Mengapa kemudian orang jadi tidak tau berterima kasih

Orang yang tidak tau berterima kasih mungkin adalah orang yang paling tidak layak menerima kebaikan apapun di muka bumi ini. Orang yang tidak menghargai dan meyia-nyiakan segala yang diberi. Orang yang merasa bisa sendiri, dan merasa tek perlu orang lain lagi. Itulah sekelumit gambaran tentang orang-orang ini. Tapi pernahkah kita melihat hal tesebut dari lain sisi? Yang menjadikan judul dari tulisan ini diawali dengan kata-kata tanya mengapa, disusul dengan kata-kata kemudian orang-orang jadi tidak tau berterima kasih. Kata-kata ‘kemudian yang mengindikasikan sebuah keadaan awal yang berbeda dari yang sebelumnya; awalnya berterima kasih, tapi tiada pada akhirnya
# # #

Setiap kita tanpa disadari pasti memilki peranan bagi orang-orang disekitar kita. Terelapas dari kecil besarnya, berharga tidaknya peranan itu. Yang karena peran-peran itu orang-orang jadi berterima kasih, orang-orang jadi mengingat kebaikan yang diterimanya dari kita. Namun ada peran-peran itu yang akhirnya sengaja dilupakan orang lain hingga mungkin ucapan-ucapan “tidak tau berterima kasih” terlontar dari mulut kita.
@ @ @

Bagi sebagian orang sengaja melupakan kebaikan orang lain mungkin adalah karena ketidak mengertian diri, keangkuhan sesaat dan merasa tidak butuh terhadap orang lain namun bagi sebagian yang lain sengaja ‘melupakan’ kebaikan orang lain adalah jalan yang terpaksa harus dipilih, bukan karena rasa tidak tau berterima kasih tapi karena terlampau banyak peranan yang telah diterimanya yang menyakitkan di hati. Peran yang tak pernah diingkarinya, tapi membuatnya merasa tak layak sebagai apapun, peran yang sangat berarti tapi mengungkungnya untuk menentukan pilihan apalagi keinginan sendiri.

Maka ketika mengatakan kata-kata tidak tau berterima kasih kepada orang-orang atas kebaikan-kebaikan kita padanya maka periksalah kembali diri kita terlebih dahulu. Adakah peran dalam kebaikan-kebaikan itu yang kita lakukan dengan cara yang tidak berkenan di hati orang yang menerimanya. Adakah dalam peran itu kita merasa bisa berbuat seenaknya terhadap orang-orang itu lantas menentukan jalan yang harus ditempuhnya dengan cara dan settingan kita, tanpa tau dan memedulikan keinginannya yang sesungguhnya. Adakah dalam peran itu, kita menjadikan orang-orang itu merasa tak berharaga dan memandangnya dengan sebelah mata?

Mungkin itulah jawabnya. Bukan hendak meridhai tindakan tidak tau berterima kasih, tapi semata-mata sebagai koreksi untuk kita dalam memperlakukan orang-orang disekitar kita. Jika dengan peran kita, menjadikan orang-orang jadi ‘berarti’ tapi janganlah itu akhirnya membuat kita bebas berbuat seenaknya, jika diluaran orang-orang itu kelihatan tak apa-apa tapi di dalam sesungguhnya menyimpan luka.

Moro, the first of Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s