Dusun Nio

(Mengenang sebuah perjalanan di akhir 2010). Dusun Nio, begitulah nama salah satu pulau yang ada di kecamatan Moro kabupaten Karimun, propinsi kepulauan Riau ini disebut. Nama itu sebenarnya ditulis Dusun Nyiur tapi karena orang melayu terbiasa menyebut huruf u dengan o pada kata-kata tertentu dan tidak membunyikan huruf r pada kata-kata yang ada huruf R nya maka nama dusun niur tersebut jadi begitu.

Siang dari Moro, kami menaiki boat pancung (boat kecil) membelah lautan menuju Dusun Nio untuk mengunjungi seorang teman yang telah pindah ke sana. Karena boatnya yang kecil dan laju maka kami harus mengembangkan payung untuk menghalangi tempias asin air laut yang bercipratan ke wajah. Sungguh ribetnya perjalanann waktu itu, ditambah dengan sengatan mentari yang luar biasa. Keribetan itu tak sampai di situ saja, sebab saat sampai di sana, ke rumah teman yang berada di pinggir laut kami harus bersusah payah menaiki tangga yang terpancang di laut itu. Tangga itu jarak anak-anak tangganya 2 langkah kecil kaki kita kira-kira.

Namun keribetan itu lenyap sudah, saat telah berada di pelantar rumah. Duduk menyaksi laut yang tidak seperti laut di Moro, tempat aku tinggal. Dengan seorang teman kami sepakat menamakan laut di Moro laut yang terkungkung, gersang. Sedang laut di sini asri indah. Barang kali karena jarak rumah penduduk dari seberang ke seberang tidak terlalu jauh, jadi hidup kelihatannya, tambah lagi dengan bayaknya pohon-pohon nyiur. Duhai indahnya…. Nama daerah seberang itupun luar biasa, depannya bernama Tanjung Bahagia (Kalau sedih eloklah kita ke sana, kan namanya Tanjung bahagia, hm), samping Tanjung bahagia namanya Pasai (Kayak nama kerajaan silam ya), di sebarang Pasai itu nama daerahya Judah (kenapa tak Jeddah aja sekalian..) tapi kata orang-orang, dulu di sana memang tempatnya orang alim bermukim, tempat para penyebar dakwah Islam silam berada.

@ @ @
Saat sore menyentuh dengan keteduahannya maka suasana lebih indah terasa. Pasang naik air laut membuatnya nampak anggun dengan kebiruannya yang bertambah-tambah. Semua masalah seolah tercerabut dari kepala, saat diri pasrah menyatu dengan keindahan alam yang masih tak seberapa dibanding keindahan lain yang dijanjikan Nya nanti di Singgasana. Semua terasa indah; tiupan angin yang menyapa, perahu-perahu yang dikayuh tuannya, pompong (Kapal kayu dan berbahan bakar minyak tanah) yang kebetulan membawa arak-arakan mempelai pria menuju rumah mempelai wanita lewat dengan menabuh kompang (rebbana) di tengah laut.

Asyik terpana, ups tiba-tiba teman kami membuang sisa-sisa apa saja ke laut, mulai dari sampah sampai semuanya. Kami yang datang bertamu protes tak terima dengan apa yang sedang dilakukan tuan rumah. “cobalah pikir, mau dibuang kemana sampah-sampah ini neng (begitu panggilan kami satu sama lain). Rumah kami jauh dari darat, mau bakar sampah dimana. Emangnya ini kota yang ada tempat pengolahan sampahnya” dengan segera kami sadar, “dilematis”. Jangankan di sini di Moro aja yang sedikit agak ‘kota’ dari Dusun Nio mayoritas masyarakatnya juga membuang sampah ke laut. Laut tempat kami mencari nafkah, sekaligus juga tempat pembuangan limbah, sampah manusia. Hingga tak heran terkadang ketika di perjalanan menaiki speed boat yang bermesin tempel, speed boat terhenti di tengah-tengah laut karena mesinnya tersangkut sampah.
Entah apa yang terjadi dengan kehidupan laut di bawah sana. Takutnya ketika ia tak lagi bisa menerima semua, ia akan memuntahkan isinya.

@ @ @
Tuntutan jasmani membuat kami harus memedulikan cacing-cacing yang bergentayangan di perut. Kami nimbrung membantu melihat-lihat “makcik-makcik” tetangga sebelah membuat panganan khas dari ikan yang dibungkus dengan daun pisang atau daun kelapa;otak-otak. Jika bisa disamakan otak-otak ini samalah dengan sejenis “Palai” yang aku kenal di Padang. Ikan mentah dihaluskan, diberi bumbu kemudian di masukan ke dalam daun kelapa (ini yang biasanya), atau daun pisang, kemudian di bakar atau dikukus. Alamak, semua bahan bumbunya serba bubuk, cabei bubuk, kunyit bubuk dan taukah label dari produk-produk itu? Made in luar negeri. Memang produk dari negara tetangga banyak di sini, legal maupun illegal.

Kami menikmati makan malam di dalam rumah. Di dalam rumah kami serasa merasakan gempa. Rumah itu bergoyang, tapi bukan karena gempa pastinya melainkan karena rumah teman kami itu kan di atas laut, jadi ketika angin laut kencang maka rumah dibuatnya terayun-ayun.

@ @ @
Pagi begitu cepat berlalu, saat menikmati secangkir teh hangat sembari melihat indahnya suasana pagi di Dusun Nio tuan rumah berkata “Kayak di resort ya” Entah menyindir orang yang sedang terpesona ini hingga tak mau melakukan apa-apa kecuali duduk saja dan sibuk dengan pikiran yang sedang dibangunnya atau entah benar seperti itulah sesungguhnya, aku hanya tersenyum dalam, merespon kata-kata itu dan kemudian tak lupa berucap “Aok (iya)”

Akhirnya kami harus pulang. Kami menaiki boat yang memang dikhususkan untuk penumpang, lebih besar dari boat pancung. Boat dengan tempat duduk tanpa sandaran itu membawa aku kembali ke Moro dengan kepuasan hati menyaksikan keagungan Nya di atas semesta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s