Usai Subuh

Sungguh selalu ada keutamaan dan keistimewaan di tiap-tiap waktu. Waktu itu apakah pergantiannya siang, malam, pagi ataupun hari-harinya, senin, selasa, rabu, dst. Keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya hadir dan bergulir sampai ke akhir di titik pergantiannya. Keutamaan malam; sepertiga malam akan berakhir menjelang fajar, keutamaan fajar (subuh) akan berakhir ketika matahari terbit, keutamaan siang berakhir saat hari merambat petang. Begitupun dengan hari-harinya. Hari senin, waktunya disunnahkan untuk berpuasa, waktu dimana amalan kita diangkat oleh malaikat untuk dilaporkan kepada Allah. Keutamaan senin itu berakhir ketika hari menunjukan pergantiannya. Pun kamis, sama dengan senin saat kita disunnahkan puasa, saat malaikat juga melaporkan amalan kita kepada Allah, dan waktu (di paginya) yang rasulullah pilih jika beliau melakukan safar. Lalu masuk ke jumat yang penuh dengan keutamaan, lalu akhir pekan dan begitu seterusnya.

Karenanya kita dituntun untuk memerhatikan waktu-waktu tersebut agar segala keutamaan yang ada pada masing-masingnya dapat kita peroleh. Agar keutamaan dan keistimewaan itu menjadi penggenap dan penambah amalan kita yang sering kali rumpang, baik karena kelalaian yang sering kali kita lakukan secara sadar dan dalam keadaan tidak beruzur apa-apa, ditambah lagi sempat-sempatnya riya beserta saudaranya, sombong dalam hati bersemayam di dalam dada. Tentu saja diantara kita banyak yang telah memerhatikan waktu-waktu berserta keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya, khususnya waktu di sepertiga malam, akan tetapi mungkin ada yang terlupa untuk memerhatikan waktu-waktu setelahnya, yaitu waktu rukuk dan sujud saat subuh telah digelar. Ada apa dengan waktu itu dan apa kah kiranya yang sering kita lakukan.

Seusai subuh merupakan rentang waktu yang kita miliki menjelang beraktivitas; sekolah, kuliah, ataupun bekerja. Adalah jeda yang kita punya sebelum segala sesuatunya kita lakasanakan. Rentang waktu itulah yang sering kali menggoda kita untuk bersegera tidur kembali seusai medirikan shalat subuh. Jeda itulah membuat kita bermalas-malasan, di pembaringan saja walaupun terkadang bukan lagi kantuk yang jadi alasan, bukan lagi suasana dan sejuknya udara sebagai faktor pendukungnya, tapi karena telah jadi kebiasaan dan makanya terbiasakan.

Usai subuh, meskipun tak ada larangan yang mengikat secara hukum yang mengatur kita agar jangan tidur kembali tapi begitu rasul kita meneladankan dan menganjurkan. Sebab ada berkah pada awal pagi, berkah yang rasul doakan untuk kita “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka” (Hr. Tirmizi, Abu Daud). Bagaimana kita akan mendapatkan keberkahan pada waktu ini jika kita tidur? Doa yang rasul mendoakan keberkahan bagi kita, yang doa siapa lagi yang lebih baik dari doa beliau.

Di waktu inilah kita dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah, yang keutamaannya lebih baik dari memerdekakan 4 orang budak. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengatakan bahwasanya ‘Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari usai sholat subuh hingga terbit matahari, lebih aku sukai ketimbang memerdekakan 4 budak keturunan Ismail (HR Abu Daud)’. Saking utamanya waktu ini sehingga beliau lebih menyukainya dibanding dengan memerdekakan empat budak, yang bukankah memerdekan budak adalah amalan yang tak juga tak sedikit ganjarannya.

