Kita, Karunia Allah yang terlupa

Setiap manusia lahir dengan membawa kemampuan dasar dan bakat tertentu dalam dirinya. Lahir dengan keunikan dan keistimewaan tertentu yang menjadi pembeda antaranya dengan sesamanya. Bayangkan saja sebelum lahir ia telah melewati fase-fase tertentu untuk perwujudan eksistensinya, betapa hebatnya.

Kemampuan, bakat, keunikan serta keistimewaan itu ketika lahir, tampak, berkembang dan terasah jika bertemu dengan daya dukung yang memadai. Daya dukung ini bisa jadi dari keluarga, khususnya orang tua. Orang tua yang melihat tanda-tanda khusus dari anak dan mengarahkannya untuk pengembangan bakat itu, akan dapat memberdayagunakan potensi yang dimilki anaknya dari dini secara maksimal, hingga bisa melejit secara luar biasa.

Alam juga mendidik dan melatih bakat yang dimiliki manusia, hasil didikan alam begitu biasa disebut (hm mendengar istilahnya saja keren dan membuat bangga). Daerah perairan misalnya, meski tak selamanya, tapi menjadikan masyarakatnya setidak-tidaknya pandai dalam berenang, diantara yang pandai akan ada yang lebih mahir karena faktor kebertahanannya. Dan jika saja bisa mengarahkannya pasti akan menjadi luar biasa.

Ada lagi bakat dan kemampuan tersebut baru terkuak keberadaanya ketika ia suatu saat bertemu dengan kesempatan. Kesempatan yang membawanya pada sebuah kesadaran “oh, ternyata saya berbakat di bidang ini, atau owh inilah bakat dan kemampuan saya yang sebenarnya” kesempatan yang bisa saja tak sengaja menemuinya, misalnya dalam sebuah acara yang mengharuskan seseorang untuk menulis, ketika diminta menulis meskipun kacau barangkali awalnya tapi tanda-tanda keistimewaan itu telah nampak dari penuturan, gaya bahasa, diksi, serta ide-idenya.

Kemudian ada yang diperoleh melalui proses-proses latihan yang ‘disengaja’, memang ini juga tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh bakat bawaan, tapi bisa dilejitkan. Ada orang yang biaa mengerjakan sesuatu didahului oleh pelatihan-pelatihan dulunya. Perancang busana misalnya, memperoleh kepiawaiannya lewat latihan-latihan yang diikutinya, eksplorasi, hasil uji-uji coba. Kemampuannya terasah karena kemauan, keuletan, dan kerja kerasnya.

Pertanyaannya sekarang adalah adakah kita telah menemukan kemampuan, bakat, keistimewaan, serta keunikan itu di dalam diri kita? Untuk membentuk akan jadi apa kita, untuk menentukan apa yang mestinya kita lakukan dengan apa yang kita punya itu. Lalu bagaimana menemukannya? Pertanyaan yang cukup rumit untuk dijawab tapi mudah saja caranya. Lakukanlah apa saja yang harus kita lakukan, jangan pikirkan apa yang kita bisa dan apa yang kita tidak bisa, tapi lcoba lakukan saja, kemudian dimana yang kuat dan cenderung kita di dalamnya barangkali itulah kemampuan kita.

Karenanya perlahan kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa setiap kita punya kemampuan untuk berkarya dan mencipta. Kemampuan, bakat, keunikan, keistimewaan telah Allah beri untuk kita, sejak kita dicipta. Soalannya, ya itu tadi. Apakah kita sudah menemukannya atau tidak. Apakah kita sudah memeberdayakannya atau belum, apakah kita mau atau enggan.

Sungguh jika kita berpikir kembali tak ada yang tidak memiliki kemampuan, bakat, dan keistimewaan. Yang terjadi hanyalah lupa akan karunia Allah yang satu ini. Secara pribadi saya baru menyadari hal-hal seperti ini sekarang, kesadaran yang mungkin agak terlambat tapi saya masih ingin belajar. Mencari di titik-titik mana agaknya hal tersebut di dalam diri. Wallahu ‘alam..November 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s