Persepsi yang Benar

Menjadikan orang lain sebagai tolak ukur bagi kita tidaklah salah, melihat apa yang dimiliki orang lain; kemampuan, karier, posisi juga bukanlah suatu kesalahan, asal sesuatu itu bersifat sebagai motivasi saja, yang mendorong kita untuk berbuat dengan tujuan yang sama, yaitu tujuan untuk berhasil. Akan tetapi adakalanya hal itu berubah menjadi sesuatu yang keliru, keliru karena persepsi untuk menjadikan diri harus persis sama dengan orang tersebut.

Disanalah titik persoalannya, sering kali kita silau dan terpukau dengan apa yang ada pada orang yang kita lihat, menjadikan orang yang kita lihat sebagai model untuk diri kita, yang barang kali kita tidaklah sepertinya, dalam artian kita tak memilki apa yang ia milliki, daya dukung kita tidaklah sama, bakat dan kecenderungan kitapun berbeda. Ketika tak menemui apa yang dimiliki orang itu dalam diri kita, kita merasa kecil dan tak ada apa-apanya, hidup seperti berhenti dan rasa tak punya arti. Padahal sebenarnya yang harus kita lihat terlebih dahulu adalah ke dalam diri kita, tentang apa yang kita punya dan apa yang bisa kita kembangkan dengan apa yang kita punya itu.

Sesungguhnya jika itu yang kita lihat terlebih dahulu, maka kekeliruan-kekeliuran tentang persepsi diri itu tak perlu jadi hal yang dramatis sekaligus tragis. (Haha, Itulah yang selama ini saya alami saudara-saudara.) Barangkali kita punya potensi yang mumpuni dalam hal-hal tertentu yang bisa jika benar-benar dilejitkan.

Bertahun-tahun lalu kita sering kali terdoktrin dengan kesimpulan-kesimpulan kaku yang menitik beratkan bahwa bakat dan kecerdasan itu seolah hanya untuk orang yang memiliki kemampuan dalam ilmu-ilmu pasti, tapi tidak, apa yang berkembang hari ini tidak begitu nyatanya. Apakah orang yang berbakat di bidang seni, yang menghasilkan karya yang menakjubkan, imaginasi yang terpadu-padankan dan tertuang tidak dalam bentuk alat-alat yang ada hubungannya dengan penggantian kerja manusia, penemuan-penemuan di pelbagai bidang, tapi tertuang dalam bentuk keindahan yang estetik, tidak bisa dikatakan memilki kemampuan, dan kapasitas pribadi? Tentu saja itu tidaklah benar kan? Itu hanya satu contoh kecil saja, masih banyak contoh lainnya yang bertebaran di sekitar kita.

Maka mungkin saja kita memiliki hal itu kawan, yang tidak semua orang bisa, yang tak semua orang mampu melakukannya. Apakah itu akan kita dustakan? Dengan masihnya kita memakukan diri memandang penuh kesilauan pada apa yang ada pada orang lain dan melupakan karunia yang sebetulnya kita milki. Tanjung Balai Karimun, Desember 11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s