Hijrah Meneladani Kemandirian Para Sahabat

Tahun baru hijriyah, momen untuk kita menapak tilasi sebuah perjalanan, hijrahnya nabi Muhammad s.a.w dan para sahabat dari kota Makkah menuju Madinah. Perjalanan hijrah yang dilatari oleh penolakan penduduk Makkah atas dakwah yang disampaikan sang nabiyullah, serta penyiksaan yang mereka lakukan terhadapnya dan para sahabat. Perjalanan ke negeri yang lebih aman bagi keberlangsungan dakwah beliau, dan kepada orang-orang yang mau menerima serta menanti-nantikan kehadiran beliau di tengah-tengah mereka.

Perjalanan hijrah tersebut menjadi titik tolak bagi terbentuknya sebuah masyarakat madani yang berhukum atas aturan Allah dan rasul nya, serta merupakan pilar bagi terbangunnya peradaban agung sepanjang sejarah kehidupan manusia. Bagi kita hari ini tapak tilas itu tentunya bagaimana kita dapat meneladani, dan mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi di saat hijrah tersebut, salah satu diantaranya adalah bagaimana kita meneladani kemandirian para sahabat.
# # #
Salah satu hal utama yang dilakukan nabi ketika sampai di Madinah adalah mempersaudarakan antara kaum muhajirin (yang hijrah) dan kaum anshar (penduduk madinah). Al-Mubarakfury dalam bukunya Sirah Nabawiyah mengatakan bahwa tujuan rasulullah mempersaudarakan mereka adalah agar mereka saling tolong menolong satu sama lain, saling mewarisi harta benda jika ada yang meninggal dunia disamping kerabatnya, sebelum ayat tentang pelarangan hal ini turun “orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya dari pada yang bukan kerabatnya (Al-Anfal 75). Persaudaraan ini merupakan ikatan kokoh yang benar-benar dilaksanakan oleh kedua belah pihak, dimana mereka (kaum anshar) rela mengorbankan apa yang mereka cintai dari apa yang mereka miliki dan lebih mementingkan serta mendahulukan kaum muhajirin dibanding diri mereka sendiri.

Persaudaraan tersebut tercermin dari apa yang dikatakan Sa’ad bin Ar Rabi’ kepada Abdurrahman bin ‘Auf ketika mereka dipersaudarakan oleh rasulullah. Saat itu Sa’ad menyatakan “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan anshar. Ambillah separuh dari harta ku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua isteri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya dudah habis maka nikahilah ia!” demi mendengar tawaran itu maka bukannya menerima tapi Abdurrahman dengan percaya diri menjawab “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukan saja aku dimana pasar kalian.”

Ya, pasar! Pasar tempat berputarnya roda ekonomi. Itulah yang lebih dipilih oleh Abdurrahman bin ‘Auf dari pada tawaran tulus yang ditawarkan oleh saudaranya dari kalangan kaum anshar. Dengan mengetahui dimana letak pasar, ia bisa berusaha, berniaga untuk membangun kehidupan perekonomiannya dari nol di tempatnya yang baru. Tak sedikitpun ia berpikir untuk meminjam modal (uang) untuk membuka usahanya, apalagi meminta akan tetapi beliau langsung ke pasar untuk melihat apa yang bisa dijualnya di sana. Dikisahkan bahwa sampai di pasar Abdurrahman bin ‘Auf mendapatkan sejumlah sanin dan keju untuk kemudian dijualnya.

Begitulah kemandirian para sahabat, dalam kondisi membangun segalanya dari nol kembali mereka tetap yakin bisa berusaha sendiri, padahal bisa saja mereka menerima tawaran dari kaum anshar sebab kaum anshar telah redha kepada mereka tapi karena telah terbiasa untuk bekerja, membangun hidup mereka sendiri, sekaligus menjaga harga diri mereka maka mereka lebih memilih untuk berusaha sendiri, dan mereka berhasil. Keberhasilan itu terbukti ketika suatu hari Abdurrahman bin ‘Auf datang kepada rasul mengabarkan pada beliau bahwa dia telah menikah, lalu rasulullah bertanya tentang berapa mas kawin yang diberikannya kepada isterinya, ia menjawab dengan beberapa keping emas kepada rasulullah. Mas kawin yang diperolehnya dari hasil perniagan yang dilakukannya di pasar.

Hal seperti itulah yang sepatutnya kita teladani hari ini. Kita lihat bagaimana Abdurrahman meminta ditunjukan pasar saja tanpa meminta dipinjamkan modal (uang) sama sekali, artinya bahwa kemauan dan kerja keraslah yang lebih penting disini. Modal memang penting tapi modal itu tak harus melulu harus berbentuk uang, hingga ketika memulai sesuatu kita jadi bergantung pada ada tidaknya uang itu, padahal sebenarnya hal lain pun dapat kita jadikan modal jika kita bisa mengakalinya.

Keteladanan-keteladanan seperti itu telah sangat banyak dicontohkan oleh nabi maupun para sahabat. Nabi kita juga terjun kedunia perniagaan untuk menafkahi hidupnya dan keluarganya, padahal apa salahnya nabi tidak usah bersusah-susah, toh beliau adalah nabi, yang Allah pasti menjamin hidup beliau. Beliau bisa memerintahkan kepada para sahabat untuk menyediakan segala yang diperlukannya, tapi sama sekali bukan itu yang dilakukan oleh beliau, beliau membangun keteladanan untuk mandiri dari diri beliau sendiri. Kita pun juga tau kalau para sahabat beliau seperti Abu Bakar dan Umar bin Khatab adalah orang yang memiliki harta, bagaimana mereka mendapatkan semua itu kalau bukan dari hasil kerja keras dan kemandirian hidup mereka.

Maka tahun baru hijriyah, bukan hanya kita menyorot pada perjalanan rasulullah hijrah ke tempat yang lebih menjanjikan bagi keberlangsungan hidup dan kehidupan dakwah beliau tapi lebih kepada menyimak peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Peristiwa-peristiwa itu kita teladani untuk melakukan tranformasi dalam kehidupan kita, transformasi yang harus kita mulai saat ini. Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s