Usai subuh juga (awal pagi) Allah membagi-bagikan rezki pada setiap hamba Nya. Ibnu Qayyim menukil kata-kata Ibnu Abbas bahwasannya dia melihat anaknya tidur di waktu pagi maka ia berkata kepada anaknya ‘bangunlah engkau! Apakah kamu akan tidur sementara waktu pagi adalah waktu pembagian rezki? Bukankah begitu yang sudah sama-sama kita ketahui, yang dulu orang tua kita sering bernyinyir-nyinyir dengan mengatakan “rezki sudah di patok ayam” jika kita tak juga bangun-bangun padahal sudah dibangunkan berkali-kali dan matahari telah terbit.

Dibalik apa yang telah dianjurkan tersebut, secara logika kita, bahwa usai subuh adalah saat untuk mengisinya dengan ibadah yang mungkin kita tidak bisa menjamin akan mampu melakukannya nanti di siang, karena padatnya aktivitas-aktivitas kita, seperti dzikir pagi (tentu saja tak bisa dilakukan siang, namanya saja sudah dzikir pagi), menghafal ataupun mengulang-ulang hafalan quran, kemudian membaca alqur’an yang ketenangan dalam menghafal dan membacanya mungkin sulit dihadirkan dan tak kita dapatkan ketika siang.

Dan bahwasanya di waktu awal pagi lah kita lebih dapat besinergi dengan alam, udara yang bersih, segar, gurat-gurat fajar yang indah di pandang, dedaun yang mengembun, kabut yang mulai ‘berjalan’, langit yang mulai memberi rona di muka laut mempengaruhi keindahan laut, riak-riak kecilnya yang bermain di sepanjang tepian..yang seharusnya dengan hal-hal tersebut menjadikan kita bisa mensyukuri setiap apa yang masih diberikan Nya untuk kita. Pun, kita bisa mengambil beberapa jeda awal pagi itu untuk mematrikan pada hati tentang apa yang sudah kita rencanakan dan harus kita lakukan seharian itu, juga tentang capaian yang kita inginkan hari itu. Intinya kita yang membentuk keadaan itu dulu sebelum kita benar-benar bertemu dengan keadaannya.

Lalu terpikirkah oleh kita tentang tergopoh-gopohnya pagi kita dan kacaunya kita memulai aktivitas kita? Bukankah itu karena apa yang kita lakukan setelah shalat subuh tersebut? Ya , tidur. Tidur yang membuat kita terlambat mempersiapakan apa yang seharusnya kita persiapkan, ini yang ketinggalan, itu yang ketinggalan. Tidur yang membuat kita beradu urat leher dengan orang-orang di rumah gara-gara harus berebutan giliran bersih-bersih, mandi dan akhirnya ‘musuhan’ sampai siang. Lalu di luaran yang apa saja bisa jadi masalah bagi kita, terburu-buru dan berpacu dengan orang-orang menuju ke tempat yang kita tuju, naik kendaraan bermasalah, di jalanpun bermasalah, membuat buruknya awal hari. Karenanya dapat kita tangkap bahwa waktu di awal pagi adalah cerminan hari kita seharian itu, kalau kita sudah mengawali pagi dengan tidak baik, maka siangnya pun ‘dicurigai’ bakalan terbawa-bawa seperti itu.

Ya seusai subuh, jika kita selalu merenungkan keutamaannya maka ada yang tak ingin kita lewatkan saat itu. Tak akan kita memilih berada di pembaringan itu. Sebagai mana Rumi dengan bait puisinya

Angin siliran di kala fajar akan menyampaikan rahasia untuk mu

janganlah kembali tidur

Mintalah apa yang sungguh-sungguh engkau dambakan

Janganlah kembali tidur

Orang-orang pergi dan kembali melalui ambang pintu – Tempat dua dunia bersentuhan

Pintu itu terbuka lebar

Jangan kembali tidur

Pun, kalau memang karena keterpaksaan lantaran ada hal-hal yang menjadikan raga kita tak kuat untuk ‘berdiri’, apakah itu pekerjaan yang harus kita kejar penyelesaiaanya sampai berlarut-larut malam atau memang di waktu itulah kita lebih bisa mengerjakannya, tapi usahakanlah menunggu dulu, tunggu setelah matahari terbit. Wallahu a’lam

2 thoughts on “Usai Subuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s