Jangan Mudah Marah

Marah adalah emosi alamiah yang dimilki setiap manusia. Marah hadir karena sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut dan karena hal-hal yang mengusik kenyamanan jiwa. Nah, ketika seseorang marah berarti ada yang tidak ia sukai dalam sebuah perkara, ada yang tidak bisa diterima dari perkara tersebut, begitu kira-kira.

Ketika marah, ada banyak hal yang dilakukan seseorang untuk mengekspresikannya. Ada yang meluapkan marah dengan cacian-makian yang tak ada tempatnya, ada yang ngamuk hingga benda-benda yang ada disekelilingnya dapat terbang dibuatnya, ada juga yang menyakiti orang yang telah membuatnya marah, ada yang memilih diam dan berusaha untuk sabar dalam kemarahannya.

Dari berbagai hal yang membuat kita pernah marah dan dari berbagai ekspresi yang ada kala itu jika dipikir-pikir lagi sekarang layakkah kita melakukan hal tersebut? Sebab ada kalanya kemarahan bukan disebabkan karena sesuatu itu sangat mengganggu nilai-nilai bagi diri kita, dan sangat tidak bisa diterima yang karenanya kita layak berargumen untuk marah, tapi lebih karena memperturutkan derasnya aliran darah yang telah memuncak ke kepala pada saat itu, menjaga image diri, dan karena telah terbiasa.

Ketauilah pada saat marah ada banyak hal tidak bisa dikendalikan, kata-kata terutama yang merupakan sumber bagi mala petaka lainnya. Bukankah telah kita saksikan banyak pertengkaran yang terjadi sacara massive dan massal diakibatkan karena kata-kata pada saat marah. Menyinggung pihak-pihak tertentu sampai ke akar-akarnya, hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah.

Mengingat banyaknya kerugian yang diakibatkan karena marah ini tak salah jika ketika seorang laki-laki di zaman rasulullah, meminta nasehat pada beliau dan berkata “nasehatilah aku wahai rasul” lalu rasulullah pun menjawab “jangan marah” dan kalimat jangan marah ini diulangi sampai tiga kali, seperti yang telah diriwiyatkan oleh imam Bukhari. Selain itu rasulullah pun telah menuntun kita tentang apa yang harus kita lakukan ketika marah. Ketika kita marah dalam posisi berdiri maka kita hendaklah duduk, ketika sedang duduk maka hendaklah berdiri. Hal ini dilakukan agar sirkulasi darah dapat berubah sehingga tekanan emosi pun jadi berkurang. Jika hal ini tak jua redah maka kita dianjurkan berwudhu’ untuk memdinginkan darah dan memberi ketenangan pada jiwa, jika marah juga tak redah maka shalatlah dua rakaat, begitu kita diajarkan. Jadi sebelum marah, layaknya kita berpikir lebih dulu. Wallahu ‘alam bisshawab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s