Orang Tua dan Keidealan

Karena berbagai sebab, mungkin tak semua orang tua memiliki ‘keidealan’ seperti yang kita damba. Barang kali kita terlahir dari orang tua yang buta ilmu pengetahuan dan amaliah agama. Tak jarang juga diantara kita memiki orang tua yang melakukan hal yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku umum di masyarakat. Mungkin juga ada yang kecewa, karena keterbatasan yang dimiliki orang tua hingga menyebabkan banyak kehendak yang kita miliki tidak pernah terwujud, atau merasa kecewa karena orang tua yang seolah lebih ‘memerhatikan’ kerja dan hal lainnya dari pada kita.
Namun yang pasti kawan, apapun keadaan orang tua, kita tetap berkewajiban untuk menghormati mereka. Apapun dan bagaimanapun kondisi orang tua kita, kitalah yang terdepan dalam memerhatikan dan memohonkan kebaikan untuk mereka. Sebab ada banyak hal mungkin yang tak pernah kita tau dan tak kita mengerti tentang orang tua kita. Barangkali mereka tak pernah mendapatkan pendidikan seperti yang sedang dan pernah kita kecapi, pikiran mereka belum sampai pada apa yang kita pikirkan, dan apa yang mereka pikirkanpun juga mungkin tak kita mengerti. Mereka…kita tak tau apa yang pernah dialami di masa-masa silam mereka.
Begitulah adanya kawan, melihat orang tua orang lain, lalu melihat orang tua kita. Ada yang bersyukur, juga pasti ada yang tak sengaja jadi “kecewa”. Kawan, tanpa kita sadar, dalam hati kita ini pernah menuntut orang tua seperti apa yang kita ingini. Taukah kawan, inginya orang tua selalu menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya, hanya saja karena berbagai faktor hal itu belum tampak dan terasa wujudnya. Bahkan seorang pelaku kejahatanpun tak pernah berniat anak-anaknya menjadi seperti mereka.
Ah, mendamba yang sempurna mungkin itu tidak akan ada kawan. Secara kasat mata kita, mungkin tak ada orang tua yang ‘sempurna’, tapi bagaimanapun dan seperti apapun seorang orang tua akan selalu mencintai dengan sempurna, itulah intinya. Kita…bagaimana jika orang tua kita mengungkapkan apa yang mereka rasa tentang kita. Seberapa banyak pilihan-pilihan kita selama ini yang egois tanpa memikirkan mereka, seberapa sering kita ‘memilih’ orang lain dari pada mereka? Sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan pada kita kan? Kalau pun ada yang sempat merasa begitu, kita tau tak pernah mereka sengaja untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s