Yang Hilang ketika Dewasa

Menjadi dewasa terkadang membuat kita kehilangan berbagai hal yang bermakna dalam hidup. Kehilangan berbagai rasa yang dulu jadi milik kita. Kehilangan kealamiahan diri yang kita bawa sejak semula. Kehilangan yang sadar ataupun tidak sesungguhnya telah terjadi dalam diri kita.

Di usia remaja atau ketika kanak dengan rasa takut yang kita punya, kita tak sedikitpun berani membantah apa yang dikatakan orang yang lebih tua dari kita, jangankan membantah, melihat, berhadap-hadapan muka saja segan rasanya. Namun setelah dewasa, setelah kita punya argumen-argumen untuk bertahan dengan diri kita, maka semuanya berubah, si santun kadang kehilangan etikanya.

Sebelum dewasa, kita masih dengan keluguan, kepolosan kita yang alamiah, tak mau memakai apapun yang tidak dipersilahkan ke hadapan kita, meskipun sebenarnya memang disediakan. Di meja registrasi misalnya, kita pasti akan merogoh tas untuk mencari dan mengambil pena meskipun pena disediakan disana, atau dengan malu-malu “Pak/buk boleh pinjam penanya pak/buk”, begitulah. Setelah dewasa kita ambil saja pena di atas meja yang belum tentu punya panitia, dan kita pakai tintanya. Kita tak mau tau, yang jelas kita diundang, menghadiri acara, yang membuat acara tentu menyiapkan segalanya buat kita, begitu pikiran dewasa kita.

Ketika usia sekolah mungkin kita masih ingat, ketika bertemu dengan kucing yang cacat di perjalanan, kita selalu merasa kasihan, kadang memikirkan “bagaimana nasib kucing itu ya, atau dimana kucing itu akan tidur ya?” dan kemudian akan menceritakannya setelah sampai di rumah. Setelah masa-masa itu berlalu, ternyata gampang sekali kita melewatkan hal-hal yang serupa. Makanya saya bilang banyak hal yang berubah ketika dewasa.

Adakah patut itu semua? Padahal menjadi dewasa, saat kita mematangkan segala kepribadian yang kita punya. Mematangkan pikiran, cara berpikir, tindak-tanduk, dan keputusan-keputusan kita. Menjadi dewasa, saat kita mengkristalkan nilai-nilai yang kita bawa sejak semula. Namun dengan apa yang telah terjadi setelah dewasa miris kita dibuatnya dan tidaklah dapat kita picingkan mata untuk mebiarkannya berlalu begitu saja.

@@@
Setelah berpikir-pikir bukan dewasanya yang menjadi soal akan tetapi anggapan diri telah menjadi dewasa dengan segala pikiran-pikirannya, disitulah inti permasalahannya. Berpikir ‘dewasa’, tak jarang kadang membuat kita berbuat berdasarkan petimbangan-pertimbangan akal, ketimbang suara hati kita. Hingga untuk membantu orang lain yang sedang benar-benar ditimpa susah kita harus pikir-pikir dulu ribuan kali karena resikonya hingga orang itu ‘mati’ di hadapan mata kita, padahal kalau mau jujur kita bisa membantunya. Dengan rasa ‘dewasa’, Kita terbiasa melakukan hal apa saja karena berpikir bisa mengemukakan alasan untuk melakukan itu meskipun alasan itu sebenarnya tidaklah benar, jika agak kasar menyebutnya salah.

Agaknya, pikiran-pikiran seperti itulah yang membuat kita kehilangan berbagai hal yang dulu kita punya. Pikiran bahwa kita sebagai orang dewasa yang mempunyai ‘power’ akan kedewasaan itu, punya kesibukan, kebutuhan-kebutuhan yang jauh lebih penting dari hal yang sebenarnya sempat melintas di hati namun masih kalah ego dewasa kita. Karenanya ketika menjadi dewasa, dewasakan jugalah cara kita memperlakukan suara hati kita.
Negeri Kepulauan, Syafni Andri Yanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s