Gadis Cilik Bermata Cerdas

Dari matanya terpancar jernih kecerdasan, dari caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan ku maka bias kecerdasan itu betul-betul dapat ku tangkap. Hanya saja proses hidup berbeda yang harus dilaluinya dari kebanyakan orang yang membuatnya seperti yang kutemui sekarang.

Gadis cilik bermata cerdas, begitu aku menyimpulkan pertemuan dengannya di dalam hati. Pertemuan tak sengaja tapi telah ditakdirkan Allah terjadinya. Dengan kerudung yang diikatkan sekenanya ke kepala membuat poni lurus yang hampir menyentuh alis matanya itu tampak seperti renda. Berpakaian seadanya, celana panjang, atasan kaus lengan panjang, beralaskan sandal jepit karet. Tangan kirinya memegangi karung, dan tangan kanannya asyik memilah-milah botol-botol kemasan minuman di bak sampah. Tapi sungguh, sama sekali tak terdapat tanda-tanda yang menunjukan peran yang dilakoninya itu ada pada nya.

Aku melihatnya dari tempat aku duduk, di pelataran masjid agung nan megah, masjid agung An-nur, Pekan Baru. Masjid tempat transitnya orang-orang dengan perjalanan jauh, tak punya tempat untuk menuju, tengah malam, dini hari, tempat terpilih dari ketidak amanan menggelandang di jalan, riskan! Aku memandanginya, sesekali melengah dan pura-pura melihat yang lain sewaktu pandangan kami beradu. Aku tak ingin gadis cilik ini tau bahwa sedari tadi aku memerhatikannya, terus memerhatikannya.

Lalu dia duduk di dekat ku. Hanya diam, barang kali hanya melepas lelah. Tanpa ragu lagi aku menyapanya, dan bertanya. Melihat sorot matanya, caranya menyimak dan menjawab petanyaan-pertanyaanku, serta feedback lugas darinya, “cerdas” begitu kata hati ku.

Gadis cilik, 10 tahun. Lagi-lagi proses hidup berbeda yang harus dijalani membuatnya harus turut ikut serta memikul hidup keluarga, tanpa tawar baginya untuk mengenyam pendidikan di bangku-bangku sekolah. Bagaimanakah, seusia itu terpakasa harus memahami keadaan orang tua dan keluarga. Bagaimanakah caranya menerima, di jam-jam saat anak-anak lain sebaya belajar, duduk, bergembira, membuka lembar demi lembar kertas penuh berisi aksara, angka-angka, gambar dan warna di sekolah, sedang dia apa? Harus berkeliaran di jalan-jalan besar dengan peran yang harus dijalaninya.

Bagaimanakah ini, seterbatasnya keadaan kita, kita masih dapat bersekolah.
Gadis cilik bermata cerdas, ada sekian lagi anak-anak di belakangnya. Bagaimanakah, apa peranan kita. Kita merasa telah menjamin dan menyediakan pendidikan dengan program-program yang ada. Tapi realisasinya kurang menyentuh pada hal-hal seperti ini. Tanpa dalih apa-apa marilah coba menjadikan hal-hal seperti ini “PR” masing-masing kita.

2 thoughts on “Gadis Cilik Bermata Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s