Ingat Mengingatkan

Orang-orang boleh melupa, sebentar melupakan. Langkah, detik, menit, jam, hari. Tandas ia di minggu, hilang ia di bulan, hapus ia di tahun. Orang-orang boleh lupa tapi tak begitu dengan yang ditinggalkan. Hari-hari adalah untaian ingatan, memori keabadian yang tak lekang, kanvas kenangan yang tak terlukis, tak terkalam.

Karenanya saling mengingatkan dalam keimanan dan kesabaran itu sangat diperlukan. Tak semua orang tabah menerima cobaan, tak semua orang punya kebertahanan, meski semuanya tahu kalau itu adalah ujian. Saling mengingatkan akan keimanan dan kesabaran adalah titik yang menguatkan. Bagaimana mengkondisikan hati dengan kepahaman akan kalimat “semuanya dari Allah, dan kembali pada Allah”. saling mengingatkan yang tak hanya keluar dari lisan yang ahsan, tapi juga harus dari tindakan.

Kehilangan, musibah, sangat menguji keimanan dan kesabaran. Bahagia ketika nikmat datang tapi tak ada yang bahagia ketika ia hilang; naluriah, alamiah, dan hal yang manusia sekali. Pun, sang nabi menitikan air mata saat “kehilangan” pendamping terbaik diantara puan. Maka disini, dalam hal ini keikhlasanlah yang menjadi tuntutan. Keikhlasan, bukan tuntutan untuk melupakan, tapi nasehat agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Keikhlasan, kesadaraan utuh menyeluruh terhadap ketetapan yang berlaku di atas kehidupan. Keikhlasan, bukan melupakan, tapi tenang dalam kesabaran. Keikhlasan yang sebenarnya tauhidlah yang jadi landasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s