Duka-Bahagia

Sering kali yang kita ingat ketika sedang bahagia bahwa bahagia tak selamanya. Pun juga sering kita diingatkan akan hal itu melalui nasehat orang-orang bijak. Karena itu telah belajar dan terbiasa kita menyerdehanakan rasa bahagia itu di kerajaan diri kita, hati, kita tak mengisinya penuh. Jika diibaratkan hati kita itu sebuah tempat, maka kita tak menempati kesemua tempat itu dengan rasa bahagia, kita mempersiapkan satu tempat diantaranya untuk hadirnya rasa yang lain, yang mungkin berlawanan dengannya.

Namun adakah hal itu juga berlaku ketika sedang berduka? Bahwa sebagaimana bahagia, duka juga tak selamanya. Kita juga harus meluangkan ruang untuk hal lain di hati kita. Jangan biarkan duka itu menutup pintu-pintu bagi rasa penawarnya apalagi jika kita sampai mengunci pintu itu hingga kita tak pernah keluar-luar dari sana.

Dalam hidup, bahagia adalah suatu hal yang wajar, duka pun juga adalah sesuatu yang wajar juga, siapapun pasti mengalami, bahkan nabi sekalipun. Atau seperti kata WS. Rendra dalam penggalan sajaknya –suka duka kita tidaklah istimewa. Karena setiap orang pernah mengalaminya-. Dalam bahasa sederhananya; bukan kita saja yang bersuka, juga bukan kita saja yang berduka, orang lain pun juga. Yang menjadi pembedanya kemudian adalah cara kita menyikapi hal tersebut, yang berbeda hanyalah cara kita menempatkannya dalam jiwa kita.

Atau barang kali kita menganggap bahwa kita adalah orang yang merasa lebih banyak dukanya dibandingkan orang-orang. Lebih banyak sedihnya dibandingkan orang-orang. Lebih banyak sedihnya diabandingkan orang-orang. Lebih banyak masalah yang menghampiri kita, lebih banyak kecewa yang menggelayuti hidup kita. Lebih malang, lebih terbuang, lebih tersakiti, lebih teraniaya, lebih dan lebih segalanya dari orang-orang. Jika begitu adanya tidak kah kita sadar bahwa kita kah orangnya, orang yang dipersiapkan untuk menjadi orang yang ‘hebat’, kita lah orangnya, yang sedang dipersiapkan menjadi orang yang kuat.

Hmmph, harusnya kita berpikir seperti ini: kita pasti tak akan memilih orang sembarangan untuk kita amanahi dan memercayakan sesuatu, kita pasti mencari orang yang tepat untuk itu, begitupun Rabb kita, tak akan DIA memilih kita untuk menjalani semua itu kalau DIA tidak yakin pada kita, kalau DIA tak ingin melatih kita. Maka berbahagialah dalam duka sebab sesungguhnya kita adalah orang-orang terpilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s