit untuk menghindarkan diri darinya. Itulah sebabnya kenapa kita diajarkan untuk selalu menyandarkan sesuatu kepada Allah. Mengembalikan semuanya pada Nya, bentuk apapun yang kita terima. Ringkasnya, apapun yang bisa kita perbuat berilah penghargaan dengan mensyukurinya jika itu adalah hal-hal besar yang pernah ada, atau hal-hal istimewa, bersyukur karena Allah telah menganugerahkan kemampuan itu pada kita, jangan kita lakukan sesuatu lainnya untuk mencari nilai pada manusia. Jika belum bisa berbuat apa-apa maka berusaha dan bersabarlah dalam prosesnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s