Dibalik kerja-kerja manual

Adalah hal yang lumrah, bahkan mutlak bagi orang-orang dahulu untuk melakukan sesuatu pekerjaan dari awal sampai akhir secara manual. Bahkan sampai saat sekarangpun kebiasan itu masih tetap dilakukan meskipun teknologi telh meninggalkan dan menggantikan semuanya. Barangkali ada yang berbeda kala semua kerja itu diganti pengerjaannya, barangkali juga ada yang tak dinimati ketika semuanya dilakukan dengan cara yang berbeda.

Bagi orang dahulu (sebutlah di ranah minang) untuk dapat membuat rempeyek ikan (rakik maco) misalnya, harus mengeringkan dulu daun embancang sebagai ceatakannya. Menumbuk beras di lesung untuk dijadikan tepung. Menggiling bumbu-bumbu seperti ketumbar, bawang, cabe untuk kemudian diadon. Adonan itu kemudian diletakan ke atas daun embacang dengan cara dioles rata kemudian baru dibubuhi di atasnya 1-2-3 ikan kering dan sesudah itu baru digoreng. Itupun minyak gorengnya dibuat sendiri.untuk bahan bakarnya bukan dengan kompor ataupun gas tapi kayu api.

Pekerjaan yang ribet memang, tidak efisien, tidak efektif. Membuang energi, waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan dan kegiatan lain mungkin bagi banyak orang. Tapi jika dilihat dengan cara yang berbeda, maka akan ada hal penting yang ditemukan disana.

Kesabaran meniti proseslah yang ditemukan disana, keuletan menjalani hal-hal yang ada dalam proses itu dan pengaruhnya kemudian terhadap sikap diri, cara kita memperlakukan sesuatu. Mungkin kesannya agak mengada-ada tapi tulah nyatannya.

Mengertinya seseorang dengan proses menjadikan seseorang berpikir untuk menghargai, tidak menyia-nyiakan sesuatu (walaupun disini dimisalkan hanya pada proses pembuatan makanan). Bukankah dulu waktu kecil orang tua kita pernah bilang kalau kita mau makan nasi “nasinya jangan berserak-serak nak, kalau nasinya berserak, nasi itu menangis.” Kenapa orang tua berkata seperti itu? Itu karena orang tua kita tau persis rangkaian proses yang menjadikan nasi itu adadan sesungguhnya merekalah sebenarnya yang menangis mengingat pedihnya perjuangan mereka untuk dapa menyediakan itu untuk kita.

Bagi kita sekarang, sesekali mencoba kemanualan kerja itu tak ada salahnya. Menikmati rangkaian proses yang menjadikan kita membuka mata untuk menghargai kerja-kerja biasa yang sebenarnya istimewa karena perjuangan dibaliknya. Sekaligus bisa meregangkan otot-otot yang kaku karena melulu melakukan kerja yang itu-itu saja.

Moro, 30 Agustus 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s