Ramadhan 2 Sisi

Allah selalu memberikan keistimewaan di antara waktu-waktu yang disediakan Nya. Waktu itu mulai dari jam, hari, bulan atau waktu yang dikarenakan oleh suatu kondisi seperti di saat hujan; salah satu waktu diijabahnya doa. Waktu-waktu itu ada pada jam-jam di pertiga malam Nya, saat ketenangan meliputi langit dunia, saat Allah berjanji mengabulkan pinta, mendengarkan yang beristighfar, dan melihat hamba-hamba yang membangun kedekatan dengan Nya. Ada juga hari yang diberkati karena ibadah yang dilaksanakan khusus pada waktu itu, hari jumat. Bulan yang dimuliakan, yang hanya ada satu kali dalam hitungan satu tahun, bulan ramadhan yang sedang kita jalani ini.

Bulan ramadhan, hitungan bulan kesembilan pada tahun hijriyah, merupakan bulan yang memilki kekhususan diantaranya wajibnya umat islam melaksanakan puasa selama satu bulan, disertai dengan kewajiban membayar zakat fitrah bagi tiap-tiap jiwa. Bulan dihidupkannnya amalan sunnah yang hanya ada pada malam-malam di bulan ini, shalat tarwih. Adanya satu malam yang terbaik dari malam-malam yaitu lailatul qadar. Tiadalah yang akan mendapatinya kecuali bagi orang-orang yang benar-benar menghadap Nya. Juga tiada yang tau pasti kedatangannya melainkan dari perkataan Rasulullah yang memberikan petunjuk bahwa malam itu terletak pada malam ganjil di hari-hari terakhir ramadhan.

Allah mengistimewakan bulan ini dengan janji-janji yang tiada akan pernah mengecewakan. Janji-janji yang dinanti-nantikan orang berilmu. Janji untuk melipat gandakan ganjaran kebaikan atas amal-amal kebajikan yang dikerjakan. Serta janji yang berlutut kita berharap akan diampunkan Nya kealpaan yang telah kita lakukan.
Karena janji-janji itu saudaraku, maka mari kita usahakan mengikhlaskan amalan-amalan, yang semoga dengan melihat kesungguhan itu Allah limpahkan berkah hidup pada kita. Mari memperkuat amalan-amalan sunnah sebagai penggenap amalan-amalan wajib yang sangat mungkin terlalaikan. Mari kondisikan hati untuk selalu berharap dan terus berharap, agar kesambungan kita pada Nya menjadi kuat, sebab harapan itu adalah tali yang akan selalu menyambungkan hamba dengan Rabb nya.

Namun satu hal yang harus jadi catatan dan ingatan di jiwa kita, dan ini yang harus kita jaga jangan sampai pada akhirnya ketika ramadhan berlalu, kita tidak mendapatkan apa-apa, hanya kepenatan-kepenatan raga karena lapar dan dahaga, keletihan fisik karena rukuk sujud yang hampa. Jangan sampai ramadhan berlalu meninggalkan kita, kita tidak mendapatkan apa-apa, dikarenakan tidak terampuninya kealpaan kita.

Allah memang mengampuni saat sang hamba bertaubat pada Nya, tapi di bulan ini dijanjikan Nya secara khusus, karenanya ramdahan itu juga disebut sebagai bulan maghfirah, pengampunan. Jika di bulan yang dijanjikan Nya ini kealpaan kita tak terampuni bukan karena Allah tak menepati janji Nya, tidak sama sekali. Bukan Allah yang tak mau mengampuni kita, tapi karena kitalah yang tak punya kepantasan untuk diampuni, inilah yang harus kembali jadi renungan kita.

Bagi kita manusia, yang sering salah dan lupa, kealpaan kita sungguh tak terhitung banyaknya. Bahkan ketika mati bersyukur alam dan isinya atas kematian kita karena tak akan ada lagi yang menyakiti mereka sebab sesungguhnya alam beserta isinya ini tersakiti karena kesalahan-kesalahan manusia. Bagi kita manusia manakah yang lebih banyak saat ingat atau saat lupa. Lalu kalau kita tak punya kepantasan untuk diampuni, bagaimana nasib kita????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s