Pesan Abadi

Berpisahnya ruh dari jasad ‘memutus’ segala interaksi kasat mata antara seseorang dengan yang ditinggalkannnya. Orang-orang tak lagi bisa melihatnya, mendengarnya bicara, bercakap-cakap dengannya namun segala kebaikannya akan tetap mengalir dan terkenang sepanjang masa. Dan inilah kisah itu.

Pertama kali melihatnya ‘live’ di depan mata saya sekitar tahun 2008, meski sering mendengar nama dan sepak terjangnya di dunia yang dibidaninya sudah lama. Nasehatnya yang berlangsung sore itu dihadiri oleh banyak muslimah, menurut diri pribadi adalah orang-orang yang beruntung sebab dapat bertemu, mendengar, dan belajar banyak hal darinya.

Ceritanya bukanlah “jangan begini-jangan begitu” tapi yang diceritakannya adalah kesehariannya, dan kisahnya yang dapat diteladani. Saya terkesan bagaimana bisa yang bantu-bantu di rumahnya bisa menganggapnya sebgai Ibu/ keluarga sendiri (Kalau majikan yang menganggap anak/ saudara sendiri itu hal biasa menurut saya, sebab kan belum tentu yang bantu-bantu itu merasakannya, tapi kalau yang bantu-bantu itu merasakannya maka otomatis majikan itu pasti melakukannya dengan sangat baik dan seperti keluarga) yang ada di benak saya ketika “betapa baiknya ibu ini”. Lalu mendengar ia berkisah tentang anak-anaknya yang banyak, dan permintaan beliau pada mereka agar menyiapkan, membelikan sepetak tanah yang akan ditempatinya setelah beliau tiada, kuburan. Itu membuat saya tersentak sebagai seorang anak.

Saya mendengarnya bercerita tentang kunjungannya ke negeri zaitun. Dalam kunjungannya ke sana dia bertemu dengan seorang muslimah yang mengatakan padanya agar melihat pohon-pohon zaitun yang ditebangi dan dibuldoiser oleh penista dunia karena keyakinan mereka akan apa yang akan dilakukan pohon itu di akhir nanti kepada mereka. Diakhir perjumpaan mereka, muslimah itu berkata “narakum fi jannah: semoga bertemu denganmu di syurga” Subhanallah, ucapan dahsyat menggetarkan jiwa.
Pada satu bagian lain beliau berpesan, sebuah pesan abadi menurut saya. “Saat kita akan tidur, itu ka nada rentang jarak antara kita benar-benar tidur dengan usaha memejamkan mata agar lelap yang bisanya diisi dengan pikiran-pikiran yang tak berguna. Coba isi rentang waktu itu dengan Zikrullah sampai kita benar-benar tertidur” Subhanallah, alangkah indahnya

Di akhir acara itu beliaupun mengucap kata-kata itu untuk kami “narakum fi jannah” inilah kisah yang bisa aku bagi tentang beliau, ustadzah Yoyo Yusroh. Dan kalimat pertama kali yang aku ingat ketika mendengar kepergian beliau dari seorang saudara adalah narakum fi jannah sebelumnya malam aku terkenang akan pesan abadinya. Sungguh orang-orang mulia itu telah mengakhiri dunianya dengan membawa kemenangan di sisi Robb nya sedangkan kita yang tinggal…….
SYafni Andri Yanti

One thought on “Pesan Abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s