Pengejaran Terbesar dalam Hidup

Apa yang selalu kita usahakan, apa yang menjadi perhatian, apa yang menyita seluruh energi dan apa yang menjadi ekspektasi; itulah pengejaran terbesar kita dalam hidup. Yang masing-masingnya telah menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Dari sanalah tercermin siapa, bagaimana kita, di sanalah kita dapat mengukur diri sendiri tentang apa, siapa sesungguhnya diri kita ini.

Meteri (termasuk ilmu dan teknologi di dalamnya), posisi, dan cinta merupakan urat simpul dari pengejaran terbesar kita di dunia. Dunia begitu berwarna karenanya. Dari sana lahir aktivitas-aktivitas penuh laga, penuh gairah. Dengan itu semua kita menjadi ada.

Pengejaran-pengejaran terbesar itu pada mulanya sebagai titik tolak untuk melangkah, sebagai motivasi dan penyemangat jiwa. Pengejaran terbesar itu yang membuat kita tak mengenal kata menyerah dan lelah dalam hidup. Dan yang menjadikan hidup jadi berdinamika. Di satu sisi bergitulah adanya, tapi di sisi yang lain pernahkah kita berpikir pengejaran-pengejaran terbesar dalam hidup ini telah menjadikan kita apa dan bagaimana.

Ada kalanya pengejaran terbesar itu menimbulkan penghidupan yang pedih baik bagi diri sendiri maupun sekitar kita. Pedih karena pengejaran terbesar itu berubah menjadikan diri sendiri sebagai budak yang mati-matian akan sesuatu yang sesungguhnya maya dan fana, sesuatu yang tandas menghisap sari pati jiwa, hingga membuatnya kosong, hampa. Pengejaran terbesar itu telah sampai menimbulkan derita bagi orang-orang lainnya, dan mengorbankan mereka.

Agar tak terkesan mengada-ada sebut saja teknologi misalnya. Teknologi yang telah banyak memberi kebermanfaatan bagi kelangsungan hidup kita, namun di sisi lain ada banyak hal yang terkorbankan, bahkan kejahatan terbesar dalam kemanusiaanpun difasilitasi oleh teknologi. Tak salah jika Einstein seperti yang dikutip dalam Horison, edisi kitab essay mengatakan “penyelidikan yang mendalam dan pekerjaan ilmiah yang bersemangat sering kali membawa pelaksanaan yang sedih bagi kehidupan manusia, pada satu pihak ia menghasilkan pendapatan-pendapatan yang memerdekakan manusia dari pekerjaan badaniah yang lebih berat, membuat kehidupan lebih mudah dan lebih kaya. Tetapi sebaliknya ia membawa kegelisahan besar ke dalam penghidupan, menjadikan orang sebagai budak bagi lingkungan teknologinya dan lebih mencelakakan lagi dari segala-galanya membuat alat untuk memusnahkan sesama manusia secara besar-besaran.

Bukanlah tanpa dasar Einstein berkata demikian. Sebab itulah yang menjadi buah penyesalan seumur hidup baginya. Menciptakan sesuatu yang pada akhirnya ternyata digunakan untuk menjadi pemusnah bagi sesama; dijatuhkannya bom atom yang diciptakannya di Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat yang banyak menelan korban. Hingga kata Einstein ketika itu, jika mengetahui akan sedemikian akibatnya, lebih baik diri nya jadi tukang reparasi jam saja. Bahkan pilot Kermit Beahan, yang bertugas menjatuhkan bom atom pada saat itu mengutarakan isi hatinya sebelum dia meninggal dunia “semoga akulah yang terakhir di dunia ini yang menjatuhkan bom atom”. Dan kini teknologi-teknologi itu telah sengaja diciptakan memang bertujuan untuk menghancurkan sesama, siapa saja, negara mana saja yang dirasa akan membahayakan posisi bagi negara lainnya.

