Kutipan Berkelas

Rasanya begitu berkelas ketika mengutip pendapat orang-orang besar yang berpengaruh di dunia, memakai istilah-istilah asing yang tak familiar dan terkesan ilmiah. Ditambah lagi dengan penekanan-penekanan sedemikian rupa, dilengkapi dengan data-data, fakta-fakta yang berhasil dirangkum dari sejumlah media. Meskipun sumber data itu belum lagi layak uji soal kevalidannya dalam menyajikan data, sebab yang mengerjakannya tak lain dari ‘amatiran’ yang asal memenuhi kewajiban kerja.

Rasanya begitu berkelas, terkesan pintar dan terkesan banyak membaca apa saja. Ditambah lagi jika sedikit pandai berargumen, menggunakan bahasa yang tak membumi lantas memolesnya dengan retorika yang tak kalah memikatnya, semakin mengesankanlah nampaknya. Orang-orang silau dan terkesima dibuatnya, bagai menemukan sesuatu berharga yang selama ini terpendam. Ramai-ramai orang membicarakan dan mengelu-elukan, jadilah tokoh sesaat di panggung mana saja. Disorot segala tindak-tanduknya dan dikutip segala yang diucapkannya.

Padahal yang dikerjakannya hanyalah mengutip sana-sini kata-kata, yang mirisnya bukan karya asli melainkan hanya kutipan yang tertera dalam halaman di mana-mana saja tapi bergaya dengan mengatakan “Enstein, dalam out my later years” padahal itu dikutip dari sebuah majalah, lantas merunutkannya dengan pandangan ahli-ahli lain, filosofi-filosofi para filusuf dan sedikit menyimpulkan dengan bahasa dan pemikiran sendiri, kemudian berakhir dengan tepuk tangan yang meriah.

Itulah cerminan kita akhir-akhir ini, menjadikan buah pikir orang lain menjadi komoditas pencitraan diri. Boleh saja sebenarnya mengutip apa saja yang rasanya dapat mendukung pendapat-pendapat kita atau membantu kita dalam mengungkapkan sesuatu, sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan itu juga pernah ada dulunya, namun jangan sampai menjadikannya sebuah kemestian yang harus setiap saat kita kutip dengan cara mengada-ada. Padahal diri sendiri mungkin tak mengerti apa maksudnya.

Sesekali cobalah memakai bahasa sendiri, dengan pengetahuan yang kita punya meskipun apa adanya. Mengutip pendapat harus juga, tapi dalam kapasitas yang tidak terlalu kentara, karena memang pada dasarnya kita tidak sedang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru melainkan membuat sesuatu yang lama menjadi baru; kreasi, dan modifikasi. Tinggal menemukan karakter atau pencirian saja pada akhirnya.

Lantas bagai mana dengan istilah-istilah? Istilah-istilah sejatinya dipakai untuk menunjukan khazanah bahasa yang ada, mencoba membuat sesuatu yang ‘renyah’ untuk menemukan estetikanya hanya saja bedanya adalah tempat dalam memakainya, dan kuantitas pemakaiannya. Jangan sampai misalnya mengungkapkan sesuatu yang jumlahnya ada sepuluh kata, yang kesepuluh dari kata-kata itu semuanya istilah. Siapalah yang dapat mengerti? Mungkin orang yang membuatnya sendiri bingung dengan makna kata-katanya sendiri. Dan janganlah istilah yang lebih menonjol dari apa yang ingin disampaikan sebenarnya. april 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s