Ya, itulah salah satu dampak dari pengejaran terbesar manusia. Pengejaran terbesar yang telah berubah menjadi ambisi untuk menjajah, berkuasa, menindas si lemah, dan menjadikan diri serakah segala-galanya. Rentetan-rentetan laga dan cerita di panggung negeri kita juga merupakan cerminan dari rentetan pengejaran terbesar itu, pengejaran terbesar bagi orang yang satu, tapi untuk derita bagi banyak orang lainnya. Pengejaran terbesar yang merubah manusia lupa dan alpa, bahkan telak melumpuhkan dan menumpulkan jiwa. Bagaimana akan jiwa yang lumpuh dan tumpul itu dapat menimbang lagi yang benar dan yang salah.

Lalu apa kisahnya dengan cinta? Cinta yang telah lama menjadi sejarah dan dilema. Pengejaran terbesar untuk cinta; agung, suci dan indah. Pengejaran terbesar yang sayang akhirnya menjadikan Laila majnun karenanya. Pengejaran terbesar yang menjadikan kita lupa dengan nasehat orang tua, nasehat agama, dan lupa segala-galanya. Cinta yang merubah kita menjadi pemberontak dan kehilangan jati diri sebagai anak, sebagai adik, sebagai kakak atau sebagai siapapun. Cinta yang melambungkan kita tinggi ke angkasa dan lupa untuk berpijak di tanah. Anggaplah kisah Romeo dan Juliet-nya Shakespear benar adanya, dan bagaimanapun kita juga tak menafikkan kisah yang seperti itu ada di hidup nyata kita, tapi yang sebaliknya juga banyak terjadinya. Boleh kisah-kisah cinta yang indah nian itu menjadi representasi kepercayaan kita akan kesejatian cinta tapi ingat kepedihan karenanya juga tak pernah sudah. Karena yang kita cinta bukanlah yang sejati, cuma manusia.

Hamka, dalam essainya Seni dan Cinta mengemukakan bahwa janganlah cinta diletakkan pada sifat, sebab sifat boleh berubah-ubah, karena perubahan tempat dan zaman. Langsungkanlah terus cinta itu kepada Zat. Adapun Zat yang hakiki, zat yang mutlak ialah zat Allah. itulah ujud yang sempurna, yang tiada terpecah lagi, cinta sejati itu ialah Allah. Kata Hamka lagi, tentu kita tidak akan bertemu dengan cinta, selama kita masih jauh dari zat yang mutlak ini, kunci emasnya belum terpegang di tangan kita. Cinta sejati itu adalah nikmat. Meskipun kita mengaku telah mencinta, padahal batin kita masih tersiksa, tandanya kita belum mencintai zat yang mutlak. Tandanya cinta kita masih singgah-singgah di tengah jalan, ke tempat yang lain, yang berubah-ubah dan berpindah-pindah, sebab semuanya itu barulah bayangan.

Oleh karenanya marilah kita tanyakan pada diri kita pengejaran-pengejaran terbesar kita dalam hidup ini menjadikan kita apa, bagaimana dan seperti apa. Kalau materi, materi itu telah menjadikan kita bagai mana. Kalau posisi, posisi itu telah menjadikan kita seperti apa dan kalau cinta, cinta itu telah menjadikan kita apa. Sebab kita tak dilarang untuk mengejar apapun di dunia ini tapi kembalikan lagi kepada pertanyaan tadi. Jika pertanyaan itu telah dijawab maka dapat kita menarik suatu benang merah tentang kebaikan dari pengejaran terbesar itu untuk hidup kita terutama dan untuk orang di sekitar kita juga tentunya. Jika ada sesuatu yang perlu kita usahakan untuk memperbaikinya maka kita perbaiki, atau ada yang perlu untuk kita tingkatkan, atau bahkan mungkin ada yang harus kita tinggalkan. Yang terpenting sebenarnya pengejaran terbesar kita dalam hidup itu hendaklah mengikut sertakan hati nurani, akal budi dan pikiran yang sehat dalam kinerjanya. Pengejaran terbesar itu harusnya menciptakan daya, pencipta keseimbangan berbagai sisi-sisi kehidupan yang berbeda. Pengejaran terbesar itu mestinya menjadikan kita paham bagaimana layaknya kita hidup dan bagaimana layaknya hidup setelah hidup tersebut. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s